Kawiwahan dalam Sejarah  Budaya Jawa : Doa Pengharapan Keabadian Nikah

Harapan akan keabadian pernikahan (kawiwahan) tersebut dalam prosesi pernikahan Jawa disimbolkan dengan menginjak telor (midak wiji dadi). Menggambarkan bahwa ikar untuk menikah adalah deklarasi dari sepasang pengantin bahwa niat tulusnya untuk membangun kehidupan bersama merupakan penyataan final. Yang diharapkan tidak terbatalkan. Seperti pecahnya telor yang tak mungkin untuk kembali diutuhkan.

Oleh : M. Dwi Cahyono*

Terakota.id–Salah sebuah diantara tiga prasasti pendek (sort inscription) asal Desa Gerbo (konon dinamai ‘Supiturang’ di lereng selatan Gunung Semeru), yang teksnya pernah dibaca oleh J.L, Brandes, memuat kalimat ‘tulusamulu saden kadi botingakasa lawan pratiwi sorga kabhuktiha’ (Knebel, 1902: 342-343). Kalimat pada prasasti itu mirip dengan yang terdapat dalam prasasti pendek asal Pasrujambe (dekat Senduro pada lerang sisi selatan Gunung Semeru), yang menurut pembacaan M. M. Soekarto K. Atmodjo (1990:16-17) berbunyi ‘iki pangestu yang mami, guru-guru yen arabi den kadi boting ngakasa lawan pretiwi papa kabuthi’.

Pokok pesan terkandung dalam dua prasasti yang meski terpisah asal lokasinya itu, yakni dari Gerbo dan Pastrujambe. Walau sama-sama pada lereng selatan Gunung Semeru, adalah mengenai pengharapan atau semacam ‘pesan’ bagi yang melalukukan pernikahan (rabi). Yakni sama bersungguh-sungguhnya, sama berat atau bobot (bot)-nya, yang diibaratkan sebagai sebagaimana beratnya (kadi boting) angkasa (akasa, ngakasa) dan bumi (pratiwi, pretiwi)’.

Perihal ‘sama beratnya’ itu. dalam prosesi pengantin Jawa tergambarkan pada sesi dimana orang tua pengantin wanita memangku secara bergantian kedua mempelai (pangkon), dan diakhiri dengan pernyataan bahwa ‘keduanya sama beratnya (podo abote)’. Dalam pengibaratan prasasti itu, pengantin pria disimbolkan sebagai angkasa (akasa), sementara pengantin perempuan dilambangkan sebagai bumi (pratiwi).

Yang menarik juga untuk dicermati adalah bahwa lokasi asal dari prasasti Gerbo itu adalah kemungkinan bahwa tempat inilah yang didatangi oleh rombongan calon pengantin. Yakni Ken Candrasari putri Aryya Singhasari yang ditunangkan (dijodohkan) dengan Jaran Warida putra dari pendeta sepuh di Kagenangan. Jauh-jauh rombongan calon pengantin ini berangkat dari Singhasari ke lerang selatan Gunung Semeru guna memperoleh restu nikah dari rokhaniawan.

Keberadaan prasasti Gerbo yang berisi nasihat nikah’ menjadi petunjuk bahwasanya situs Gerbo merupakan mandala yang penting – sangat mungkin adalah satu diantara caturbasmamanada yang diberitakan di dalam susastra Kakawin Nagarakretahama (pupuh 78), yakni Mandala Kukub (Hadi Sidomulyo (2014). Menurut kitab Tantupanggelaran merupakan salah satu mandala tertua di Jawa. Utamanya bagi pihak yang hendak melangsukan pernkahan.

Hal ini mengingatkan kepada legalitas nikah dari pengulu (kadi) di masa sekarang, sebagai petugas resmi dari Kantor Urusan Agama (KUA). Salah satu hal penting dalam akad nikah dalam tradisi Islam adalah ‘khotbah nikah’, yang di dalamnya juga berisikan nasihat-nasihat nikah.

Kesungguhan menjadi pesan yang ditekankan selain pengharapan akan ‘keabadian pernikahan’, yakni hingga akhir hayat.  Yang acap diibaratkan sebagai senantiasa berpasangan seperti binatang air ‘mimi lan mintuno’, atau hingga memasuki usia kakek-kakek dan nenek-nenek-nenak (kaken-kaken lan ninen-ninen).

Harapan akan keabadian pernikahan (kawiwahan) tersebut dalam prosesi pernikahan Jawa disimbolkan dengan menginjak telor (midak wiji dadi). Menggambarkan bahwa ikar untuk menikah adalah deklarasi dari sepasang pengantin bahwa niat tulusnya untuk membangun kehidupan bersama merupakan penyataan final. Yang diharapkan tidak terbatalkan. Seperti pecahnya telur yang tak mungkin untuk kembali diutuhkan.

Simbolisasi ini sama makna dengan sesi mbanting hanlu (membanting telor) pada batu lumping (kalimpang) dalam upacara penetapan sima (desa atau tanah perdikan). Bahwa keputusan untuk ‘mengubah status’-nya dari desa bisa menjadi desa perdikan (swarantra) adalah keputusan final, yang diberlakukan secara generatif. Pada dasarnya, pernikahan (kawiwahan) sama dengan penetapan sima, yakni alih status, dari status ‘lajang (single)’ menjadi ‘berkeluarga (hidup bersama)’, dari ‘desa biasa’ menjadi ‘desa perdikan’.

Dua anak manusia yang telah berikrar nikah tersebut diharapkan bersatu hati (sakinah), tidak lagi tergoda untuk menoleh ke kanan atau kiri, sebagaimana tergambarkan pada kalimat “ora mayang mentoleh’. Tidak seperti bunga mayang di pucuk pohon kelapa yang tatkala terkena tiupan angin mengangguk-angguk (mentul) dan bergerak ke kanan-kiri (noleh).

Oleh sebab itu, unsur aksesoris yang acapkali dihadirkan dalam perhetan nikah unsur flora berupa bunga mayang. Bahkan, sesi penting pada jumpa pengantin (panggih) digambarkan sebagai membawa dan mempertukaran ‘kembar mayang’.

Tersirat pula bahwa tahapan hidup yang kedua, yang berupa memasuki fase kehidupan berumah tangga (grehatasrama). Salah satu diantara empat lapisan hidup manusia (catursrama) menurut konsepsi Hindu. Diharapkan menjadi momentum penting dalam alih fase hidup dan selama menjalani fase ini mampu mengarungi tuntas di dalam bingkai kesatuan tekad untuk selamanya hidup bersama.

Kelaupun tak terelakkan terjadi perpisahan, maka ‘cerai mati’ yang terjadi bukannya ‘cerai hidup.’ Demikianlah gambaran simbolis mengenai pengharapan akan kehidupan ideal bagi ‘mahligai’ yang berupa perikahan (kawiwahan, rumah tangga).

Semoga gambaran terpapar diatas terjadi pada kawiwahan Kahiyang Ayu Jokowi dengan Bobby Afif Nasution, suatu pernikahan bernuansa Nusantara yang lintas etik ‘Jawa-Batak’.  Yang pada hari Rabu, 8 November 2017.  Sebuah doa pengharapan yang dipanjatkan oleh banyak pihak dan semoga terkabulkan (papa kebukthiha). Semoga pula terkabul bagi siapapan yang bertekad melangksungkan pernikahan atau berkeluarga. Amin.

Sengkaling, 8 November 2017

PATEMBAYAN CITRALEKH

*Arkeolog dan dosen sejarah Universitas Negeri Malang 

Tinggalkan Pesan