Kartini sebagai Simbol Literasi

Terakota.id-Presiden Sukarno menetapkan RA. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 tahun 1964 pada 2 Mei 1964. Menetapkan kelahiran Kartini, 21 April sebagai hari besar nasional yang kemudian diperingati sebagai Hari Kartini.

Peringatan Hari Kartini diharapkan semua orang bisa menyerap perjuangan. Tidak hanya secara nasional, melainkan juga internasional. Banyak literatur tentang perjuangannya yang dihubungkan dengan emansipasi perempuan, pendidikan untuk kaum perempuan, dan pendidikan bumiputera.

Namun sebenarnya sosok Kartini banyak menyimpan keteladanan yang lebih luas lagi. Saya pernah menulisnya sebagai sosok jurnalis di salah satu media massa karena laporan jurnalistiknya tentang kerajinan dan seni Kota Jepara untuk dikirim dan diterbitkan di koran di Belanda.

Penggalian sosok Kartini mungkin akan lebih dalam lagi. Tulisan kali ini menggambarkan Kartini sebenarnya adalah simbol literasi.

Literasi dan Gerakan Literasi Nasional

Memahami apa itu literasi saat ini menjadi sangat luas seiring dengan kemajuan tehnologi. Namun pada dasarnya literasi berbicara soal kemampuan seseorang. Pada awalnya literasi dipahami sebagai kemapuan membaca dan menulis. Hal in tidak terlepas dari teknologi informasi komunikasi saat itu berupa cetakan.

Kita bisa juga menggunakan pengertian literasi yang luas seperti dikatakan oleh Elizabetg Sulzby (1986) yang mengatakan bahwa literasi adalah kemampuan berbahasa seseorang untuk berkomunikasi. Berdasarkan definisi Sulzby bisa kembangkan lebih jauh bahwa literasi mencakup kemampuan membaca, menulis, hingga menyerap dan memproduksi konten-konten digital di era kini.

Menyadari pentingnya literasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2016 mencanangkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Tentu bukan hanya sejak 2016 literasi mendapat perhatian. Pada 2015 Ditjen PAUD Dikmas menggerakan literasi keluarga dalam rangka meningkatkan minat baca anak. Begitupula pada 2012 Ditjen PAUD Pendidikan Masyarakat mendapatkan penghargaan dari UNESCO atas pencapaian program pemberantasan buta aksara pada anak-anak usia dini.

Gerakan Literasi Nasional (GLN) 2016 dicanangkan serentak di berbagai kelompok usia dan kelompok masyarakat. Mengutip lebih lanjut dari laman GLN Kemendikbud menyebutkan bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah untuk meningkatkan daya baca siswa dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menggerakkan literasi bangsa dengan menerbitkan buku-buku pendukung bagi siswa yang berbasis pada kearifan lokal. Pada 2017 Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) menggagas Gerakan Satu Guru Satu Buku untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja guru dalam pembelajaran baca dan tulis.

Kartini dan adik-adiknya, Roekmini, Kartinah, dan Soemarti berfoto bersama para murid di Jepara, Jawa Tengah (abad IX-X.X). (Foto: Dok. Shelfmark KITLV)

Buku Pedoman Evaluasi dan Penilaian GLN menjelaskan Gerakan Literasi Nasional merupakan sebuah usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan pada abad ke-21. Melalui keterlibatan dan partisipasi seluruh warga negara Indonesia.

Gerakan Literasi Nasional mengembangkan enam jenis literasi yang dibutuhkan untuk hidup pada abad ke-21. Keenam jenis literasi itu adalah literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi kewargaan. Sebagai sebuah gerakan, keenam jenis literasi ini dikembangkan melalui tiga ranah. Meliputi keluarga (Gerakan Literasi Keluarga), sekolah (Gerakan Literasi Sekolah), dan masyarakat (Gerakan Literasi Masyarakat).

Seperti apa pentingnya literasi? Kita akan lihat hasilnya dalam sosok Kartini.

Kartini dan Literasi

Kartini dikenal karena pemikiran-pemikirannya yang luar biasa pada masanya. Indonesia menyadari hal itu sejak surat Kartini dipublikasikan oleh para sahabatnya dari negeri Belanda. Tidak main-main, kumpulan surat telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa (Inggris, Belanda, Arab, Indonesia, dan Jawa). Sayang itu terjadi setelah Kartini tiada.

Sahabat-sahabatnya di Belanda dan Eropa yang menyadarinya setelah membaca pemikiran melalui surat pribadi kepada para sahabat. Serta melalui tulisan Kartini di surat kabar De Locomotief. Tulisannya banyak menyoal pentingnya pendidikan bagi pemuda bumiputra, khususnya wanita bumiputera. Bagaimana bisa pemikiran Kartini begitu dalam dan menginspirasi? Tidak terlepas dari tingkat literasi Kartini.

Sangat bersyukur era itu Kartini lahir sebagai keluarga priyayi yang memberikan keleluasaan akses pada sumber-sumber informasi. Ia memiliki akses membaca berbagai buku dan surat kabar luar negeri. Beberapa biografi menjelaskan Kartini membaca buku Max Hevelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli dan beberapa buku berbahasa belanda karya Van Eeden, Goekoop de_Jong Van Beek dan membaca roman anti perang Die Waffen Neider karya Berta Von Suttner.

Stella Zeehandelaar, Abendanon, H. H. van Kol dan istrinya – sahabat yang banyak menerima surat-surat Kartini karena interaksi di Majalah De Hollandsche Lilie. Hal ini menunjukkan kemampuannyamelahap majalah berbahasa Belanda itu.

Kemampuan berbahasa, akses terhadap buku dan surat kabar serta majalah Eropa telah membuka pemikiran dan sikap akan kemajuan sebuah bangsa. Sebagai warga negara Indonesia saat itu Kartini gelisah melihat ketertinggalan kaumnya, kaum perempuan dan juga pemuda bumiputera.

Ia melihat pendidikan dan kesempatan mengenyam pengalaman bergaul dengan Eropa sebagai salah satu memajukan negara. Kartini merengek pada ayahnya untuk diberi kesempatan sekolah di Belanda. Meski akhirnya ia menyerahkan beasiswa sekolah ke Belanda kepada pemuda Agus Salim (yang kelak menjadi Pahlawan Nasional) karena lebih memilih menjaga kehamonisan dalam tradisi keluarganya.

Kartini yang banyak mengakses buku-buku berkualitas dan surat kabar serta majalah eropa menjadi pribadi yang cerdas, berpikir kritis, dan bersikap pejuang. Bersama kedua saudaranya yang lain Kartini mengajar membaca dan menulis kepada perempuan sekitar tempat tinggalnya. Buah pemikiran kritisnya ditulis dalam bentuk surat kepada para sahabatnya di Eropa. Suatu cara menyiasati tradisi belenggu perempuan di negerinya.

Kini, pada era kebebasan akses sumber informasi, dan menyuarakan pemikiran yang luas karena kehadiran media digital, apakah para bumiputera dan khususnya para perempuan telah memanfaatkan dengan baik? Apakah kita seperti Kartini yang menyuarakan kegelisahan dan memperjuangkan sesuatu?

**Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis. Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek : Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini