Kartini Sang Seniman Rakyat

 

Terakota.id-Kartini menjadi suluh bagi bangsanya yang tengah dilingkupi gulita kolonialisme. Ia menyebut masyarakat pribumi kala itu sebagai rimba-belantara yang gelap gulita. Tata hidup feodalisme memerosokkan pada ceruk penjajahan yang teramat dalam. Dengan segala keterbatasannya, bersenjatakan pena dan tinta, ia bangkit melawan.

Kartini lahir pada 21 April 1879 di tengah-tengah keluarga bangsawan. Waktu itu, ayah Kartini, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, menjabat sebagai Asisten Wedana onderdistrik Mayong, Kabupaten Jepara. Meski tumbuh di lingkungan bangsawan yang feodal dan terpisah dari rakyat. Namun, kecintaan Kartini pada rakyat berkecambah di hatinya dan tak bisa dibendung.

“Disebut dengan rakyatku; dengannyalah dia akan berada buat selama-lamanya! Aku sangat bangga, Stella, disebut dengan satu nafas dengan Rakyatku,” tulis kartini dalam surat bertarikh 17 Mei 1902 kepada Estelle Zeehandelaar. Ia adalah seorang sahabat pena Kartini feminis sosialis  di Belanda.

Obor pemikiran Kartini memang diabadikan melalui surat-surat yang ia tuliskan. Mr. J.H. Abendanon, waktu itu bekas Direktur Departemen Pengajaran dan Ibadat Hindia Belanda menghimpun surat-surat Kartini. Himpunan tulisan Kartini diterbitkan pada 1911 dan mengalami cetakan ke-4 pada 1923. Himpunan tulisan itu dinamainya dengan judul Door Duisternis toot Licht, atau yang selama ini dikenal dengan sebutan: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kecintaan Kartini kepada rakyat kental mewarnai surat-suratnya. Dalam surat-surat itu, sebenarnya Kartini, meski tidak secara langsung sedang mengritik feodalisme dan kolonialisme. Hidup sebagai perempuan bangsawan Jawa yang harus hidup dipingit telah cukup membuatnya sengsara. Atasan-bawahan, sembah dan junjung, yang mewarnai tata feodalisme telah cukup membuatnya miris. Ditambah lagi dengan kolonialisme yang masih kuat-kuatnya.

Meski begitu, Kartini melihat kolonialisme lah sebenarnya yang lebih tidak beradab. Ia katakan dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902,  “Kami hanya bertanya; sekiranya seorang bocah melakukan kesalahan karena ketidaktahuaannya, dan seorang dewasa melakukan kesalahan yang sama dengan direncanakan sebelumnya, dengan perhitungan, siapakah diantara keduanya yang lebih bersalah? Kadang-kadang kami pun bertanya, kalau begitu: apakah artinya peradaban? Apakah dia tidak lain daripada hanya suatu…keunggulan belaka dalam….membohong?”

Kondisi Hindia-Belanda yang serba buruk itu, memberanikan Kartini untuk sesekali keluar dari Kabupaten dan bersinggungan dengan rakyat. Ia berjalan menghampir rumah-rumah rakyat dan berinteraksi dengan mereka. “Ada aku lihat begitu banyak keindahan pada Rakyat kami sendiri;……… . Kami mencari kesempatan sebanyak mungkin untuk berhubungan dengan rakyat dan apabila kami pergi sendirian, maka kami kunjungilah satu atau lebih di antara rumah-rumah rakyat itu. Mula-mula mereka menerima kami dengan canggungnya, tetapi sekarang telah biasa,” tutur Kartini dalam suratnya kepada E.C. Abendanon, 21 November 1902.

Rakyat pulalah yang menjadi kiblat Kartini dalam berkesenian. Pramoedya Ananta Toer dalam tulisannya “Panggil Aku Kartini Saja” menyatakan, “Kecintaannya pada seni rakyat bukan tinggal menjadi cinta platonic. Ia pun tampil dalam setiap kesempatan untuk memajukannya, untuk membelanya.” Kaitannya seni rakyat dengan pendidikan, Pram menegaskan Kartini berpikiran kalau pendidikan tanpa kesenian-seni rakyat, berarti pendidikan tanpa pembentukan watak.

Kartini mengamini bahwa mengarang juga merupakan bagian perjuangan dalam mewujudkan cita-cita rakyat. “Sebagai pengarang, aku akan bekerja secara besar-besaran untuk mewujudkan cita-citaku, serta bekerja untuk menaikkan derajat peradaban rakyat kami,”tulis Kartini dalam suratnya kepada Estella Zeehandelaar, 11 Oktober 1901. Sastra bagi Kartini bisa menjelma alat perjuangan. Karenanya, ia lebih memilih sastra dibandingkan menjadi dokter, juru rawat, mapun guru.

Kartini mengatakan dalam suratnya pada 11 Oktober 1901, “sebagai pengarang dapatlah aku secara besar-besaran mewujudkan cita-citaku dan bekerja bagi pengangkatan derajat dan pengadaban rakyatku. Kau tahu sendiri akan kecintaanku pada sastra, bahkan menjadi salah satu angan-anganku untuk sesekali waktu jadi sastrawan yang berarti.”

Kepengarangan Kartini bukanlah suatu hal yang luar biasa. Pamannya, Pangeran Ario Hadiningrat, Bupati Demak, keluarga jauhanya R.M.A.A. Tjondronegoro, Bupati Kudus, dan terutama abangnya R. Sastrokartono telah menabur benih kepengarangan pada dirinya.

Sebagai seniman yang berkiblat pada perjuangan rakyat, Kartini tidak hanya bergerak di wilayah tulis menulis. Ia dikarunia banyak kemampuan. Pramoedya Ananta Toer menyebut; Kartini sebagai pembatik, pelukis, juga peminat musik. Dalam dunia tulis menulis, Kartini bercita-cita memiliki penerbitan sendiri. Ia memandang bahwa pers berperan sangat penting dalam menyebarluaskan perjuangan.

Sayang usianya tidak panjang. Kartini meninggal di usia yang masih sangat muda, 25 tahun. Ia meninggal dengan menyandang status sebagai istri kesekian dari Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adiningrat.

Hidup yang begitu singkat dan dipenjarakan adat feodalisme Jawa, telah cukup untuk menilai watak dan rupa perjuangan yang telah Kartini upayakan. Pramoedya mengutip Kartini yang mengatakan ; “sayang! kekuasaan tiada padaku, baiklah aku berdiam diri saja tentang itu.”

Kartini telah melegenda. Ironisnya, ia ditempatkan pada tafsir sosok Kartini yang malah tidak emansipatif.  Peringatan Hari Kartini setiap 21 April yang hanya menampilkan identitas kultural Kartini patut direfleksikan. Menafsir Kartini sebatas identitasnya; gelung, kebaya, kain panjang perlu ditelisik ulang.

Ruth Indiah Rahayu dari Yayasan Kalyanamitra menyampaikan kritik, dalam tulisannya berjudul Kartini di akhir abad 20: Sebuah Relikwi atau Inspirasi?. Ia menandaskan dengan sebuah pertanyaan, “saya heran terhadap pandangan ini, bagaimana hati orang-orang itu bisa tertutup?

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan