Karinding, dari Sunda sampai ke Bhumi Arema

Terakota.id Lima pemuda duduk bersila. Masing-masing memainkan alat musik ketuk dan tiup berbahan bambu. Ada pring kemprung atau celempung asal Sunda, didgeridoo instrumen asal Australia , suling dan karinding juga dari Sunda. Alat musik tradisi ini melintasi batas wilayah, Terompet mini berbahan daur ulang sampah plastik turut melengkapi.

Ketukan dan tiupan menghasilan sebuah harmoni, perpaduan instrument etnik yang dimainkan secara bersama-sama. Kelima pemuda yang tergabung dalam kelompok Bam Bam Boe menyebutnya ‘musik alam’.

“Ini musik alam, semua bahan alat musiknya disediakan oleh alam seperti bambu,” kata Ayom peniup suling Bam Bam Boe usai pentas saat peluncuran Terakota.id, Selasa 13 Desember 2016.

Kelompok musik yang terbentuk 10 November 2016 ini menyedot perhatian karena instrumen yang dimainkan jarang dimainkan di Jawa Timur. Seperti karinding asal Sunda, terbuat dari bambu, juga bisa dari bahan pelepah aren. Memainkannya cukup rumit, diketuk pada bagian ujungnya.

Bunyi yang dihasilkan bisa diatur tergantung bentuk rongga mulut, kedalaman resonansi, tutup buka kerongkongan, atau hembusan dan tarikan napas. Maka, nada suara yang dihasilkan pun menjadi sangat khas. “Seorang kawan dari Majalengka, Jawa Barat memperkenalkan kami dengan karinding,” ujar Bojel pemain karinding di Bam Bam Boe.

Karinding memiliki ukuran panjang 20 sentimeter dengan lebar 1 sentimeter menyesuaikan keinginan pembuat. Dibuat menjadi tiga bagian yaitu bagian tempat memegang karinding atau pancepengan, jarum tempat keluarnya nada disebut cecet ucing dan bagian ujung untuk pemukul yang disebut panenggeul. Saat bagian panenggeul ditabuh, bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka menghasilkan bunyi khas.

“Menarik atau menghembuskan nafas dari kerongkongan. Nafas perut juga harus diatur agar menghasilkan irama sesuai yang diinginkan,” ucap Bojel.

Baca juga :  Ganzer, Pemuda Pelestari Sasando

Konon, karinding ada sejak enam abad lampau. Catatan tertua tentang karinding ada dalam naskah sunda kuno Pendakian Sri Ajnyana. Naskah ini dikutip dalam buku Tiga Pesona Sunda Kuna yang ditulis oleh J. Noorduyn dan A. Teeuw (Pustaka Jaya, 2009). Memang, karinding tak hanya ada di sunda, di beberapa daerah lain juga ada.

Di Bali disebut dengan genggong, masyarakat Gunung Kidul Yogjakarta menyebutnya dengan rinding. Di sunda, karinding tak sekedar dimainkan sebagai alat musik pengusir sepi semata. Tapi juga untuk mengusir hama di lahan pertanian, erat kaitannya dengan budaya masyarakat agraris. Suaranya menghasilkan low decibel yang menyakitkan bagi hama sawah.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini