Karena  Pulut Santan Binasa, Karena Mulut Badan Binasa

Ilustrasi : Fiverr.com

Terakota.idSaat saya duduk di bangku sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dijelaskan oleh guru bagaimana  perubahan  fisika dan kimia terjadi. Saya juga tidak tahu kenapa dinamakan perubahan fisika dan kimia. Yang jelas dua perubahan ini punya perbedaan yang mencolok.

Sekadar menyebut contoh ada proses perubahan es menjadi air dan air menjadi es. Es menjadi air atau sebaliknya disebut perubahan fisika. Jadi sesuatu yang telah berubah bisa dikembalikan pada wujudnya yang asli.

Sementara itu, ada proses perubahan berbeda  terkait dengan perubahan kimia.  Misalnya saat seseorang mengubah buah mangga menjadi jus. Kemudian ia ingin mengubah jus  tersebut menjadi buah mangga lagi. Tentu tidak bisa. Sama dengan perubahan kayu yang dibakar menjadi abu. Kemudian abu yang berasal dari kayu tersebut  tidak bisa lagi diubah menjadi kayu. Ini namanya perubahan kimia. Jadi, perubahan fisika bisa diubah sebaliknya, bisa berkali-kali dan diulang-ulang, sementara perubahan kimia hanya bisa dilakukan satu kali saja dan tidak sebaliknya.

Pesan Komunikasi

Dalam ilmu komunikasi, sebuah proses yang bisa diulang berkali-kali sesuai keinginan dinamakan proses reversibel (reversible), sementara proses yang hanya bisa dilakukan satu kali (seperti seorang yang membuat jus mangga) itu dinamakan proses tak reversibel (irreversible). Jadi, perubahan fisika itu reversibel, sementara perubahan kimia itu irreversible (tak reversibel).

Bagaimana kaitannya dengan pesan komuniksi? Pesan komunikasi bersifat tak reversibel. Jadi ketika seseorang sudah mengungkapkannya – atau mengirimkan pesan — dalam proses komunikasi, maka ia tidak bisa menarik kembali ucapannya. Artinya, saat pesan sudah dikeluarkan dengan berbagai konsekuensinya, dengan cara apapun dilakukan tidak akan kembali seperti sama saat seseorang belum mengucapkannya.

Bisa jadi orang berkata, “Maaf, pernyataan saya tadi tidak bermaksud menyinggung,  tapi hanya menyampaikan fakta. Jangan diambil hati ya?”. Prinsip ini jelas tidak berlaku untuk komunikasi. Sekali komunikasi terucap tidak akan bisa pulih sebagaimana sebelumnya seperti saat belum terjadi pengiriman pesan.  Juga, sangat mungkin kita bisa mengurangi dampak atas pernyataan yang sudah dikemukakan, tetapi kita tak bisa menghilangkannya sama sekali.

Komunikasi karenanya bersifat tak reversibel, tak bisa mengembalikan sesuatu sebagaimana es diubah ke air dan air diubah ke es lagi dengan sama persis. Komunikasi hampir sama dengan perubahan kimia.

Masalahnya dalam komunikasi lisan misalnya, proses pengiriman pesannya akan melibatkan perasaan dan kepentingan orang lain.  Tentu kasus ini berbeda dengan perubahan es menjadi air dan sebaliknya. Sementara itu, perasaan dan kepentingan orang itu kompleks dan multidimensi. Maka, berhati-hati dalam berkomunikasi menjadi prinsip penting agar segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Jangan sampai ada pepatah, “Nasi sudah menjadi bubur”.

Komunikasi mengikuti pepatah  di atas. Artinya, jika pesan sudah disampaikan tidak bisa ditarik kembali. Dengan kata lain, sekali kata diucapkan tidak bisa diulang untuk kedua kali dengan makna dan arti serta dampak yang sama.

Mengapa pesan komunikasi bersifat tak reversibel? Alasannya begini. Sebuah pesan yang disampaikan oleh seseorang akan punya dampak. Dampak bisa pada orang yang mendengarkan langsung atau mendapatkan informasi dari orang lain alias tidak mendapatkan sumber aslinya.

Sementara itu, mereka yang mendapatkan pesan itu tentu mempunyai latarbelakang, kepentingan,  tujuan yang berbeda satu sama lain. Bahkan latar belakang organisasi atau afiliasi politik seseorang akan ikut menentukan bagaimana pesan dipahami dan ditangkap individu. Jadi sudah bisa dibayangkan bagaimana dampaknya, bukan?  Ini belum termasuk jika seseorang yang mengucapkan itu dilandasi dengan semangat kebencian, juga sebaliknya atas mereka yang menanggapi pesan orang lain tersebut.

Pelajaran

Lepas dari dampak yang muncul, sekali lagi pesan komunikasi yang sudah telanjur dikeluarkan seseorang tidak bisa mengubah sebagaimana aslinya saat pesan belum dikeluarkan. Dengan cara apapun seseorang itu mengubah itu akan sangat sulit. Saat seseorang merasa bersalah kemudian meminta maaf sampai jungkir balik misalnya, kondisi tidak akan pernah bisa berubah sebagaimana sebelum seseorang itu meminta maaf. Ia sudah akan dicap sebagai orang yang pernah berbuat salah. Hal itu tidak mudah dilupakan oleh seseorang yang pernah dilukainya, ini misalnya. Perasaan manusia memang unik.

Maka, seseorang akan dipersepsikan buruk dan baik tergantung pada apa yang diucapkannya. Bahkan ucapan yang berdasar fakta saja jika diucapkan oleh seseorang akan berdampak berbeda jika diucapkan seseorang yang lain. Pesan komunikasi juga tidak bisa berdiri sendiri hanya berdasar isi.

Sebuah pesan akan diterima secara berbeda juga tergantung cara pengucapannya, waktu pengiriman pesan, status pengucap, dan faktor lain yang memengaruhinya. Pengucapan dari sumber saja sudah mempunyai dampak berbeda apalagi ditangkap oleh penerima pesan yang heterogenitasnya juga sangat tinggi dengan berbagai kepentingan yang melakat.

Sebenarnya, hiruk pikuk dampak ucapan “tukang obat” dan “lonthe” yang melibatkan para pendukung Habib Rizieq Shibab (HRS) dengan Nikita Mirzani (NM) bisa ditempatkan sebagai contoh dalam kasus ini,  bahwa pesan komunikasi itu tak reversibel. Apalagi, jika kemudian dibumbui, dipolitisasi dengan kepentingan yang berkait dengan kekuasaan. Hasinya tentu sangat luar biasa. Apalagi masyarakat umum tidak tahu menahu duduk persoalan sebenarnya.

Yang  jelas pesan sudah dikeluarkan oleh masing-masing pendukung HRS dan NM. Pesan muncul secara liar dan menemukan sasarannya seperti air bah dengan sasaran sendiri-sendiri. Pesan komunikasi memang menemukan “takdirnya” sendiri.

Apa pelajaran penting yang bisa dipetik? Hati-hati mengeluarkan pernyataan apapun. Bisa jadi niat baik akan berdampak buruk hanya karena pesan yang diucapkan kurang tepat. Mengapa?  Pesan komunikasi bersifat tak reversibel (irreversible).

Hiruk pikuk perseteruan HRS dan NM jangan sampai membuat kita lupa kisah pilu di tanah Papua.  Anak perusahaan Korea Selatan, Korindo Group membuka hutan Papua lebih dari 57.000 (hampir seluas ibukota Seoul) untuk lahan kebun sawit. Pembukaan hutan ini masih menyisakan masalah soal minimnya ganti rugi, hilangnya adat istiadat setempat, kesengajaan membakar hutan dan keterlibatan “oknum” penguasa.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini