Terakota.id – Gunung Semeru dijejali sekitar 2 ribu pendaki untuk memeringati kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 hari ini. Banyaknya pendaki di Gunung Semeru itu dikhawatirkan bakal menimbulkan persoalan berupa sampah.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) pun menyediakan kantong sampah untuk tiap grup pendaki yang datang ke Gunung Semeru. Agar mereka membawa kembali limbah domestik yang mereka hasilkan selama berada di Gunung Semeru.

“Kantong berukuran besar untuk satu grup pendaki. Saat turun, kantong itu akan dicek oleh petugas,” kata Kepala Seksi Wilayah III Senduro BB TNBTS, Bidhin Lintang Anggraheni.

Saat para pendaki tiba di Pos Ranupane untuk perizinan pendakian, memang lebih dulu ada arahan dari petugas. Saat itu pula kantong besar warna hitam diberikan ke para pendaki. Sekaligus pengecekan barang bawaan untuk mendaki dan harus dibawa lagi turun.

“Jangan buang sampah sembarangan, bawa turun lagi dengan kantong yang sudah kami berikan itu,” ujar Lintang.

Data BB TNBTS pada 2015 silam, tiap pendaki membawa 0,5 kilogram sampah per hari. Saat itu diperkirakan ada 250 kilogram sampah dibuang di dalam kawasan Gunung Semeru yang dihasilkan dari 500 orang pendaki tiap harinya.

Gunung Semeru saban tahun jadi salah satu favorit para pendaki untuk merayakan kemerdekaan dengan menggelar upacara bendera. Data BB TNBTS, kuota pendakian sebanyak 600 orang per hari sudah penuh dipesan terhitung sejak 15 – 17 Agustus. Serta ada seratusan tim yang terdiri dari petugas dan relawan turut bersiaga di kawasan taman nasional itu.

BB TNBTS sendiri membagi tiga tempat yang dijadikan lokasi upacara bendera 17 Agustus untuk para pendaki. Lokasi upacara itu adalah Ranupane, Ranu Kumbolo dan Kalimati. Para pendaki tak boleh naik ke puncak Gunung Semeru untuk upacara bendera.

“Tak boleh ada aktivitas pendakian atau pun upacara di puncak Semeru. Hanya boleh di tiga lokasi itu,” kata Lintang.

Seraturan tim BB TNBTS itu disebar ke lokasi upacara itu. Salah satu tugas penting tim itu adalah berjaga di Kalimati. Tugasnya, memastikan tak ada seorang pendaki pun yang tetap nekat naik ke puncak Mahameru. Sebab, izin pendakian memang hanya dibatasi sampai Pos Kalimati sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi.

“Jangan sampai ada pendaki yang nekat ke puncak,” tutur Lintang.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini