Kampus Mengajar dan Agility Talent Anak Bangsa di Masa Pandemi  

Ilustrasi : Freepik.com

Oleh: Sumani*

Terakota.idPandemi Covid-19 masih terus menggejala dan belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Wabah ini telah menguras banyak energi dan pikiran dari banyak pihak, mulai dari para pejabat sampai ke masyarakat lapisan yang paling bawah sekalipun. Dampaknya yang multi dimesional, begitu dirasakan oleh semua kalangan.

Ada salah satu dampak, yang sangat dirasakan, utamanya bagi para praktisi pendidikan yang memiliki kepekaan tinggi, yakni karakter anak bangsa. Dampak yang satu ini telah memberikan kekhawatiran tersendiri bagi sebagaian besar orang tua dan juga kalangan para pendidik yang peka. Anak-anak sudah mulai jenuh, mereka mulai kesal, bosan, dan entah ekpresi yang tidak nyaman apa lagi yang belum bisa diungkapkan untuk menggambarkan perasaan kesal mereka pada kondisi ini.

Ada seorang anak, dia usia baru TK, anak tetangga, yang pagi itu saatnya  untuk menjalani rutinitas baru mengikuti pembelajaran “daring”. Pembelajaran model baru yang sudah seperti biasa dilaksanakan oleh sang guru muda, “Anak-anak, saatnya kita memulai pembelajaran kita pagi ini”. Tanpa disangka, anak kecil ini tiba-tiba berulah, “Saya tidak mau sekolah yang begini-begini, saya maunya sekolah beneran!” Lalu anak ini berlari keluar rumah sambil melepas baju seragam yang baru saja dikenakan oleh orang tuanya.

Kemana dan apa yang dituju oleh si anak? Dia menuju ke serambi depan rumah dimana di situ ada keranjang sampah, tempat anggota keluarga membuang sampah. Dan ‘plung” baju seragam putih bersih, yang baru saja dikenakan, kini sudah masuk di keranjang sampah. Tanpa kata-kata, menyaksikan drama, yang tentunya bukan drama komedi ini, kedua orang tuanya, sang ayah seorang purna nahkoda kapal sekelas Boeing, dan ibunda seorang sarjana pendidikan, hanya tertegun sambil berkata dalam hati, “sabar ya nak, semoga pandemi segera berakhir. Suatu saatnya nanti, kamu akan bisa sekolah lagi benaran, ketemu teman-temanmu dulu, ketemu dengan gurumu dan juga ketemu dengan pak kebun yang biasa menyapa mereka saat mereka datang untuk bermain di sekolah”. Mungkin itu yang bisa diucapkan oleh sang orang tua.

Ada lagi seorang anak, pada saat masih belum pandemi, setiap pagi sudah siap dengan baju seragammnya, siap diantar untuk berangkat sekolah dengan senang hati, pulang sampai rumah kembali sudah sore, istirahat, tidur sebentar, bermain jika sempat, belajar tidur lagi, begitu seterusnya sampai saatnya hari Sabtu tiba. Hari yang sangat berbeda, karena di hari tersebut, dia bisa bermain lepas, bisa nonton acara TV kesukaan, bisa bersepeda bersama anak tetangga, berolahraga ringan bersama ayah bunda, berlibur bersama keluarga di hari Minggu. Begitulah rutinitas yang dijalani oleh sang anak karena sekolahnya menerapkan 5 hari masuk karena sudah menerapkan konsep fullday school.

Namun ketika wabah Pandemi Covid-19 ini melanda, semuanya jadi berubah, anak harus banyak berada di rumah, selalu dekat dengan gawai yang dulu menjadi barang larangan untuk dipegang oleh anak yang belum cukup umur, apalagi untuk dibawa ke sekolah. Setelah capek dengan gawai, anak beralih berteman dengan TV, menonton film kartun, kadang-kadang ganti sinetron yang biasa ditonton oleh para orang tua mereka. Padahal, dulu sebelum belum pandemi melanda, orang tuanya membuat peraturan ketat: “Adik boleh menonton TV jika tidak sedang hari masuk sekolah ya, boleh nonton hari Sabtu dan Minggu saja”.

Aturan ini sudah bisa diterima dengan baik oleh si anak. Namun sekarang, semuanya sudah berubah, yang dulu dilarang, dengan terpaksa semua harus menjadi serba dibolehkan, bahkan “wajib” dibolehkan. Pemandangan umum yang terjadi, setiap hari, anak-anak jadi tidak bisa jauh-jauh dari gawai mereka masing-masing, yang dulu sebelum pandemi ini, untuk di sekolah tertentu, Gawai menjadi barang larangan untuk digunakan oleh anak usia SD.

Semuanya jadi maklum,  karena setiap saat tugas dari sang guru selalu diberikan secara online, Selain itu, dengan pembelajaran daring ini, anak  harus berinteraksi dengan menggunakan jaringan internet setiap saat, nonton Youtube setiap saat, nonton acara TV online setiap saat, entah didampingi orang tua atau tidak. Bahkan ketika kedua orang tuanya yang kebetulan ASN semua, dan harus masuk ke kantor sesuai jadwal WFO-nya bersamaan, maka sang anak harus ditinggal di rumah, terkadang sendiri. Akhirnya anak berteman dengan gawai di dalam “kesendirian” nya, tanpa pengawasan orang dewasa, apa boleh buat.

Memang kondisinya serba darurat. Apapun menjadi serba bisa dimaklumi. Tentu hal ini membawa dampak, bisa positif dan juga bisa negatif, tergantung dari sudut pandang yang mana orang memandangnya. Yang jelas, pasti akan ada yang berubah. Di antaranya, anak yang dulu biasa tertib, disiplin bangun pagi-pagi sekali, menjalankan rutinitas pagi dengan begitu teratur, tiba-tiba semuanya menjadi berubah. Anak mulai biasa bangun kesiangan, karena malamnya sering  begadang ditemani gawainya, ada kesukaan baru, nonton sinetron, meski bukan pada hari libur.

Rutinitas kegiatan pagi seperti segera mandi, sarapan, berangkat ke sekolah, sekarang sudah tidak lagi menjadi budaya. Jika dibangunkan, anak justru marah-marah, merasa diganggu tidurnya,  “Kan adik tidak ke sekolah, jadwal kelas Google Classrom kan masih nanti siang” Jawab si anak tanpa merasa bersalah, saat dibangunkan oleh sang ayah bunda. Setelah selesai kelas online Google Classroom sang anak seperti biasa, nonton TV lagi, sampai lupa bahwa sudah saatnya makan siang, saatnya ibadah siang, saatnya tidur siang, semuanya sudah dilupakan. Ketika diingatkan oleh ayah bunda, dia menjawab “sebentar Ma, sebentar Pa, film kartunnya masih seru”. Film kartun selesai, ganti acara, main game, nonton Youtube, begitu dan seterusnya.

Hari demi hari, pekan, bulan, dan bahkan tahun demi tahun, berlalu entah sampai kapan. Menghadapi anak dengan dunianya yang baru ini, tentu sangatlah wajar jika sebagian orang tua menjadi galau, menjadi cemas, terbayang apa yang akan terjadi dengan tampilan generasi mereka ke depan, jika kondisi seperti ini terus berlanjut, apalagi tidak ada upaya strategis dan serius untuk mengantisipasinya.

Baru-baru ini ada satu program, yang diluncurkan oleh Mendikbud yang disupport penuh oleh LPDP yaitu “Program Kampus Mengajar” yang merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Program ini bisa jadi merupakan salah satu respon yang diberikan oleh pemerintah untuk menjawab kegalauan dari sebagian orang tua dan para praktisi pendidikan pada umumnya. Program ini memberikan ruang kepada para mahasiswa untuk bisa ikut ambil bagian di dalam mengatasi permasalahan pembelajaran yang mengalami kendala di masa pandemi.

Ada persyaratan yang ditentukan bagi mahasiswa calon peserta, dosen pembimbing, batas minimal status akreditasi “B” untuk program studi yang mau berpartisipasi, batas maksimal status akreditasi sekolah dasar “C” bagi sekolah yang bisa dijadikan sasaran dari program ini. Melalui program ini diharapkan kampus bisa pertama, memberikan kontribusi yang nyata bagi penyelesaian permasalahan pedidikan khususnya pada masa pandemi ini; Kedua, memberikan kesempatan kepada dosen lintas program studi untuk berkolaborasi dengan mahasiswa dengan sekolah dan guru dalam pengembangan pendidikan; dan ketiga, memberikan ruang pengabdian, penerapan berbagai kajian inovasi dan kreatifitas  yang dihasilkan dosen dalam meningkatkan mutu pendidikan. Yang utama adalah mendukung perguruan tinggi untuk mencapai IKU nomor 2 yaitu mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus.

Dosen pembimbing lapangan mendapatkan insentif dan sertifikat membimbing lapangan. Kemudian, apa peran mahasiswa di dalam kampus mengajar ini? Yaitu mengasah jiwa kepemimpinan di luar kelas kuliah. Kedua, ini adalah kesempatan yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk berkontribusi dan menjadi agent of change bagi pendidikan di Indonesia khususnya bagi sekolah yang benar-benar masih membutuhkan bantuan. Ketiga, mendapatkan pengakuan konversi mata kuliah sampai dengan 12 SKS.

Kontribusi yang diharapkan dari program kampus mengajar ini adalah pertama, membawa mahasiwa membatu guru dalam pelaksanaan pembelajaran daring dan luring baik di rumah maupu di sekolah  siswa kususnya dalam pembelajaran literasi dan numerasi. Kedua, mahasiswa membantu kontribusi di dalam adaptasi teknologi dalam proses pembelajaran daring. Ketiga, mahasiswa mendukung kepala sekolah dalam bidang administrasi dan manajerial sekolah.

Selain itu, program ini juga ditujukan untuk pertama,  sosialisasi produk pembelajaran yang sudah ada di kemendikbud yaitu adanya kurikulum darurat, adanya modul pembelajaran, aksi,  portal rumah belajar, dan lain-lain. Kedua, sosialisasi dan improvisasi materi promosi profil pelajar pancasila. Ketiga, duta edukasi perubahan perilaku di masa pandemi.

Kita semua mengetahui bahwa kita perlu untuk terus mengedukasi masyarakat melalui perubahan perilaku untuk hidup sehat di masa pandemi dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti menerapkan 5M dan sejenisnya. Memang ada persyaratan lain yang perlu dipenuhi oleh mahasiswa yang di antaranya dari batas minimal IPK, pengalaman berorganisasi, pengalaman mengajar, serta dokumen-dokumen pendukung yang terkait, memiliki catatan baik atau tidak bermasalah di perguruan tinggi yang dibuktikan dengan surat keterangan yang ditandatangani oleh pimpinan perguruan tinggi, yang menunjukkan bahwa mahasiswa tersebut memiliki track records yang baik selama menjadi mahasiswa. Mahasiswa yang lolos akan mendapatkan pembekalan materi terkait, sebelum mereka diterjukan ke sekolah-sekolah terkait.

Program ini sangat menarik dan menantang. Pertanyaannya adalah apakah mahasiswa kita sudah cukup matang untuk menangani permasalahan pendidikan anak yang sebenarnya sangat memerlukan apa yang sekarang ini biasa disebut dengan agile talent. Agility atau kegesitan menurut Wikipedia adalah kemampuan untuk mengubah arah tubuh secara efisien dan efektif dan untuk mencapainya memerlukan kombinasi. Agility adalah kelincahan atau kemampuan seseorang mengubah posisi di area tertentu.

Dengan demikian, seorang yang mampu mengubah satu posisi yang berbeda dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang baik berarti memiliki agility atau kelincahan yang baik. Agility bisa dimakanai sebagai sebuah talent/bakat. Bakat  seperti ini sangat diperlukan oleh mahasiswa, apalagi di era revolusi industri 4.0 seperti sekarang ini. Tidak menutup kemungkinan, saat menjalankan program Kampus mengajar ini, mereka nanti akan berhadapan dengan anak-anak yang sebenarnya juga memiliki “agile talent” yang seperti ini, sebagaimana contoh kasus yang terjadi pada anak TK dan juga pada anak usia SD di atas.

Penerjunan mahasiswa untuk melakukan “magang” dalam kontek menjalankan Program Kampus Mengajar ini, dimaksudkan juga agar mereka mampu menjadi bagian solusi guna mengatasi permaslahan pendidikan yang sebenarnya ini bukan kapasitas mereka untuk melakukannya. Ada permasalahan yang memerlukan keilmuan tersendiri untuk bisa mengatasinya.  Ini adalah sisi  lain, yang perlu juga untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan.

Jika ini hanya dimaksudkan untuk tujuan pengembangan diri mahasiswa, mungkin ini masih bisa dipahami dan diterima,  namun jika hal ini dimaksudkan untuk memberikan solusi, apalagi terapi kepada anak-anak yang mengalami permasalahan kejiwaan, sebagai akibat dari diterapkannya pembelajaran daring dalam waktu yang cukup lama, maka hal ini masih memerlukan pembahasan lebih lanjut.

*Penulis adalah dosen Universitas PGRI Madiun, dan Ketua 1 Komnas Pendidikan Kota Madiun

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini