Kampung Polowijen, Daerah Kelahiran Ken Dedes

Kampung Polowijen, Daerah Kelahiran Ken Dedes

Terakota.id-Kampung Polowijen (dalam Kitab Pararaton dulu di sebut Panawidyan/Panawijen) berada di Kota Malang Jawa Timur. Polowijen mempunyai potensi besar dan kekayaan sejarah panjang sekaligus menjadi daerah yang menginspirasi bagi tumbuhnya peradaban besar di tanah jawa.

Polowijen terkenal dengan daerahnya Ken Dedes yaitu ‘ibu’ yang melahirkan keturunan para raja-raja besar di tanah Jawa. Bukti mulai dari Petilasan Sumur Windu Ken Dedes memperkuat keberadaan Ken Dedes disitu dilahirkan. Batu bata merah yang tersusun dalam struktur bangunan yang masih tertimbun tanah ditengarai sebagai Mandala Empu Purwa seorang brahmana ayah dari Ken Dedes.

Petilasan Joko Lulo dipercaya sebagai tempat “muksa” ketika pemuda dari Dinoyo yang bernama Joko Lulo tidak berhasil mempersunting Ken Dedes karena diculik Tunggul Ametung seorang Akuwu dari Tumapel melalui terowongan yang di temukan di rumah warga Polowijen. Ketiga situs itu juga telah ditetapkan oleh Direktorat Cagar Budaya sebagai situs Budaya di Polowijen Kota Malang

Yang tidak kalah menarik menurut penuturan Yongi Irawan budayawan dan mantan ketua DKM Kota Malang  dalam kesempatan Sarasehan Kampung Budaya Polowijen.  “Keberadaan Makam Mbah Tjondro Suwono yang biasa dipangil sebagai Mbah Reni dengan Julukan Ki Sungging Adi Linuwih sebagai pencipta/penemu dan penyungging Topeng Malangan pertama kali dan Mbok Gundari adalah anak sekaligus penari Topeng Malangan. Beliau semua adalah orang Panawijen yang mengembangkan topengan malangan ke daerah lain seperti Jabung Tumpang, Glagahdowo, Pakisaji dan sekitarnya di Kabupaten Malang,” katanya.

Dengan demikian kekayaan budaya tersebut, kini telah menjadi ikon budaya Malang dan telah ditetapkan sebagai situs budaya Polowijen oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. Menurut Penuturan sesepuh asli  Polowijen Suwaji yang menjadi pengurus LPMK Kelurahan Polowijen Kecamatan Blimbing Kota Malang sejumlah kesenian lainnya selain wayang topeng, wayang wong, wayang jedong, wayang kulit, wayang ope, ludruk, pencak silat, bantengan dan terbangan juga pernah berkembang di Polowijen.

Baca juga :  Refleksi Pesan Budaya 'Tresno Bocah' pada 'Dewi Penyayang Anak' Hariti dalam Kesejarahan Jawa dan Bali

“Dulu berkembang dan dilestarikan para seniman,” katanya. Potensi lainnya dahulu Polowijen juga pernah menjadi sentra mebel serta dan kerajinan kayu lainnya makin menegaskan bahwa polowijen adalah daerah para pengrajin seni pahat dan topeng. Jika di simpulkan, Polowijen merupakan daerah yang menginspirasi bagi daerah lain sehingga muncul berbagai ragam seni tradisi kebudayaan serta kerajinan yang membuat daerah-daerah lain bisa ikut berjaya pada masanya.

Kini, kesadaran masyarakat setempat makin lama makin tumbuh untuk bergiat mengembangkan budaya, seni dan tradisi seiring dengan berbagai macam benturan kebudayaan dan makin pupusnya nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Kesadaran itu di bangun atas keperhatinan sosial dimana mengembalikan kampung sebagai entitas budaya dan berharap mampu menjaga kelestarian dan kehidupan bermasyarakat.

Semangat gotong-royong, kelestarian dan keseimbangan alam, lingkungan, seni, tradisi, budaya dan religi melalui pengembangan Kampung Budaya Polowijen yang digagas oleh Isa Wahyudi yang biasa di panggil Ki Demang.  Anggota DPRD Kota Malang Erni Farida menyampaikan bahwa pengembangan kampung budaya Polowijen harus mampu membangkitkan Kampung Budaya Polowijen dari aspek sosial, ekonomi, lingkungan, budaya dan religi. Sekaligus mengembangkan ekonomi kreatif dan kerakyatan melalui program kegiatan Kampung Budaya Polowijen. “Kampung Budaya Polowijen juga bisa menjadi destinasi dan daya tarik wisata Kota Malang,” ujar Wrni.

Kampung Budaya Polowijen pada 2 April 2017 akan menyelenggarakan acara Peringatan HUT Kota Malang yang ke 103 sekaligus Peresmian Kampung Budaya Polowijen dengan beberapa agenda.  Diantaranya senam sehat kampung budaya, gerakan menanam 1000 pohon, pameran kriya batik dan topeng, sesekaran mpu topeng malang mbah reni, peletakan batu pertama sasana budaya Mpu Purwa, tari topeng Grebeg Jowo.

Peresmian Kampung Budaya Polowijen tari topeng Grebeg Sabrang, atraksi Nyi Putut oleh Mbah Yongki Irawan, Terbangan Al Banjari, tari Topeng Gunungsari, Sarasehan Kampung Budaya Polowijen dengan tema Mencari Hari Jadi Polowijen oleh Dr. Dwi Cahyono Arkeolog dari Universitas Negeri Malang.

Baca juga :  Seni Musik di Relief Candi dan Upaya Transformasi

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini