Kampung Cempluk, Permukiman Agraris Sejak Abad 12

Terakota.id— Dusun Sumber Rejo, Desa Kali Songo merupakan perkampungan kuno yang berbudaya sejak abad ke 12. Sejarawan Universitas Negeri Malang M. Dwi Cahyono menjelaskan sejarah panjang perjalanan Dusun Sumber Rejo, Desa Kali Songo yang kini populer disebut kampung Cempluk.

“Ada pertanda, yakni temuan sebagian artefak masa lalu. Sebuah punden di pertigaan kampung. Kini dipasang cungkup,” kata Dwi dalam Sarasehan Budaya, Kampungku Uripku di Hamur Dieng, Ahad 23 September 2018. Sarasehan juga dihadiri Ketua jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya Malang, Antoni Rifki dan Ketua Yayasan Terakota Luthfi J. Kurniawan.

Artefak itu diperkirakan peninggalan masa Hindu-Buddha. Artefak berupa sebuah arca yang tersisa balok bagian bawah. Artefak tersebut menyisakan petunjuk kronogram tahun di bagian bangunan candi. Namun, hanya ada dua angka yang bisa dibaca, yakni angka ribuan dan ratusan. Sedangkan tahun angka puluhan dan satuan tak tersisa. “Ada tarikh, abad ke 12 Masehi,” katanya.

Candi itu, kata Dwi, merupakan jejak bangunan suci. Sebuah candi Hindu sekte Siwa. Sehingga dipastikan pada masa itu, penduduk kampung Sumber Rejo, Kalisongo beragama Hindu Siwa. Saat itu penduduk nusantara dominan memeluk agama Hindu Siwa.

Sedangkan secara arsitektur bangunan candi sampai saat ini belum dieksplorasi. Belum ada usaha eskavasi, Dwi memperkirakan masih ada bangunan di bawah permukaan tanah. Kini, situs tersebut terdesak bangunan rumah yang terus merangsek menutupi kawasan situs. “Eskavasi diharapkan menyingkap struktur bangunan di bawah,” katanya.

Sejarawan, akademikus, seniman dan budayawan mengikuti sarasehan budaya, kampungku uripku di hamur dieng kampung cempluk. (Terata/Fahruroji).

Menurut Dwi penting merekam kampung cempluk yang bersejarah. Menurut Dwi, pada abad ke 12 kawasan tersebut menjadi sebuah permukiman penduduk dan memiliki kebudayaan yang luhur. Dari toponimi nama Dusun Sumber Rejo artinya ramai sumber atau memiliki sumber banyak. Sedangkan  Kalisongo artinya sembilan sungai.

Ada sembilan tuk atau mata air limpahan air mengalir ke sungai kecil. Sampai saat ini masih ada dua sungai yang membentengi kampung. Yakni di sisi timur dan utara kampung.  Salah satunya Kalimetro, sebuah sungai peradaban masa lalu. Jejak sejarah tersebut awal berada di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kalimetro.

Penduduk memilih bermukim di Sumber Rejo, Kalisongo merupakan keputusan dengan kalkulasi ekologis.  Lantaran kawasan tersebut memiliki sumber dan air yang melimpah. Sehingga Desa Kalisongo seharusnya mengeskplorasi desanya dengan muatan air. Termasuk menanam andeng istilah bambu kecil. “Perlu dibudidayakan bambu andeng sekarang,” katanya.

Kampung Mengalami Metamorfosa

Identitas kampung harus dijaga. Kampung tersebut dulu kaya dengan jenis bambu seperti bambu petung dan wulung. Awalnya, kampung tersebut merupakan daerah agraris. Kini masa transisi bagi kampung Cempluk yang semula agraris, dari kawasan rural menjadi urban. Posisi kampung berada di pinggiran Kota Malang. “Gaya hidup warga kampung mengalami metamorfosa.”

Ladang penduduk berubah menjadi permukiman dan kawasan terbangun. Dulu warga memanfaatkan ladang untuk menopang hidup. Menanam aneka bahan pangan untuk kebutuhan warga, menanam bambu untuk kerajinan dan aneka kebutuhan hidup warga.

“Belakangan tak cukup dengan memanfaatkan lahan yang tersisa. Tak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga warga mencari nafkah di luar. Laki-laki produktif bekerja di sektor bangunan dan pabrik,”  kata Dwi Cahyono.

Warga kampung cempluk menyimak sejarah kampung dalam sarasehan budaya, kampungku uripku di hamur dieng kampung cempluk. (Terata/Fahruroji).

Sehingga perlu sebuah revitalisasi, gerakan untuk menguatkan fungsi kampung. Menguatkan dalam sektor sosial,  budaya, ekologis dan ekonomi.

Salah seorang sesepuh desa dan juga penggagas Kampung Cempluk Budi Santoso menceritakan hingga 1990-an, Kampung Cempluk merupakan daerah yang terisolir. Untuk menuju Kalisongo harus memutar sejauh 10 kilometer. Permukiman juga belum teraliri listrik. Warga menggunakan sumber penerangan berupa cempluk atau lampu tempel.

“Dulu kampung ini tertinggal,” katanya.  Namun, warga sampai saat ini tetap konsisten memiliki komunitas untuk melestarikan seni, budaya dan tradisi. Kampung Cempluk terbuka untuk siapapun dan termasuk warga asing asal tak menganggu dan bertentangan dengan budaya setempat.

Redy Eko Prastyo yang juga penggagas Kampung Cempluk kampung cempluk merupakan sebuah gerakan. Kampung, katanya, memiliki peran penting dalam konteks kebangsaan. “Bicara bangsa ujungnya ya kampung,” ujarnya.

Redy tengah mengubah stigma jika kampung merupakan warga kelas dua, berubah menjadi kampung sebagai lumbung ide. Kampung menjadi pusat hidup dan pusat kebudayaan. “Ada sebuah gerakan sosial dibangun melalui kampung. Ada jaringan kampung Nusantara. Jejaring kampung untuk saling belajar.”

Sementara Ketua RW 23, Kelurahan Purwantoro, Blimbing Kota Malang Bambang Iriyanto menceritakan kisahnya menyelesaikan persaoalan banjir di kampungnya kawasan Glintung. Bambang Irianto telah mendapat penghargaan Kalpataru kategori Pembina lingkungan.

Enam tahun lalu saat terpilih Ketua RW. Ia menghadapi kondisi sulit.  Banyak warga yang sakit,  permukiman sering banjir dan penduduk terjerat rentenir.  Bambang lantas menggandeng Universitas Brawijaya membuat inovasi berupa biopori dan sumur ijeksi untuk resapan air hujan.

“Sekitar 100 ribu liter masuk ke permukaan tanah.  Kami sebut gerakan menabung air,” katanya. Ia juga mengajak warga menanam aneka bunga dan tanaman hias di rumahnya.  Bambang membangun mental dan kesadaran lebih dulu. Sehingga mereka tergerak untuk melakukan perubahan. Kini, lorong kampung berhias tanaman hias, bunga dan pertanian dengan sistem hidroponik.

Kini, banyak yang belajar dan studi banding ke kampung Glintung. Setiap tamu yang hadir dan belajar berkontribusi untuk mengelola kawasan. Selain itu, ekonomi masyarakat tumbuh dengan menyediakan makanan, oleh-oleh dan home stay.

“Kas RW sekitar Rp 1 miliar. Perputaran uang sepekan terakhir saja Rp 100 juta,” katanya. Kampung Cempluk juga memanfaatkan air aliran sungai menggerakkan generator. Teknologi mikro hidro diharapkan bisa menempatkan Kampung Glintung menjadi daerah mandiri energi. Sarasehan dihibur petikan sapek, instrumen dawai tradisi dari suku dayak.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini