Kampung Cempluk Festival Hadir dalam Bentuk Virtual

kampung-cempluk-festival-hadir-dalam-bentuk-virtual

Terakota.id–Pandemi Covid-19, tak menyurutkan warga Desa Kalisongo, Dau, Kabupaten Malang menggelar Kampung Cempluk Festival ke 10. Festival dilangsungkan secara virtual melalui akun website kampungcempluk.com, kanal youtube Tipi Kampung dan Grup Facebook. Satu dasawarsa Kampung Cempluk Festival. Menyesuaikan pola hidup baru.

Salah seorang penggagas Kampung Cempluk, Redy Eko Prastyo menjelaskan format penyajian berbeda mengoptimalkan beragam media sosial dan media daring. Tampil secara virtual untuk mencegah kerumunan yang bisa menimbulkan penularan Covid-19. “Penyajian berbeda tanpa menghilangkan subtansi festival,” katanya.

Disediakan fitur berjualan kanan, minuman dan cinderamata. Sedangkan pedagang makanan dan minuman menjajakan secara virtual. Termasuk proses pemesanan menggunakan fitur daring. Namun, hanya dibatasi kawasan Malang Raya karena terhambat proses pengiriman. Warga kampung yang berjualan registrasi lebih dulu.

“Kalau cinderamata bisa lintas kampung, hingga provinsi dengan platform pembayaran digital,” katanya.

 

Selain itu panggung dipindah secara virtual, termasuk diskusi budaya, dan pemutaran film. Semua menggunakan platform virtual. Format virtual, katanya, disajikan dengan kondisi pandemi Covid-19. Namun, tetap dengan merayakan gelaran yang mengapresiasi kampung. Sedangkan audiens lebih luas lantaran bisa menghubungkan antar kampung yang berjarak ratusan hingga ribuan kilometer.

Tumplek blek di virtual,” ujarnya. Jangan tergantung dengan teknologi, tetapi teknologi menjadi penunjang kreativitas. Menempatkan teknologi sebagai alat bantu.

Disediakan panggung kolaborasi, siapapun partisipasn bisa mengirim video untuk merespons partisipan lain. Panitia akan mengombinasikan gambar melalui proses editing. Lantas video diputar sesuai jadwal pemutaran. Jika ada pertisipan yang siap tampil secara langsung bisa menggunakan tautan zoom meeting.

Kampung Cempluk Festival akan menampilkan visual art dengan video mapping. Proses pemesangan video mapping tak harus datang ke lokasi. Video mapping dilakukan secara virtual, bisa menjadi background panggung dan pameran virtual. Selain itu, juga bisa menyampaikan pesan sosial seperti hidup sehat, dan menerapkan protokol kesehatan.

Sedangkan tahun lalu, Kampung Cempluk menggunakan video mapping di gang diubah seperti kolam ikan. Sekaligus menggunakan kecerdesan buatan (AI), ikan yang dipegang bisa menyebar menjadi dua.  Sedangkan festival juga membuat lomba mewarna anak-anak. Setelah diwarnai gambar dipindai, dan tampil dalam animasi video.

kampung-cempluk-festival-hadir-dalam-bentuk-virtual

“Seperti tahun lalu, ada 100 partisipan seluruh Indoesia,” katanya. Lebih banyak yang terlibat, karena pertisipan tak harus datang. Dengan keterbatasan yang ada, diterapkan tanpa menghilangkan esensi pertunjukan.

“Kuncinya di manajemen acara. Menemukan formula yang pas sehingga butuh adaptasi,” ujarnya. Audiens lebih luas, menjangkau seluruh Nusantara bahkan bisa dinikmati di luar negeri. Audiens juga bisa berinteraksi melalui live chat di kanal youtube. Serta bisa memberi masukan, kritik dan ide.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini