Kalung yang Tertukar

kalung-yang-tertukar
Ilustrasi : poliklitik.com/ngomikmaksa

Kalung emas sing ono gulumu

Saiki wis dadi biru

Luntur koyo tresnamu, luntur koyo atimu

Saiki kowe karo aku

Kalung emas kuwi mbiyen tak tuku

Tak pasrahke mung kanggo sliramu

Gedhe roso tresnaku mung kanggo sliranu

 

(Kalung emas yang ada di lehermu

Sekarang telah berubah warna menjadi biru)

Luntur seperti cintamu, luntur seperti hatimu

Sekarang kau melupakanku

Kalung emas itu dulu kubeli

Khusus hanya untuk dirimu

Besar rasa cintaku)

 

(Didi Kempot, “Kalung Emas”)

Terakota.idDi desa itu banyak rumah yang berdiri mentereng. Terkesan megah. Bahkan bisa dikatakan kontras dengan bangunan milik penduduk yang lain. Rumahnya dibuat dengan gaya modern, setidaknya dari model fisiknya. Ada yang tetap mempertahankan bangunan lama, tetapi dipoles berbeda.

Lihat catnya. Warna-warni. Bangungannya dibuat dengan karamik yang didatangkan dari kota. Sampai-sampai tiang dan temboknya dikeramik, sesuatu yang aneh jika dilakukan di lingkungan desa. Tetapi itu semua terjadi. Tidak tanggung-tanggung, keramik yang dipilih tentu yang wara-warni dan bercorak cerah dengan bermotif macam-macam. Pokoknya berbeda dan kontras.

Coba perhatikan pemilik rumahnya. Ia juga seperti harus berpakaian mentereng. Pakai perhiasan yang sering kelewat batas; kalung,  gelang, anting-anting, giwang, dan kepemilikan lain yang bisa menunjukkan kekayaan. Sepeda motor pun dibelinya dari pabrikan terkenal dengan merek terbaru. Pokoknya harus berbeda.

Tentu gaya bahasanya sedikit berbeda dengan warga kebanyakan. Sesekali memakai bahasa yang tidak umum dilakukan orang-orang desa. Menunjukkan bahwa ia berbeda dengan masyarakat di sekitranya. Intinya sudah menjadi berbeda dalam segala hal. Dan masyarakat desa seolah wajib tahu tentang dirinya. Ia sudah sukses. Sudah berhasil. Sudah kaya. Seolah sudah merasa sejajar dengan orang-orang yang selama ini dipersepsikan sebagai orang kaya.

Ironi Negeri Kaya Raya

Pemandangan itu setidaknya bisa kita amati di daerah Malang Selatan. Ya tidak harus di Malang Selatan, tetapi daerah-daerah yang ada warganya menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.  Ada sisi menarik dari para TKI, disamping sudah digambarkan di bagian awal tulisan ini.

Mengapa mereka menjadi TKI? Pertama, memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan hidup. Tentu saja, secara materi mereka bisa memperbaikinya. Bagaimana tidak? Gajinya saja jika dikurs dengan rupiah lebih dari layak. Dengan kerja yang hampir sama dengan di Indonesia, bahkan tanpa harus berpendidikan tinggi, gaji mereka lebih unggul.

Kedua, terbelit masalah utang yang kian mencekik leher. Ada juga yang niatnya ke sana karena utangnya banyak. Tak ada juga barang-barang miliknya yang bisa dijual untuk melunasi utang tersebut. Mereka juga tak mendapatkan warisan dari orang tuanyanya. Mau bersaing bekerja di daerahnya, juga tak mampu. Apalagi untuk bekerja, dibutuhkan jenjang pendidikan yang tinggi.

Kadang bekerja sebagai sales saja di Indonesia pun perlu berjenjang sarjana. Menjadi tukang ketik di kantor juga sekarang memerlukan pendidikan minimal Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi, bukan keahlian yang diinginkan. Seolah jenjang pendidikan itu mencerminkan keahlian. Maka menjadi TKI alternatif yang realistis bisa mereka lakukaan.

Ketiga,  ada juga yang beralasan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Punya keinginan kuat agar anak-anaknya bisa sekolah tinggi sementara pembiayaan untuk itu tidak dimungkinkan jika dihitung secara matematis.  Yang penting bagaimana caranya anak-anaknya bisa sekolah tinggi. Mengapa? Karena jenjang sekolah tinggi di Indonesia masih dianggap sesuatu yang “wah”, hebat, mentereng, bergengsi. Padahal itu hanya gelar akademis saja. Gelar tidak menunjukkan keahlian. Apalagi pendidikan di Indonesia semakin hari semakin mahal.

Sebuah ironi dari negeri yang kaya raya. Lebih ironi lagi karena banyak penduduknya menjadi TKI sementara Tenaga kerja Asing (TKA) justru didatangkan ke Indonesia. Ada-ada saja alasannya, karena TKA lebih ahli. Lha kalau alasannya begitu, kenapa penduduk di Indonesia tidak “dikelola” dengan baik agar bisa bersaing dengan para TKA itu, bukan?

Keempat, setelah pulang dari menjadi TKI mereka seolah bisa berbuat banyak hal. Termasuk mendirikan rumah mentereng, membeli kendaraan bagus, dan kepemilikan perhiasan yang bisa dipakai saat acara-cara di desa. Mereka bisa menunjukkan ke warga yang lain.

Tidak usah jadi TKI. Mereka yang perlu merantau, misalnya ke Jakarta saja kalau pulang harus berusaha menunjukkan bahwa ia sukses. Lihat dari dandananya, merek Hand Phone (HP)-nya. Jika pulang bisa memakai mobil. Tak peduli bahwa mobil itu hanya sewa. Tapi yang penting bisa pulang. Menunjukkan pada warga tempat asal bahwa ia telah sukses. Meski kesuksesaannya itu kadang hanya komuflase. Termasuk komuflase dari mereka yang menjadi TKI.

Siapa Untung Siapa Buntung?

Setelah pulang dari menjadi TKI mereka  harus bergaul dengan masyarakat kebanyakan lagi. Tentu mereka sedikit mengalami mobilitas vertikal karena punya kekayaan yang didapat dari menjadi TKI. Ini riil terjadi dan tak usah diperebatkan. Mereka juga semakin percaya diri. Meski kadang percaya dirinya itu justru terasa aneh karena kadang tak pada tempatnya.

Misalnya menggunakan bahasa dengan pilihannya seperti saat menjadi TKI. Padahal di sana kerjanya bisa jadi serabutan. Tapi kan sudah mentereng minimal bisa memakai kalung perhiasan sebagai “jimat” agar orang lain mengakui perbedaaanya? Tentu itu hanya dari segi kekayaan.

Namun apakah semuanya memang begitu? Tentu saja tidak. Katakanlah mereka mempunyai kalung. Kalung ini kita ibarat atau simbol kekayaan yang mereka miliki. Apakah mereka benar-benar kaya? Tentu saja tak seluruhnya begitu.

Kekayaan atau yang dicerminkan salah satunya dari kalung itu untuk menutupi kondisi sebenarnya. Dalam bahasa politik sekarang pencitraan. Umumnya, mereka yang menjadi TKI, sebagaimana masyarakat desa yang berprofesi petani, uang dihabiskan dalam suatu waktu. Kita ambil contoh petani. Begitu panen, langsung  membeli barang-barang kebutuhan. Hasil panen habis, lalu menunggu panen lagi. Tak biasa melakukan investasi. Tak terkecuali dengan beberapa TKI tersebut.

Sebenarnya mereka tidak kaya-kaya amat. Hanya ingin menunjukkan bahwa dia kaya, minimal dengan kalung tersebut. Kalau suatu saat nanti kebutuhan mendesak kalung itu pun akan dijualnya. Kalung di sini bisa dipakai untuk menutupi ketidakmampuan yang sebenarnya. Atau bisa dikatakan aslinya ia tidak kaya amat tetapi biar dianggap kaya dengan memakai kalung tersebut. Makanya, kalung dipakai untuk menutupi ketidakmampuan yang sebenarnya. Tetapi ia telah merasa diri berbeda dan berpunya.

Apakah yang dilakukan oleh TKI yang sudah pulang ke daerah asal itu salah? Tidak ada yang salah. Mereka tetap punya hak. Mereka tetap harus dihormati dalam usahanya meningkatkan kepercaayaan dirinya. Mereka juga sudah dianggap “pahlawan devisa” oleh negara. Kita layak mengapresiasi. Hanya beberapa kasus yang terjadi terasa aneh dilihat dari sisi kehidupan pasca menjadi TKI. Siapa yang diuntungkan? Tentu lembaga penyalur TKI itu satu diantaranya.

Kalung Anti Corona

Beberapa waktu lalu viral di media massa dan media sosial bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) mau memproduksi kalung aroma terapi berbahan eucalyptus yang diklaim sebagai antivirus corona. Kalung ini akan diproduksi massal. Tentu saja ide ini menimbulkan tanggapan yang beragam dari masyarakat luas, apalagi netizen.

Ide ini layak diapresiasi. Tentu ini usaha. Sama dengan para TKI itu, layak diapresiasi karena sudah berusaha untuk meningkatkan taraf hidup diri dan keluarganya. Masalahnya apakah produksi kalung arometerapi ini sudah melalui uji yang mendalam sebagaimana obat-obatan atau jamu yang sudah diakui kualitasnya?

Kita mengalami banjir informasi soal covid-19. Lihat di negara Iran. Sekitar 700 lebih warganya meninggal. Banyak warganya  meninggal karena minum cairan disinfektan matanol. Hanya karena infodemik dan banjir informasi yang diterimanya. Pemerintah Indonesia juga pernah buru-buru memesan klorium sebagai obat penangkal virus.

Cara yang dilakukan pemerintah Indonesia itu hampir sama dengan Donald Trump. Sementara World Health Organization (WHO) menganggap obat itu berbahaya.  Kita juga pernah gembar-gembor tak ada virus menjalar di Indonesia, tak terkecuali membeli vaksin dari luar negeri. Hampir semua lembaga negara hanya mencoba “membuat tenang” masyarakat tetapi tak ada keputusan dan kebijakan yang cepat serta konkret.

Bagaimana kelanjutannya kalung yang diproduksi Kementan? Kita lihat hasilnya. Dalam tulisan ini saya hanya becerita soal TKI. Kebiasaan masyarakat kita yang masih senang kerja dengan keriuhan, pencitraan, lamban, orientasi pada kepentingan diri dan kelompok, kepentingan politis harusnya sudah dikikis habis. Seharusnya kasus virus covid-19 pun bisa menggugah kesadaran semua lapisan masyarakat.

Eh, lupa kita kan cerita soal TKI bukan soal corona? Juga bukan kalung anti corona itu, bukan? Bukan juga cerita  sakit hatinya Dedi Kempot karena kalung pemberian pada kekasihnya  hasilnya “bertepuk sebelah tangan”. Biarlah kalung emas seniman bernama asli Didik Prasetyo itu yang mem-PHP”, bukan kalung anti corona.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini