Kala Puisi Menolak Korupsi Berkumandang di Pendapa Kabupaten Malang

Terakota.id–Para penyair se Nusantara menyajikan puisi menolak korupsi di Pendapa Kabupaten Malang, Sabtu malam 1 Desember 2018. Puluhan penyair berasal dari berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta , dan Sulawesi Tengah yang tergabung dalam gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK). Ini pertunjukan keliling PMK ke 52.  “Gerakan PMK mengambil posisi sebagai gerakan kultural,” kata Koordinator GPMK, Sosiawan Leak.

Laku koruptor, katanya, semakin sistemik dan canggih. Sehingga harus dilakukan gerakan bersama sebagai seruan moral bagi masyarakat. Agar membentengi anak muda dari virus korupsi. Puisi menjadi vaksi antikorupsi sejak dini. Selain itu, PMK dilangsungkan di Malang menunjukkan jika elemen masyarakat di Malang menolak segala bentuk korupsi.

“Mencegah perilaku korup yang lebih akut,” katanya. Mengingat di Malang Raya, mulai Wali Kota Batu, Wali Kota Malang, 41 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Malang dan Bupati Malang menjadi tersangka, terdakwa dan terpidana kasus korupsi. Perilaku korup yang dilakukan penyelenggara Negara telah menampar rakyat Malang.

Gerakan PMK melalui seni melengkapi gerakan lain yang dilakukan beragam elemen melalui bidang hukum, politik, agama, jurnalistik, dan akademik. Gerakan PMK menyatupadukan semua kekuatan untuk mengawal agar proses demokrasi berjalan lurus. Membangun bangsa dan negara yang berkeadilan dan bermartabat.

Gerakan ini menjadi sarana bagi penyair menyatakan sikap tegas, menolak hidup korup. PMK bersifat nirlaba, independen, dan mandiri baik secara ideologi maupun ekonomi. Mandiri secara ideologi, semua penerbitan antologi puisi merujuk tema antikorupsi. Sedangkan kemandirian ekonomi diwujudkan dengan iuran dan gotong royong swasaya untuk mendanai penerbitan.

Semua dilakukan secara transparan. Bahkan saat perunjukan keliling atau roadshow dilakukan secara mandiri di berbagai kota.  Sejak Mei 2013 PMK melakukan perunjukan keliling ke berbagai wilayah di Indonesia dalam wujud pembacaan puisi, pentas seni berupa teater, musik, tari, sulap, dan seni tradisi. Termasuk diselingi stand up comedy, seminar, diskusi, orasi, lomba baca puisi, lomba cipta puisi dan sebagainya.

Baca juga :  Indahnya Kebhinnekaan dalam Haul Gus Dur

Pertunjukan keliling diselenggarakan di berbagai tempat, mulai sekolah, kampus, pondok pesantren, perpustakaan, kantor pemerintah, kantor DPRD, KPK, pusat kesenian, pusat perbelanjaan, taman kota, dan lembaga pemasyarakatan. Gerakan PMK, bersifat nirlaba serta tidak terkait dengan aktivitas politik praktis.

“Gerakan PMK dilontarkan penyair Semarang Heru Mugiarso telah menerbitkan sejumlah antologi puisi. Merangkum karya penyair berbagai daerah, usia, dan kecenderungan puitika,” kata Sosiawan Leak. Melalui mekanisme seleksi dan penyuntingan karya. Antologi puisi diterbitkan dalam buku Puisi Menolak Korupsi. Telah terbut enam buku kumpulan puisi menolak korupsi.

Selain itu menerbitkan buku kumpulan tulisan berupa esai, reportase, dan laporan road show berjudul Bunga Rampai PMK: Bergerak dengan Nurani yang memuat 73 tulisan karya 69 penulis. Serta kumpulan esai kata tak sekedar melawan memuat 21 esai karya 21 penulis.

Seruan Antikorupsi di Pendapa Agung

Pertunjukan para penyair menyita perhatian para penonton. Pertunjukan dibagi dalam tiga panggung, sebuah panggung utama di depan dan dua panggung di kanan dan kiri pendapa. Bahkan sejumlah penyair tampil atraktif dengan gerak tubuh dan berteatrikal tepat di tengah pendapa. Sedangkan penonton duduk bersimpuh di lantai.

Para penonton menikmati pertunjukan, permainan pencahayaan dan beragam irigan instrumentalia mulai karinding, gitar, perkusi, ukulele dan seruling. Suasana Pendapa Agung Kabupaten Malang Jalan Kiai Haji Agus Salim Nomor 7 Kota Malang semarak.

Pertunjukan dilangsungkan di Pendapa Kabupaten Malang, tepat di depan rumah dinas Bupati Malang Rendra Kresna. Rendra tengah ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena diduga korupsi. Sehingga pertunjukan tepat dilangsungkan di jantungnya koruptor.

Harum dupa menguar menyebar sudut ruangan pendapa agung. Sebagian tampil dengan seni tradisi, menari dan mengenakan pakaian tradisi. Tak ketinggalan penyair yang menyajikan dalam bentuk musikalisasi puisi.

Baca juga :  Mengintip Surga di Taman Langit

Pertunjukan malam itu tak lepas dari tangan dingin Koordinator PMK di Malang Bedjo Sandi. Seniman yang tengah bereksperimen dengan intrumen musik tradisi karinding ini dikenal sebagai pemain teater. Aktif di teater Celoteh. Sehingga perunjukan menjadi hidup, dan penuh makna.

Salah seorang penonton yang juga pegiat Malang Corruption Watch (MCW) Bayu Diktiarsa mengaku menikmati pertunjukan. Sajian puisi dikonsep secara menarik dan atraktif. “Tampil bagus dan sangat indah. Salah satu sajian parade puisi dengan konsep yang sangat menarik,” kata Bayu.

Penyair dari Kota Malang Denny Mizhar membacakan puisi berjudul “Pada Kematian di Kantor Wali Kota.” (Terakota/Eko Widianto).

Menurutnya banyak makna yang terkandung di dalam puisi para penyair. Apalagi penonton yang hadir dilibatkan dalam, pertunjukan teatrikal. Mengajak penonton menyanyi Indonesia Raya untuk mengiringi puisi. “Sangat berkesan. Apalagi pertunjukan dilangsungkan di pendapa Kabupaten Malang, tempat koruptor digeledah,” katanya.

Bayu mengaku terkesan saat salah satu bagian pertunjukan puisi menolak korupsi, yakni mengajak penonton mendoakan agar korupsi tak terjadi lagi. PMK, katanya, tepat dilangsungkan di Malang lantaran tiga Kepala Daerah ditangkap karena korupsi.

“Puisi berperan memotret realitas social. Korupsi menjadi musuh bersama tak hanya pegiat antikorupsi, KPK, atau aparat penegak hukum lain,” ujarnya. Kegiatan kolaborasi semacam ini, katanya, perlu dilakukan dalam aksi bersama.

 

 

 

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini