Kado bagi 350 Musisi yang Memajukan Seni Musik di Nusantara

Bagian perawatan Museum Musik Indonesia, Jauhari memandu proses mencuci piringan hitam di gedung Kesenian Gajayana Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id–Sejumlah relawan dan pengurus Museum Musik Indonesia (MMI) duduk berjajar di dalam gedung kesenian Gajayana, Jalan Nusakambangan Kota Malang. Bersamaan mereka mengambil piringan hitam dan mengeluarkannya dari sampul. Di depan mereka ada sebuah ember berisi air, di sampingnya sebuah botol berisi detergen cair dan spons. “Basahi spons  dengan air,” kata bagian perawatan MMI, Jauhari.

Jauhari memandu para relawan membersihkan piringan hitam. Lantas spons basah ditempelkan di piringan hitam. Spons diputar searah jarum jam, mengikuti alur piringan hitam. Setelah cukup bersih, ditetesi cairan detergen. Usai piringan hitam dibersihkan detergen, piringan dibilas dengan air. Sampai busa detergen hilang dan bersih.

Arah spons diputar searah jalur jam, mengikuti alur. Jika berlawanan akan merusak alur hingga mengakibatkan piringan hitam cacat. Piringan hitam bisa rusak dan tak bisa diputar sempurna. Mencuci piringan hitam dilakukan untuk menjaga agar piringan hitam layak diputar.

Setelah piringan hitam bersih, piringan hitam diangin-anginkan dengan suhu ruang. Piringan hitam ditiriskan dan tak boleh dijemur terkena sinar matahari langsung. “Cukup diangin-anginkan saja. Jangan terkena sinar matahati, bisa melengkung. Suara rusak,” kata Jauhari.

Saat ini MMI memiliki sekitar 2.600 piringan hitam yang berasal dari hibah anggota MMI maupun sumbangan masyarakat. Piringan hitam diperiksa, ditata sesuai dengan kondisi fisik. Piringan hitam yang rusak dan kotor dipisahkan. “80 persen piringan hitam bisa diputar, suaranya bagus dan jernih,” katanya.

Deretan piringan hitam koleksi Museum Musik Indonesia. (Terakota/Eko Widianto).

Setelah bersih dan layak diputar, relawan MMI menyiapkan sampul khusus piringan hitam yang sampulnya rusak atau hilang. Minat terhadap piringan hitam kembali meningkat. Banyak kolektor kembali berburu barang rekaman analog. Seperti piringan hitam. Sehingga mendongkrak harga di pasaran piringan hitam menjadi mahal.

Baca juga :  Bermain dan Belajar di Candi Badut

Sebagian besar piringan hitam merupakan rekaman lagu karya artis penyanyi 1970an. Sedangkan produksi piringan hitam dihentikan mulai 1981. Setelah itu, piringan hitam tak berproduksi. Koleksi piringan hitam di MMI paling tua diproduk 1957. Piringan hitam ini diproduksi Lokananta, Surakarta. Sebagian besar piringan hitam tak dicantumkan tahun pembuatan, sehingga tak ada kapan piringan hitam diproduksi.

Sekretaris Museum Musik Indonesia, Anang Maret menjelaskan secara khusus jika ada debu tebal di piringan hitam cukup dilap denagan spons atau kain halus. Spons diputar halus agar tak menggores piringan hitam.

“Jangan gunakan cairan kimia. Bisa bereaksi dan merusak jika piringan berubah warna,” katanya. Piringan hitam dihilangkan dari debu. Termasuk membersihkan lemak yang menempel. Kini, sebanyak 24 ribu lagu telah diproses digital.

Penghargaan untuk Musisi

MMI mengusulkan 350 nama musisi di Indonesia kepada 34 Gubernur di Indonesia untuk memberikan penghargaan. Surat permintaan kesediaan Gubenur memberi penghargaan dilayangkan ke masing-masing Gubernur. Musisi tersebut berasal dari musik tradisi maupun modern.

Nama musisi ini didata dari rekaman yang dikoleksi MMI. Paling banyak musisi berasal dari Ambon, Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Sedangkan ada lima Provinsi yang tak ada band atau penyanyi dari Provinsi Bengkulu, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Papua Barat.

“Barang kali belum sempurna. Ada yang belum diusulkan,” kata Ketua MMI Hengki Herwanto. Usulan ini dilakukan untuk menyambut hari musik Nasional 9 Maret 2019. Para musisi lokal ini turut berperan memajukan seni musik di daerahnya. Sehingga menambah khasanah musik Indonesia.

Khusus tingkat kota, MMI mengusulkan 25 nama musisi yang disodorkan kepada Wali Kota Malang Sutiaji untuk diberikan penghargaan. Antara lain Laily Dimjathie, penyanyi pop pada 1970-, Sipoet pemain bass setengah abad band. Sipoet menghasilkan banyak lagu yang dinyanyikan grup band Jakarta. Serta Mickey Merkelbach vokalis band Jaguar, Bentoel, dan  Ogle Eyes.

Baca juga :  Menyaksikan Gelaran Festival Panji Nusantara

“Mereka telah meninggal,” ujarnya.  Selain itu juga diberikan kepada antara lain Nova Ruth, Ian Antono, Toto Tewel, dan Abadi Susman.Penghargaan kepada para pemusik yang turut memajukan seni musik ini diharapkan memacu musisi lokal untuk terus berkarya.

Album Penjelam Mutiara karya musisi Malang Laily Dimjathie. (Terakota/Eko Widianto).

MMI total memiliki koleksi  26.109 rekaman terdiri dari piringan hitam, kaset dan cakram padat. Terbanyak dalam bentuk kaset sebanyak 15 ribu, piringan hitam sejumlah 2.600. Sebagian besar berasal dari sumbangan masyarakat. Sebagian membeli di pasar loak, dan membeli secara daring dari luar negeri. Terutama khusus untuk rekaman luar negeri seperti Uzbekistan, Rusia, negara di Afrika dan Amerika Selatan.

Hengki berharap MMI menjadi pusat dokumentasi musik Indonesia. Selain rekaman fisik, juga memiliki beragam koleksi buku, majalah, memorabilia, brosur, dan leaflet. Selain itu juga memiliki sebanyak 70 jenis instrumen music tradisional dari beragam wilayah di Nusantara.

Selain itu, juga tengah dikaji untuk mengusulkan sejumlah piringan hitam kategori cagar budaya. Meliputi piringan hitam yang merekam lagu genjer-genjer. Lagu ini sempat dilarang beredar dan dinyanyikan karena diduga terkait Partai Komunis Indonesia. “Masih dikaji apa cukup bermanfaat jika diajukan. Lagu ini kontroversial,” katanya.

Selain itu juga piringan hitam rekaman karya Koes Bersaudara selepas keluar dari penjara. Mereka merekam lagu usai dipenjara gara-gara dituduh menyebarkan budaya asing dengan lagu ngak ngik ngok. Juga ada piringan hitam produksi Lokananta duplikasi lagu yang dimainkan pencipta Indonesia Raya, WR Soepratman.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini