Kabinet Rasa Liga Champions

Ilustrasi : Komikkita

Terakota.id–Menarik sekali menguta-katik Liga Champions  grup B 2020/2021 setelah laga kelima. Dalam grup ini bercokol Real Madrid, Inter Milan, Skakhtar Donetsk dan Borussia Moenchengladbach. Persaingan untuk lolos ke babak gugur sangat ketat. Saat itu Borussia Moenchengladbach memimpin dengan 8 poin, disusul Shakhtar Donetsk (7), Real Madrid (7) dan Inter Milan (5). Keempat grup masih punya peluang lolos ke babak knock out. Pertandingan tinggal menyisakan satu pertandingan lagi; Real Madrid vs Moenchengladbach dan Inter Milan vs Shakhtar.

Moenchengladbach bisa lolos dengan catatan; (1) tidak kalah dari Real Madrid atau Shakhtar seri lawan Inter dan (2) Moenchengladbach menang, maka jadi juara grup. Shakhtar lolos jika; (1) mengalahkan Inter atau laga Real vs Moenchengladbach berakhir imbang dan (2) Shakhtar jadi juara grup apabila menang, sementara Moenchengladbach gagal menang atas Real. Inter akan lolos bila mengalahkan Shakhtar, Real Madrid vs Moenchengladbach berakhir seri. Kemudian Real dapat lolos juga jika; (1) menang atas Moenchengladbach, (2) seri kontra Moenchengladbach, tetapi Shakhtar kalah dari Inter, dan (3) Madrid memimpin gup apabila menang, kemudia Shakhtar gagal memang atas Inter.

Posisi yang sulit dan mendebarkan bagi semua tim. Namun apa yang terjadi? Real menang melawan Moenchengladbach (2-0), sementara Shakhtar vs Inter berakhir imbang (0-0). Maka Real juara grup dengan nilai 10, disusul Moenchengladbach (8), Shakhtar 8 dan Inter (6). Ranking 1 dan 2 otomatis lolos ke fase gugur Liga Champions. Namun, posisi ketiga masih bisa punya hiburan, yakni lolos otomatis ke Liga Europa (dulu piala UEFA)  atau “Liga Malam Jumat” untuk istilah orang Indonesia.

Keempat tim memang mengejar menang dan lolos ke Liga Champions. Tidak saja bergengsi tetapi juga berhadiah besar. Namun jika toh tidak lolos, tim bisa mengejar posisi tiga yang bisa bermain di Liga Europa. Jadi tim rangking tiga tidak sedih-sedih amat jika tidak lolos.  Itu semua tentu regulasi  dalam organsasi sepak bola Eropa bernama UEFA (Union of European Football Associations).

Bahkan meskipun berada di bawah kasta Liga Champions,  gengsi Liga Eropa diakui pelatih tim Ajax Amsterdam Erik Ten Hag, “Kami sangat ambisius dan ingin menjadi salah satu dari 16 tim terbaik di eropa, tetapi tidak masalah jika kami gagal. Liga Europa masih menjadi ajang yang bagus”.

Apa yang menarik dengan kasus-kasus perjuangan fase grup di Liga Champions? Sangat menarik karena ada hadiah dan gengsi yang akan didapatkan. Juga termasuk keuntungan-keuntungan lain misalnya sponsor, keuntungan penjualan tiket, jersey, hak siar dan lain-lain. Yang pasti, posisi suporter masing-masing pihak tetap berkompetisi dan menjagokan timnya masing-masing. Bahkan pada ahun 1995 pernah sempat terjadi tragedi di stadion Heysel, Brussels. Satu jam sebelum final pertandingan Liga Champions, hooligan Liverpool dan suporter Juventus bentrok yang menewaskan 39 orang.

Jabatan Politis

Beberapa waktu lalu, presiden Joko Widodo (Jokowi) mengangkat Sandiaga S Uno menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di jajaran Kabinet Indonesia Maju. Sandi menyusul Prabowo yang sudah terlebih dahulu menjadi Menteri Pertahanan (Menhan). Sebagaimana diketahui Prabowo-Sandi lawan politik Jokowi-Ma’ruf Amin saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Bagi Jokowi mengangkat Prabowo-Sandi yang sebelumnya menjadi lawan mempunyai keuntungan tersendiri untuk “menjinakkan” oposisi, meskipun oposisi sebenanya sudah mati kutu di Indonesia. Ini tentu kepiawaian Jokowi agar kekuasaannya tanpa kontrol secara efektif. Ia berusaha merekrut berbagai pihak, termasuk lawan politiknya.

Itu semua menguntungkan dari segi stabilitas politik tetapi tidak baik bagi pengembangan demokrasi yang diklaim dilaksanakan di Indonesia pula. Jadi dalam hal ini demokrasi memang telah mati atau sengaja dimatikan. Prinsip-prinsip demokrasi mati suri  setelah Prabowo diangkat menjadi menteri. Menjadi semakin tenggelam saat Sandi diangkat menjadi menteri.

Tentu Jokowi tidak salah. Presiden dan menteri memang jabatan politis. Sementara untuk mewujudkan kebijakan perlu dukungan secara politis. Toh Prabowo dan Sandi juga mau-mau saja. Masalahnya, di sini memang hanya berususan dengan pantas dan tidak pantas.

Saya saat Pilpres 2019  pernah ditanya oleh seorang teman, apakah jika PrabowoSandi  menang dan mendapat dukungan sebagian umat Islam yang selama ini diasosiasikan “garis keras” akan melindungi kelompok itu jika pasangan tersebut menjadi presiden? Saya menjawab dengan tegas tidak. Sebab, kelompok itu hanya dijadikan alat dan batu loncatan dukunganya menjadi presiden. Setelah menjadi presiden kita tidak pernah tahu. Presiden adalah jabatan politis. Tentu Prabowo juga akan berusaha untuk mengukuhkan kekuasaaannya jika jadi presiden. Karena kompetisi Pilpres kebanyakan hanya untuk  meraih atau mempertahankan kekuasaan.

Buktinya, saat ditawari menteri saja mau. Bukankah itu satu dari sekian indikasi bahwa pertarungan dalam memperebutkan kursi presiden itu politis dan berkaitan dengan kekuasaan? Lumayanlah bisa menjadi menteri. Pilihan itu tidak buruk karena tak ada larangan. Hanya akan tercatat dalam sejarah yang menegaskan bahwa Pilpres memang hanya untuk kekuasaan semata. Sebaiknya masyarakat umum tidak perlu menggebu-gebu ikut larut menjadi pendukung fanatik.

Para pendukung fanatik, apalagi masyarakat yang hanya ikut-ikutan pada akahirnya bisa kecewa.  Para pendukung Jokowi tentu kecewa ketika pesaing dalam Pilpres justru yang diangkat menjadi menteri. Mengapa tidak dari kalangan mereka yang sudah berjuang “berdarah-darah”? Inilah bukti bahwa presiden dan menteri itu jabatan politis. Para elite politik yang bertarung bisa enak-enakan “makan bersama” tetapi sampah perseteruan Pilpres dalam masyarakat akan tetap terasa. Yang sengsara tentu saja masyarakat itu sendiri.

Jika endingnya begitu, mengapa harus ada Pemilu yang menghabiskan anggaran negara? Bagaimana pengorbanan para petugas pemungutan suara yang meninggal karena kelelahan dan faktor lain terkait Pemilu? Bagaimana korban jiwa dan harta yang tak sedikit akibat perseteruan Pilpres di masyarakat? Dan lain sebagainya.

Kalau begitu mengapa tidak dibuat aturan seperti pertandingan Liga Champions? Mereka yang tak lolos ke fase gugur  Liga Champions dan berada di urutan ke-3 masih bisa ikut Liga Eorupe. Mengapa tidak dibuat aturan sekalian bahwa lawan politik yang kalah Pilpres bisa menjadi menteri atau pejabat lainnya? Jika demikian maka korban perseteruan akan bisa ditekan. Mereka yang berkompetisi tidak akan membabi buta, toh suatu saat tetap bisa menjabat.

Isoman hari ke-5 (28-12-20)

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini