Juno: Vaksinasi Infodemi Melalui Novel Komedi

Ilustrasi : Gasgo/ news.abs-cbn.com

Terakota.id–Infodemi merupakan penyakit yang lebih berbahaya dari pandemi karena dapat menurunkan imunitas dan menyebarkan ketakutan. Anak turunan dari pandemi adalah coronafobia dan hoaxfobia. Virus akal budi adalah penyebabnya. Manusia yang terjangkit virus akalbudi akan mudah menyebarkan berita hoax, mengambil keuntungan pribadi, hingga mereproduksi infodemi pada masyarakat di sektarnya. Ketika kondisi seperti ini terjadi, Toga Mas Madiun mengambil langkah sangat jitu dengan meluncurkan kembali Novel Juno pada para pembacanya. Novel Juno merupakan Novel yang berkisah tentang seorang komedian bernama Juno yang tersesat di jalur stand up comedy.

Dikatakan tersesat karena cita-cita awal Juno sesungguhnya adalah seorang roker. Namun Bang Haji Rhoma Irama pernah berkata, banyak Jalan menuju Roma. Nasib Juno setali tiga uang dengan petikan lirik legendaris itu. Ia tak lantas menyerah dan memulai jalan ninjanya menjadi rockstar sejati melalui panggung komedi.  Novel Juno bukan hanya sekedar mengajak pembaca untuk belajar tertawa, tapi juga mengajak untuk menanak harapan dan cita-cita.

Rockstar dan Komedian

Leaiving on a Jet Plane merupakan sebuah lagu dari Bon Jovi yang menyuarakan suara kaum marginal. Begitu pula dengan lagu rock lainya yang memang didominasi sebagai suara kaum yang tak mampu berusuara. Bon Jovi, Axl Rose, hingga Freddie Mercury merupakan contoh-contoh rockstar yang mampu membuat pendengarnya terhentak dan terhenyak hatinya. Dalam setiap konser rock, ekspersi pendengarnya sangat terlihat nyata. Mereka tidak hanya sekedar menikmati musik, tapi juga melepaskan kepenatan dan bahkan menyampaikan idealismenya. Di Indonesia, musik rock pun juga cenderung cadas dan beringas. Ahmad Albar dengan Semut Hitamnya, Ikang Fawzi, Sylvia Saartje, hingga Kaka Slank, semuanya berjalin berkelindan menyampaikan kondisi sosial masyarakat sekitar.

Idealisme seorang rockstar seharusnya sampai pada tahap ketika mereka mampu menjadi corong bagi kaum yang tak bersuara. Idealisme seperti ini belum dimiliki oleh Juno. Teriakan untuk dianggap sebagai rockstar dengan jari tiga mengacung ke atas adalah cita-cita dasarnya. Hal ini bisa dimalklumi karena usia Juno masih barulah dewasa tahap awal. Dikisahkan Juno merupakan seorang anak yang lulus SMA dan tidak memilih kuliah tapi berkeyakinan penuh untuk bergerak di jalur industri kreatif yaitu band. Nasib naas menimpanya ketika dia dikeluarkan dari band oleh teman-temanya. Mereka semua tidak menolerir Juno karena Juno ingin tetap bandnya di jalur musik rock. Teman-temanya tidak setuju, mereka lebih memilih irama pop demi memenuhi selera pasar. Secara jumlah, Juno kalah dan ia merasa seperti dilempar ke tempat sampah.

Nasib inilah yang membawa Juno merasa diri menjadi marginal seutuhnya. Belum lagi, wanita yang dikaguminya tiba-tiba meninggalkanya begitu saja. Ia benar-benar jatuh dan tersingkir. Saat dirinya benar-benar berada dalam titik nadir, bertemulah ia dengan komedian berjuluk Papa. Komedian inilah yang mengajarinya sebuah seni baru yaitu stand up comedy. Juno pun tertarik meski pergulatan batinya tetap terasa. Materi stand up pertamanya adalah kisah hidupnya sendiri dan ia hanya mendapat kernyitan dahi dari penonton, tanpa tawa.

Meskipun demikian, Juno tidak menyerah. Ia merasa bahwa stand up comedy merupakan jalan untuk mencapai cita-citanya. Hal itu didukung dengan fakta bahwa dia disebut sebagai komedian Rocker, dan dia mendapat sambutan tiga jari ketika naik ke panggung. Ini seperti yang dicita-citakanya dulu.

Sebagai seorang komedian, sesungguhnya Juno merepresantsikan segala peristiwa di sekitarnya menjadi materi komedi. Ia juga menyuarakan ketragisan hidupnya dan mengemasnya menjadi tawa. Ini sesungguhnya merupakan benang merah tersirat antara rockstar dan komedian, keduanya bergerak di jenis pementasan berbeda tapi padasarnya menyuarakan suara-suara yang tak mampu bersuara, bahkan tak sedikit kritik terhadap penguasa. Sebelum stand up comedy, bukankah anekdot dan pasemon juga humor yang tumpul ke bawah tapi tajam ke atas?

Penanda Memori

Novel karya Jacob Julian yang ditulis pada tahun 2013 ini benar-benar menjadi penanda memori bagi kota Madiun. Hal yang kurang lebih sama seperti yang dilakukan novelis Madiun era Balai Pustaka, Soetomo Djauhar Arifin, dalam novelnya bertajuk Andang Teruna. Penanda memori memang sangat diperlukan mengintat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang secara eksponensial beberapa tahun ini. Dalam lima tahun saja, perkembangan teknologi dan komunikasi mengalami beragam cara untuk bertansformasi. Hal ini mempengaruhi segala sektor mulai dari sektor fisik hingga sektor non fisik. Sektor fisik seperti pembangunan tata letak kota, dan sektor non fisik seperti pola perilaku kebiasaan masyarakat.

Penanda memori yang dilakukan oleh Jacob dari segi sekttor fisik secara umum dapat dibagi menjadi tiga, kondisi tempat, lokasi, dan kuliner. Kondisi fisik suatu tempat dibagi menjadi tiga, yaitu kondisi kafe, kondisi studio, dan kondisi fisik SMA. Khusus untuk kondisi tempat SMA, Jacob memfokuskan pada pentas SMA. Seluruh kondisi tempat tersebut dikaitkan dengan pertunjukan band dan stand up comedy. Kondisi fisik berupa lokasi dapat dilihat ketika tokoh Juno mengitari kota di siang hari kemudian berhenti di alun-alun. Jacob merepresentasikan Madiun sebagai kota yang panas, dan alun-alun dijadikan sebagai tempat istirahat. Kondisi pedagang, kondisi gersang, dan kendaraan yang berlalu lalang hingga anak-anak di sekitaran alun-alun diejawantahkan oleh Jacob.

Selain itu, Jacob juga menyampaikan  Patung Kolonel Mahardi sebagai ikon alun-alun di bagian selatan, lengkap dengan kondisi komunitas skateboard di sektaran patung. Pada bagian barat, Jacob menggambarkan Masjid Agung yang terbesar di kota. Pada bagian timur, Jacob juga menyampaikan keberadaan Presiden Plaza, mall tertua yang menjadi pusat grosir ponsel di Madiun. Uniknya, Jacob membuka memori bagian utara alun-alun yang saat novel tersebut ditulis menjadi sarang burung walet. Jacob membuka ingatan pembaca dan mengatakan bahwa dulu di lokasi tersebut ada Bioskop Arjuna, bioskop yang seringkali menyajikan adegan “panas”. Penanda memori secara fisik yang menarik berikutnya adalah kuliner. Jacob menyebutkan kuliner khas Madiun, khususnya pecel dan nasi jotos.

Penanda memori non fisik dalam novel Juno adalah pola pergaulan pemuda di tahun 2010-an awal. Kebiasaan untuk menyewa studio band, kemudian bermain playstation, hingga awal kemunculan stand up comedy di kafe.

Penanda memori selanjutnya adalah Jacob muulai menyinggung profesi komedian dari Madiun. Memang Kota Madiun dan Kaeresidenan Madiun mencetak komedian dan terbukti secara historis bahkan hingga kini banyak komedian dari Madiun yang merambah ke level nasional. Mulai dari Kirun hingga Nopek Nopian. Ini menarik, dan Jacob bisa menguaknya. Sebuah sisi positif yang acap kali absen saat mendengar nama Madiun.

Permainan Bentuk

Menuliskan novel bertema seni pertunjukkan berarti harus mampu mentransformasikan indra pengelihatan ke dalam tulisan. Novel ini memiliki kerumitan yang lebih karena tokoh utama merupakan seniman yang melakukan pertunjukkan komedi, hal itu membua penulis harus mampu memainkan bentuk naskahnya. Permaianan bentuk novel dilakukan agar imaji penulis tentang visualisasi dapat digabungkan dengan imaji auditori yang ditransformasikan dalam bentuk narasi prosa fiksi.

Permainan bentuk yang dilakukan doleh Jacob yaitu dengan cara mengubah bentuk dan ukuran huruf serta memberikan tanda pembatas dan beberapa ikon dalam novelnya. Jacob memainkan bentuk keterbacaan naskah untuk menandai naskah yang diucapkan oleh narator, dengan narasi panggung tokoh utama ketika tampil melakukan aksinya.

Permainan bentuk seperti ini tentu sangat rumit. Penulis tidak hanya tertantang untuk membuat pembaca mamu membedakan narasi penulis dengan narasi tokoh, tapi juga mampu membuat imaji kelisanan tertangkap oleh imaji keberaksaraan. Stand up comedy merupakan seni pertunjukan dengan mengandalkan penampilan menyampaikan humor pada pendengar. Pola pikir yang digunakan tentu pola pikir kelisanan. Ketika seni ini ditransformasi dalam bentuk teks, maka penulis harus menjaga betul imaji kelisanan tersebut agar makna dan humornya sampai pada imaji keaksaraan. Intonasi, mimik, ekspresi, jeda, volume suara semuanya dieliminasi dan direduksi menjadi sebuah susunan aksara.

Meskipun demikian, Jacob sebagai penulis mampu mawas diri terhadap permainan bentuk ini. Ia benar-benar memahami bahwa humor merupakan teknik memainkan logika. Ketika logika yang seharusnya terjadi tiba-tiba terbelokkan atau mengalami ketidaksesuaian, di situlah humor akan muncul. Keterkejutan-keterjutan logika inilah yang coba dimainkan oleh Jacob. Itulah sebabnya novel ini cukup panjang. Penulis benar-benar membutuhkan ruang untuk menampilkan keunggulan tokoh utamanya. Narasi bukan lagi sebagai senjata utama, tapi humor yang disajikan tokoh utama adalah salah satu bobot dalam novel ini. Itulah alasan yang membuat Juno tetap layak dinikmati sejak dulu, kini, dan nanti.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini