Job Burnout

Ilustrasi : Dreamstime.com

Terakota.id–Kenaikan jumlah pasien covid-19 terus merangkak. Bahkan naik turunnya pun tidak bisa diduga. Daerah yang sebelumnya masuk zona merah, menjadi kuning atau hijau lalu menjadi merah lagi. Daerah yang semula hijau bisa menghitam lagi. Tak ada jaminan pasti kapan pandemi ini segera berakhir. Meskipun pejabat pemerintah sekalipun mengatakan atau memberi jaminan selesainya wabah ini. Semua serba naik turun tanpa diduga.

Bahkan, ada kenaikan  penting  terkait bed occupancy rate (BOR) atau keterisian ruang isolasi dan unit perawatan intensif (ICU) rujukan. Di Malang, beberapa Rumah Sakit (RS)  sudah tidak menerima pasien yang  terkena covid-19. Apakah bisa dibayangkan repotnya tenaga medis yang setiap saat harus memakai Alat Pelindung Diri (APD)? Bisakah mereka dengan mudah menekan stress jika setiap saat mendengar bunyi sirine ambulan keluar masuk RS?

Kita yang berada di luar RS hanya bisa membayangkan. Tak bisa merasakan  bagaimana panas dan sesaknya pakai APD atau mendegar bunyi sirine. Tetapi bisakah membayangkan  bagaimana tingkat stress para dokter dan tenaga kesehatan tersebut?

Lalu, baru-baru ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menemukan ada sekitar 85 persen tenaga medis  yang menangani pasien Covid-19 — sejak awal masa pandemi  — mengalami burnout syndrome atau tekanan psikologis akibat pekerjaan. Korban terus berjatuhan tidak saja masyarakat tetapi juga dokter dan tenaga medis. Tak kurang sudah mencapai 180 dokter dan  114 perawat yang meninggal (28 November 2020).  Sangat mungkin jumlah akan terus meningkat.

Bisa jadi info jumlah penderita covid-19 tidak sebagaimana yang kita simak dari media. Itu pemberitaan yanag diketahui. Yang tidak diketahui sangat mungkin lebih dari itu. Melihat realitas masyarakat kita tentu tak sedikit yang terkena virus tidak lapor ke Satgas covid-19, merasa baik-baik saja meski terinfeksi  virus atau takut untuk memeriksa dan belum siap perlakuan medis jika reaktif. Informasi di permukaan seringali tidak menggambar senyatanya. Belum lagi termasuk mereka yang menolak untuk diperiksa. Kenyataan di atas tentu semakin menekan psikologis dan menjadi beban dokter dan perawat.

Stress Tinggi

Yang dikhawatirkan kemudian muncul gejala job burnout.  Job burnout adalah suatu kondisi fisik, emosi, mental yang sangat drop diakibatkan oleh situasi kerja yang sangat menuntut dalam jangka panjang. Jika tak segera diatasi bisa mengarah ke stress tingkat tinggi.

Itulah yang  dialami tenaga  medis kita saat ini.  Sementara itu daya tahan seseorang sangatlah terbatas. Di sisi lain dituntut untuk selalu meningkatkan kesehatan dengan menjaga imun tubuh.

Dalam kondisi stress tingkat tinggi, kelelahan akan menghinggapi dan kemudian akan membuat imun tubuh menjadi turun. Sekuat apapun bisa dilakukan manusia, kalau sumber ketertekanan tidak bisa diatasi hal demikian tetap akan menjadi masalah.

Ibaratnya, sehebat apapun sebuah obat tetapi tanpa bisa mengatasinya  akar sumber penyakit itu, hasilnya tentu tidak akan memuaskan. Kondisi stress tingkat tinggi itulah yang sering membuat orang hilang akal dan berbuat di luar nalar. Ini tak bermaksud para dokter dan tenaga medis kita berbuat di luar nalar. Bukan itu. Tetapi sebagai manusia lumrah mereka terbuka peluang untuk melakukannya.

Sebagai manusia normal, mereka juga punya hak untuk hidup normal. Hanya karena kewajiban dan kondisi yang tidak memungkinkan, mereka berbuat secara profesional untuk masyarakat banyak. Siapa mau menyangkal bahwa perjuangan dokter dan tenaga medis  itu tidak berat? Kepada siapa mereka bisa meneriakkan ketertekanannya jika tidak pada para pengabil kebijakan? Ini misalnya. Apakah kita bisa membayangkan jika ada salah satu anggota keluarga ada yang menjadi dokter atau tenaga medis? Bagaimana perasaanya? Bagaimana  beban psikoligis  keluarganya? Bagaimana pula jika ada pasien yang menolak mentah-mentah dirawat padahal reaktif? Ini misalnya. Apakah kita tidak peduli dengan ini?

Masyarakat bisa membantu mereka agar tidak stress tingkat tinggi. Salah satunya mematuhi anjuran protokol kesehatan (prokes). Itu cara ringan yang tidak saja membantu mereka tetapi juga membantu kita sendiri. Sudahlah. Jangan merasa hebat. Bantulah dokter dan tenaga media itu dengan mematuhi prokes. Kalau tidak kita siapa lagi yang bisa membantu mereka? Sekali lagi, membantu mereka juga membantu diri kita sendiri, bukan?

Di Masyarakat

Job burnout  ini sebenarnya juga bisa menimpa masyarakat. Sama dengan dokter, masyarakat itu juga bisa dihinggapi stress tingkat tinggi. Saat kebutuhan, kepentingan, aspirasi masyarakat tidak bisa tersalurkan maka itu akan membuat ketertekanan. Jika ketertekanan terus terjadi, maka ia akan menumpuk. Suatu saat akan mengalami eskalasi. Pada dasarnya setiap masyarakat membutuhkan katarsis (penyalur).

Ketika di masyarakat tidak segera ditegakkan keadilan sebagai problem yang selama ini terjadi, maka ia akan membuat masyarakat tertekan pula. Jika pemerintah sibuk dengan kepentingan politiknya dengan memandang sebelah mata kebutuhan dan keluhan masyarakat ini akan membuat job burnout pula.

Sama dengan para dokter, kondisi fisik, emosi, dan mental masyarakat yang berkepanjangan ini bisa meledak. Sebelum terjadi, ada baiknya pemerintah mencari sebab bukan mengatasi akibatnya saja. Kasus Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), omnibus law, penanganan covid-19 beberapa diantara yang harus segara diantisipasi dengan mencari sumbernya. Selama ini pemerintah masih terkesan membuat obat kurap dengan hanya mengolesi salep di kulit luar anggota tubuh dan bukan mengobati sumber penyakitnya dari dalam.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini