Jihad Ekonomi Kaum Santri

Koperasi terbentuk karena ratusan kedai makanan di sekeliling Pesantren terlilit utang rentenir. Setiap bulan dipatok bunga sebesar 13 persen, yang diangsur setiap hari. Para guru di Madrasah prihatin dengan fenomena tersebut, sementara pedagang mengaku kesulitan mencari modal pinjaman secara syariah.

Terakota.id–Aktivitas perdagangan di Pasar Sidogiri Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan ramai. Para pedagang kewalahan melayani pembeli yang berbelanja kebutuhan pokok untuk bulan puasa. Aktivitas ramai juga terlihat di kantor Cabang Pembantu Koperasi Baitul Mal Wat Tamwil Maslahah Mursalah Lil Ummah (BMT MMU). Bangunan tiga lantai yang terletak persis di depan pasar tampak hilir mudik nasabah.

Sebagian antre duduk menunggu proses transaksi. Mengenakan songkok dan bersarung khas pesantren pegawai koperasi sigap melayani para nasabah. Suasana akrab dan terkesan non formal terlihat dalam layanan jasa keuangan syariah ini. Maklum, nasabah juga berdatangan dari kaum santri, pedagang dan petani warga sekitar. “Kami melayani sepenuh hati dan menghormati nasabah,” kata pimpinan cabang BMT MMU Sidogiri, Saiichon.

Ia berpengalaman menghadapi berbagai latar belakang nasabah. Suatu hari, seorang lelaki tua berpakaian lusuh dan mengenakan sendal jepit, berbeda pasangan. Tangan kanannya menenteng keranjang berisi daun kering. Saiichon mengira pengemis dan langsung menyodori selembar uang recehan. Si lelaki tua menolak dan membuka keranjang yang berisi lembaran pecahan Rp 100 ribu.

“Dia membawa uang tunai Rp 65 juta untuk investasi,” katanya. Faktor perbedaan bahasa, katanya, sering menjadi penghambat. Saiichon yang asli Pasuruan kesulitan menghadapi nasabah yang sebagian hanya mengenal bahasa Madura. Sehingga, ia pun mempelajari bahasa Madura.

Saiichon memulai bekerja di BMT MMU sejak 2001 sebagai kasir. Alumni Pondok Pesantren Sidogiri ini hanya mengenyam pendidikan formal Sekolah Dasar serta melanjutkan Madrasah Tsanawiyah selama di Pesantren. Sehingga ia tak memiliki latar belakang administrasi dan akuntansi.

Namun, ia giat berlatih dan belajar administrasi hingga dipercaya sebagai pimpinan BMT MMU sejak lima tahun lalu. Membawahi 14 pegawai, ia kerap menggelar rapat rutin setiap pekan. Sekitar 80 persen pegawai merupakan alumni Pesantren Sidogiri.

Membebaskan dari Jeratan Rentenir

Pegawai BMT UGT Sidogiri melayani nasabah. (Dokumentasi BMT UGT).

Koperasi BMT MMU berdiri sejak 17 Juli 2007, beranggotakan 315 guru Madrasah Miftahul Ulum lembaga pendidikan Pesantren Sidogiri. Dari simpanan pokok dan simpanan wajib anggota terkumpul modal awal Rp 13,5 juta. “Jadi rata-rata per anggota menyetor modal Rp 15 ribu-an,” kata Manajer Utama BMT MMU, Dumairi Nor.

Koperasi terbentuk karena ratusan kedai makanan di sekeliling Pesantren terlilit utang rentenir. Setiap bulan dipatok bunga sebesar 13 persen, yang diangsur setiap hari. Para guru di Madrasah prihatin dengan fenomena tersebut, sementara pedagang mengaku kesulitan mencari modal pinjaman secara syariah. “Tak pantas santri mengonsumsi makanan di kedai yang modalnya dari riba,” katanya.

Baca juga :  Menguak Identitas Mpu Sindok Lewat Prasasti Cunggrang

Pesantren mendirikan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sidogiri yang berdiri sejak 1961. Namun, Kopontren hanya bergerak di sektor riil berupa toko kelontong, alat tulis, pakaian dan percetakaan yang melayani 5 ribuan santri yang bermukim di pesantren. Sedangkan pemilik kedai berharap memperoleh tambahan modal dari jasa keuangan sistem syariah.

Lantas, para guru Madrasah mendirikan koperasi jasa keuangan syariah untuk membantu permodalan pemilik kedai. Sejumlah pemilik kedai pun bergabung menjadi anggota termasuk santri. Saat badai krisis moneter 1998, BMT MMU dipercaya Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan menyalurkan paket bahan pokok bersubsidi untuk keluarga miskin.

Pembangian paket sembako disalurkan di sejumlah titik di Kabupaten Pasuruan. Progran menyaluran paket sembako BMT MMU mendapat keuntungan lima persen dari harga sembako. Namun, keuntungan itu habis untuk biaya operasional. “Manfaatnya BMT MMU semakin dikenal, promosi gratis,” ujar Dumairi.

Sejak itu, anggota semakin tersebar di seluruh wilayah di Kabupaten Pasuruan. Selain itu, juga memanfaatkan ranting Madrasah meliputi 118 ranting di Jawa Timur. Serta ratusan ribu alumni santri Sidogiri yang tergabung dalam Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS).

“Tersebar di seluruh Nusantara, Malaysia dan Arab Saudi,” ujarnya. Setiap Kota berdiri pengurus Konsulat IASS termasuk di Malaysia dan Arab Saudi yang sebagian besar adalah buruh migran atau TKI. Selain itu, juga memanfaatkan jaringan Urusan Guru Tugas (UGT). Pesantren Sidogiri setiap tahun mengirim 700-an lulusan Madrasah Miftahul Ulum menjadi pengajar di madrasah yang tersebar seluruh Indonesia.

Jaringan alumni, UGT dan wali santri menjadi modal sekaligus pasar bagi usaha BMT MMU. Sejumlah pengurus BMT MMU, pimpinan Madrasah, guru dan alumni mendirikan Koperasi Baitul Maal wat Tamwil Usaha Gabungan Terpadu (BMT-UGT) pada 6 Juni 2000.

Berdakwah Melalui Lembaga Keuangan

Kantor Pusat Koperasi Pesantren Sidogiri, Pasuruan. (Foto : Syariahcenter.com).

Kemajuan usaha ekonomi Pesantren Sidogiri menjadi buah bibir ulama dan warga sekitar. Tanggapan positif dan negatif bermunculan. Sehingga pengurus BMT MMU pun harus memberikan penjelasan mengenai usaha ekonomi yang dijalankannya. “Ada yang bilang, rentenir bersarung. Pesantren ikut urus ekonomi tak urus pendidikan,” ujarnya.

Namun, banyak juga yang berpendapat lembaga ekonomi syariah berdiri untuk memerangi riba. Menurutnya, lembaga yang dipimpinnya juga berperan sebagai media dakwah secara langsung kepada masyarakat menggunakan uang sebagai media. Sedangkan selama ini, dakwah hanya menggunakan lisan dengan ceramah dan dakwah tulis bermedia buku.

Baca juga :  Menutup Ramadan di Lereng Gunung Bromo

Kini, koperasi BMT MMU dan BMT UGT ekspansi ke luar Pasuruan. BMT MMU membuka 56 cabang tersebar di delapan Kota dan Kabupaten di Jawa Timur. Sedangkan BMT UGT telah tersebar 172 cabang di seluruh negeri. Lantaran BMT UGT menggunakan jaringan guru tugas mengajar di seluruh pelosok negeri.

Selama 10 tahun, modal ketiga koperasi meliputi Kopontren, Koperasi BMT MMU, Koperasi BMT UGT berkembang cepat. Pada 2000, modal Kopontren Rp 1,4 miliar pada 2011 meningkat menjadi Rp 10,7 miliar. Koperasi BMT MMU pada 2002 bermodal Rp 1 miliar, 2011  berkembang menjadi Rp 15,4 miliar. Sedangkan koperasi BMT UGT semula Rp 495 juta 2011  naik hingga Rp  47,3 miliar.

Sedangkan omset Kopontren tercatat 2011 sebesar Rp 78 miliar, Koperasi BMT MMU Rp 497 miliar sedangkan Koperasi BMT UGT melonjak hingga Rp 1,8 triliun. Sementara aset Kopontren tercatat Rp 28 miliar, Koperasi BMT MMU sebesar Rp 112 miliar, Koperasi BMT UGT mencapai Rp 406 miliar. Komposisi modal terdiri dari modal sendiri 13 persen, tabungan 80 persen sedangkan pinjaman perbankan syariah sekitar 7 persen.

Koperasi BMT UGT dan BMT MMU memiliki sejumlah produk syariah meliputi Mudharobah / Qirod (Bagi hasil), Musyarakah / Syirkah (Penyertaan/Investasi) dan Murobahah / Bai’ (Jual Beli) serta jasa talangan haji. Khusus BMT UGT membuka pelayanan pengiriman uang dan
investasi TKI di Malaysia dan Arab Suadi. “Uang hasil kerja TKI untuk investasi, lebih produktif,” katanya.

Sedangkan Kopontren Sidogiri bergerak di sektor riil berupa waralaba swalayan, percetakan, kedai makanan, pabrik air minum dalam kemasan, pabrik roti, toko kitab dan buku dan toko alat tulis kantor. Khusus swalayan dikembangkan menjadi bisnis waralaba dengan mengundang para investor.

Keterampilan mengelola koperasi, ketiga koperasi yang dikelola manajemen Pesantren Sidogiri menjadi rujukan studi banding sejumlah koperasi dari berbagai daerah. Termasuk mengundang pengurus untuk melatih dan menularkan ilmu mengelola lembaga keuangan syariah ke sejumlah koperasi. Seperti Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur pun belajar dari Koperasi Sidogiri.

Santri Turut Berinvestasi

Ribuan santri Pesantren Sidogiri turut berinvestasi di Kopontren Sidogiri. (Dokumen Ponpes Sidogiri).

Beragam prestasi ditorehkan pengurus yang dikelola para santri ini. BMT MMU mendapat dinobatkan sebagai Koperasi simpan pinjam syariah berprestasi dari Departemen Koperasi dan UKM, 2007. Gubernur Jawa Timur pada 2007 memberikan predikat sebagai koperasi terbaik Provinsi Jawa Timur. BMT UGT memperoleh penghargaan UMKM Award 2010 terbaik
kategori koperasi simpan pinjam dan Kopontren. Majalah Investor 2010 menetapkan BMT UGT sebagai BMT terbesar pertama dan BMT MMU terbesar ke tiga. Lembaga Keuangan Inspiratif OJK 2017.

Baca juga :  Buku Langka dan Unik Ramaikan Kampung Buku Jogja

Setiap tahun koperasi BMT MMU dan BMT UGT rutin menyalurkan zakat kepada masyarakat. Berupa 8 ribuan paket bahan pokok bagi masyarakat miskin di sekitar pesantren. Dari kedua koperasi, 2011 disalurkan zakat hingga Rp 2,1 miliar.

Sekitar 54 persen zakat disalurkan ke Madrasah ranting untuk gaji guru, 23 persen disalurkan ke pesantren dan selebihnya disalurkan untuk dana sosial masyarakat. Sehingga, setiap santri cukup membayar pendidikan Rp 200 ribu per tahun termasuk untuk biaya pengobatan, listrik, perpustakaan dan gedung sekolah.

“Selebihnya dibiayai zakat koperasi, tanpa menerima dana Bantuan Operasional Sekolah,” kata Dumaini. Sedangkan wali santri cukup mengirim uang untuk kebutuhan makan setiap hari. Sebuah dapur umum seluas dua kali lapangan voli tersedia untuk memasak santri, agar hidup mandiri.

Wali santri dan santri juga dilibatkan untuk berinvestasi di koperasi. Setiap santri, katanya, memiliki tabungan di kantor koperasi BMT MMU yang terletak di dalam pesantren. Tujuannya, mengajari santri untuk berhemat dan mengenal bisnis syariah. Setiap anggota menyetor simpanan pokok Rp 500 ribu dan simpanan wajib Rp 50 ribu per tahun.

Dua pekan lalu, kantor kas koperasi BMT MMU dipenuhi para santri untuk mengambil tabungan. Secara bergantian mereka mengisi formulir dan menarik uang simpanannya. Mereka menarik dana untuk keperluan pulang menjelang bulan puasa. Pesantren Sidogiri libur mulai 10 Juli hingga 15 September.

Komplek pesantren seluas 6 hektare tampak sepi. Sejumlah blok kamar santri tak berpenghuni. Termasuk kamar mandi umum berjumlah sekitar 200 buah nampak lengang. Padahal setiap pagi, para santri bergantian mandi dari air tanah yang disedot dari kawasan Sidogiri.

“Anak-anak lebih suka mandi di sungai,” kata alumni Pesantren Sidogiri, Mastain Mahdlori. Sungai Sidogiri membelah kawasan Pesantren, saat musim penghujan air sungai melimpah. Para santri juga memanfaatkan air sungai uuk mencuci pakaian.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini