Jejak Sang Taipan Gula di Kampung Pecinan Pasuruan

Paviliun kanan rumah keluarga Kwee. Ornamen patung singa di depan paviliun. (Foto : Ibnu Rustamaji).

Oleh : Ibnu Rustamaji*

Terakota.id–Gubernur Jenderal Hindia Belanda menggalakkan kebijakan cultuurstelsel atau tanam paksa  pada awal abad ke-19. Sehingga  bermunculan perkebunan tebu dan pabrik gula di seluruh Nusantara (Hindia Belanda) termasuk Kota Pasuruan. Saudagar dari Eropa dan Cina datang ke Hindia Belanda untuk berdagang lantaran hasil perkebunan lebih bagus dibandingkan negara lain. Sistem tanam paksa tidak lepas dari daerah yang representatif untuk tinggal dan mendirikan sarana prasarana pendukung.

Cultuurstelsel dilakukan untuk menutup kas Negara yang habis selama perang Diponegoro berkecamuk. Serta menutup biaya yang dihabiskan untuk perjalanan dari Negara Eropa menuju Hindia Belanda. Selain itu, kopi, kakao dan rempah-rempah merupakan komoditas berharga mahal yang bisa ditanam di Indonesia. Revolusi industri di Eropa turut berpengaruh. tenaga manusia digantikan mesin untuk meningkatkan hasil produksi.

Peta Kota Pasuruan tahun 1934. Kawasan Pecinan berdampingan dengan Kampung Kaoeman dan berada di pinggiran kota. (Sumber : Maps Library Leiden.).

Kota Pasuruan merupakan salah satu daerah yang secara geografis, memiliki kekayaan alam dan sumber daya melimpah  Kolonialisasi di Pasuruan dimulai 1707 ketika kongsi dagang VOC mulai menempati wilayah jajahanya. Termasuk Pasuruan dengan ditandai pembangunan benteng “Fort De Wilde” di sebelah utara kota (Lihat Donald Macline Champbell. 1915; 497).

Kolonial Belanda tak serta merta mendirikan kawasan perkota di Pasuruan tetapi sebelumnya kolonial Inggris. Laporan tentara Inggris menggambarkan Pasuruan merupakan tempat yang cocok untuk ditinggali lantaran didukung cuaca yang menyehatkan. Sehingga mendukung pendirian rumah residen dan bangunan pendukung lain. Kolonial Inggris mulai membangun rumah residen pada 1811.

Kota Pasuruan perlahan-lahan menjadi kota dagang yang cukup ramai.Bermunculan pengusaha bidang perkebunan seperti kopi, indigo atau indigofera dan gula sebagai komoditas ekspor utama. Sehingga Kota Pasuruan dikenal sebagai surge pabrik gula. Meski para pejuang menutup dan membongkar sejumlah pabrik gula pada masa Clas II demi mencegah alih fungsi oleh tentara Belanda.

Baca juga :  Menghadirkan Instrumen Musik Pedalaman Rimba Borneo di Malang

Beberapa pabrik yang pernah berdiri di Kabupaten Pasuruan didasarkan atas arsip “Lijst Van Naamlooze Venootschappen 1891 in Nedherlandsch-Indie” diantaranya yakni:“Maatschappij tot exploitatie der Suikerfabriek Sempal Wadak”Malang, “Koffiecultuur Maatschappij Soember Djero”, “Koffiecultuur Maatschappij Donowari”, “Cultuur Maatschappij Madoeardjo” Amsterdam, “Cultuur Maatschappij Kali Bakar” s-Gravenhagen dan“Maatschappij tot Exploitatie van het land Wonokoijo” Amsterdam (Anonim, 1892; 5-6).

Tetenger yang Tersisa

Omah Singo

Meski Pasuruan merupakan pusat industri gula besar, tak menjamin para saudagar kaya selamanya. Terbukti di kampung Pecinan, merupakan tempat tinggal saudagar gula namun tak seramai layaknya kampung Pecinan di Kota lain. Di balik kesunyian, di sudut kampung tersembunyi sejumlah peninggalan masa kolonial.

Gapura bertuliskan huruf mandarin “Gong Tji Zi Fen” atau “Pemakaman Umum”. (Foto : Ibnu Rustamaji).

Kampung pecinan ditandai dengan gapura bergaya oriental dengan ornamen khas Tionghoa. Sebagai penanda tempat pemakaman Tionghoa. Namun, khusus diperuntukkan bagi pejabat atau orang dengan status sosial tertentu.

Paviliun bagian kiri rumah keluarga Han. Terlihat penggunaan ornamen patung singa yang sedang bermain dengan seekor ular di kaki depannya. (Ibnu Rustamaji).

Warga Tionghoa bermarga Han dan Kwek tercatat sebagai Kapitain der Chinesen di kalangan saudagar Eropa, sekaligus pemilik perusahaan gula di Pasuruan. Tak mengherankan jika mendapat perhatian lebih.

Stratifikasi sosial melekat di kalangan elit kolonial. Sehingga warga Tionghoa memiliki rumah dengan gaya arsitektur elit Eropa dengan ornament patung singa dan hiasan patung yunani di depan rumah. Patung singa menandakan simbol Negara Belanda. Menunjukkan jika warga yang tinggal di rumah dengan patung singa bukan orang Belanda murni atau biasa disebut Indo-Belanda.

Meski rumah milik warga Tionghoa, namun gaya bangunan menyerupai rumah milik warga Belanda. Lantaran Tionghoa dan Belanda sama-sama memiliki status sosial tinggi. Tidak hanya rumah, pemakaman warga elite Eropa dan Tionghoa juga menggunakan patung singa untuk hiasan makam.

Peraturan mengenai pemukiman berdasar golongan sosial atau wijkenstelsel, kampung pecinan berdiri di Pasuruan. Ditandai dengan Klenteng Tjo Tik Kiong dan bangunan bergaya indische empire seperti rumah keluarga Han (Merujuk pada  Septiana Suryaningrum 2009. Pelestarian Kawasan Pecinan Bogor. Dalam jurnal arsitektur, volume 2 no 1).

Rumah utama keluarga Han Hoo Tong. Bagian depan rumah tak ada ornamen patung singa, digantikan patung dewi Yunani dengan sulur bunga di atas gable depan layaknya bangunan era Yunani. (Foto : Ibnu Rustamaji).

Rumah ini tercatat dimiliki oleh Han Hoo Tong, seorang Kapitan der Chinese dansekaligus seorang pengusaha di bidang indsustri gula. Rumah ini sekilas mirip rumah Eropa, tetapi sebenarnya dimiliki Tionghoa. Perbedaan antara rumah Eropa dan Tionghoa terletak pada adanya meja altar leluhur (Ronald G Knaap. 2015: 30 ).

Paviliun kanan rumah keluarga Kwee. Ornamen patung singa di depan paviliun. (Foto : Ibnu Rustamaji).

Han Hoo Tong, Kwek Liat Liem dan Han Thiam An merupakan keluarga pemilik pabrik gula di Pasuruan. Tepatnya di bawah district Tengger pada tahun 1878 bernama pabrik Bendo. Selain Tengger juga ada di Wangkal dikelola N.V. Cultuurmaatschappij Randoe-Agoeng, o., A, G bernama pabrik Randoe Agoeng.Banyak pabrik gula gulung tikarseiring menurunnya produksi gula karena malaise dan krisis ekonomi melanda Indonesia 1998. Sebagian bertahan setelah dilakukan nasionalisasi oleh pemerintah Indonesia.

Baca juga :  Era Kolaborasi, Terakota.id Kerjasama dengan UBTV dan VoA

Salah satu faktor pendukung didirikan pabrik gula karena lokasinya strategis. Dekat dengan pelabuhan, dan ada akses jalan menuju Surabaya dan kawasan sekitarnya. Hampir setiap kota dan kabupaten di Indonesia memiliki minimal dua pabrik gula. Pabrik gula dikelola warga Eropa, Tionghoa dan juga elite Jawa dan Kerajaan (Mengacu Knight Robert. G, 2012: 20).

Rumah Keluarga Kwek berubah fungsi menjadi gedung Yayasan Pancasila. Fasade depan gedung Yayasan Pancasila dengan deretan colomn doric, khas Indische Empire Style yang berkembang abad ke 18 Masa Gubernur Jenderal H.W. Daendels 1815-1818 karena pengaruh Eropa dalam perkembangan gaya bangunan milik pemerintah Kolonial. (Foto : Ibnu Sutamaji).

Gedung Yayasan Pancasila biasa disebut dengan Lodge / Loji. Loji artinya rumah besar atau gedongan. Loji menggunakan tegel bermotif dan marmer layaknya rumah saudagar. Beranda depan atau voor veranda menggunakan tegel marmer yang diproduksi di Surabaya. Sedangkan bagian dalam menggunakan tegel bermotif.

Bagian dalam gedung, layaknya sebuah gedung soocieteit pada masa Belanda. Setelah ruang tamu kemudian berjalan menyusuri depan kamar lurus menuju ke achter veranda langsung di hadapkan dengan kebun belakang. Dengan akses keluar rumah dan menikmati sajian teh di teras samping, sehingga pintunya cukup banyak juga untuk sirkulasi udara.

Gaya arsitektur gedung Yayasan Pancasila berkembang pada abad ke-18. Biasa disebut dengan indische empire style. Tetapi awal abad ke-19 terjadi perubahan gaya arsitektur bangunan,  dengan mengadopsi unsur bangunan lokal. Seperti Villa NGo yang masih berada di seputaran kawasan pecinan Pasuruan.

Bangunan Indische couple bertuliskan “Villa NGo”, di sudut jalan (Hock) menuju klenteng dan Hotel Darroesalam. (Foto : Ibnu Rustamaji).

Pusaka Pasuruan dalam Arus Zaman

Sejumlah bangunan serupa masih bertahan hingga saat ini. Antara lain Soosieteiet Harmonie, Hotel Darroesalam, Gedong 8 dan sebagainya. Bangunan berpusat di Alun-alun Kabupaten Pasuruan dan tersebar di beberapa daerah sesuai dengan budaya masyarakat setempat.

Upacara pemakaman etnis Tionghoa di Pasuruan, terlihat dengan penggunaan pernak-pernik khas Tionghoa. Pemakamanya pun berada tidak jauh dengan Han Hoo Tong, sedangkan rumahnya saat ini beralih menjadi markas TNI. (Sumber: Rijk Museum Netherland).
Post Telegraaf en Zegelkantoor te Pasoeroean atau Kantor Pos Telegram dan Wesel Pasuruan. (Sumber: Colonial Architecture).

Kampung pecinan Pasuruan meskipun tidak ramai seperti kampung Tionghoa. Tetapi banyak peninggalan orang Timur Asing memberi gambaran perkembangan kampung masa Hindia Belanda. Beberapa peninggalan masih berdiri kokoh lengkap dengan nilai budaya, meskipun sudah beralih kepemilikan dan fungsi.

Baca juga :  Menangkap Fenomena Sosial Melalui Bunyi  

Sebuah kota tentu tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kampung yang lebih dahulu ada. Seperti kampung pecinanPasuruan. Hubungan antara masyarakat kampung dan kota juga memunculkan cerita tersendiri.

*Penulis pegiat Komunitas Roemah Toea Yogyakarta

Instagram

Facebook

Blog

Artikel ini merupakan salah satu karya Terasiana bertema desa dan kampung bersejarah yang diselenggarakan Terakota.id. Masih ada kesempatan mengirim karya. Silahkan mengirimkan karya melalui surat elektronik ke : redaksi@terakota.id, dengan subjek Terasiana_judul tulisan.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini