Jejak Radikalisme dan Terorisme di Malang

Densus 88 Antiteror menggeledah rumah terduga teroris di Malang, 20 Februari 2016. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id–Jejak gerakan radikalisme di Malang ditandai dengan aksi fa’i atau perampokan mobil yang mengangkut uang gaji pegawai Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang pada 1979. Aksi ini dilakukan oleh jaringan komando jihad Darul Islam (DI) pimpinan Asep Warman alias Musa. Hasil rampokan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan logistik dan aksi teror yang dilakukan Komando Jihad DI pimpinan Warman. Warman ditangkap April 1979.

Berikutnya terjadi aksi pengeboman di gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara dan Gereja Sasana Budaya Katolik di Malang, Jawa Timur, 24 Desember 1984. Bom meledak sehari menjelang perayaan Natal. Tak ada korban jiwa dalam ledakan itu. Disusul ledakan bom yang mengguncang Candi Borobudur, 21 Januari 1985.

Ledakan bom merusak sembilan stupa dan dua patung Buddha. Rentetan ledakan mulai pukul 01.20 WIB berurutan sembilan ledakan sampai pukul 03.40 WIB. Pelaku menyiapkan 13 bom, sembilan bom diantaranya meledak. Selebihnya gagal meledak.

Pada 16 Maret 1985, sebuah bus Pemudi Express jurusan Malang-Bali meledak di Kampung Curah Puser, Desa Sumber Kencono, Banyuwangi. Akibat ledakan tujuh penumpang tewas, tiga diantaranya merupakan pembawa bom. Yakni Abdul Hakim, Hamzah alias Supriyono, dan Imam alias Gozali Hasan.

Mereka awalnya akan meledakkan bom di Kuta Bali, tapi karena keteledoran mereka bom meledak di dalam bus yang ditumpangi. Kebetulan, sesaat sebelum bom meledak, seorang penumpang turun. Polisi menangkap penumpang yang diketahui bernama Abdulkadir Ali Al-Habsyi. Husein Ali Al-Habsyi yang tuna netra dan Ibrahim alias Djawad alias Kresna merupakan otak pengeboman tersebut.

Melalui Abdulkadir, akhirnya membuka jaringan pelaku peledakan bom di Borobudur, Seminari Alkitab Asia Tenggara, dan Gereja Sasana Budaya Katolik di Malang. Sejumlah pelaku akhirnya diadili di pengadilan dengan tuduhan merongrong kekuasaan negara atau kewibawaan pemerintah melanggar Undang-Undang Nomor 11/PNPS/ 1963 tentang  Pemberantasan Kegiatan Subversi.

Para pelaku Ibrahim Jawad, Husein al-Habsyi, Achmad Muladawillah, Abdul Kadir al-Habsyi,  Murjoko dan Mochamad Achwan. Murjoko mengenakan stelan jaket bermotif tentara Amerika, berpeci, dan bercelana loreng bertemu di sebuah warung kopi di Malang.

Dia mengaku terlibat dalam jaringan esktrem kanan, katanya, karena aktif dalam organisasi Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK). Namun, ia enggan menceritakan detail bagaimana bergabung dan peranan dia dalam jaringan tersebut. Dia menyebut jika saat itu, sebagai anak muda sangat menggebu-gebu belajar agama Islam. “Saat itu saya telah diangkat pegawai sebagai PNS di Universitas Brawijaya,” katanya.

Gara-gara terlibat jaringan itu, dia dihukum dan harus keluar sebagai PNS. Kini, dia aktif sebagai aktivis lingkungan hidup dan gerakan sosial di Malang. Termasuk sebagai salah satu motor dalam aksi menolak perubahan alih fungsi hutan kota bekas kampus Akademi Penyuluh Pertanian (APP) di Malang. Para aktivis lingkungan mengenalnya dengan sebutan Abah Slank.

Sementara Mochamad Achwan sampai saat ini aktif dalam organisasi dakwah. Dalam kasus peledakan bom di Candi Borobudur, Achwan berperan sebagai kurir untuk mendapat bahan peledak. Setelah perkara itu, Achwan dikenal sebagai pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Malang, dekat dengan Abu Bakar Ba’asyir.

Juga aktif setelah MMI bersalin menjadi Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Achwan bahkan dipercaya memegang tampuk pimpinan tertinggi sebagai Amir, sejak Abu Bakar Ba’asyir di penjara di Nusakambangan.

Namun, JAT terbelah setelah Abu Bakar Ba’asyir menyatakan setia dan mendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Achwan mendirikan Jamaah Ansharusy Syariah (JAS). Nama Achwan sempat masuk dalam daftar hitam individu yang diduga menerima aliran dana dari jaringan terorisme global.

“Tudingan itu mengada-ada. Saya tak punya rekening bank,” katanya. Tudingan atas kepemilikan rekening di Bank Amerika juga tak terbukti. Achwan mengaku tak pernah bersinggungan dengan perbankan. Setiap tahun, katanya, polisi mengeluarkan daftar individu termasuk dirinya diblokir dalam rekening perbankan.

Paham Radikalisme Marak di Kampus

jejak radikalisme dan terorisme di malang
Densus 88 Antiteror menggeledah rumah terduga teroris di Malang, 20 Februari 2016. (Terakota/Eko Widianto).

Paham radikalisme mudah masuk dalam perguruan tinggi. Sejumlah mahasiswa mengenal kelompok terorisme saat di kampus, seperti Munfiatun alias Fitri mahasiswa Universitas Brawijaya menikah secara siri dengan Noordin M. Top.

Munfiatun mendapat mas kawin berupa cicin emas dalam pernikahan pada 22 Juni 2004 di Surabaya. Munfiatun dihukum selama dua tahun karena terbukti menyembunyikan Noordin M Top selama 1,5 bulan di tempat yang berbeda meliputi Malang, Pasuruan dan Surabaya.

Demikian juga dengan Muhammad Cholily alias Yahya yang dikenal sebagai kurir bom Dr Azahari dan turut menyembunyikan Noordin M Top selama di Malang. Dia terlibat jaringan terorisme saat menjadi mahasiswa.

Cholily ditangkap setelah Detasemen Khusus 88 Antiteror menggerebek persembunyian Dr Azahari di Perumahan Flamboyan, Batu pada Juli 2004. Saat menjalani masa pembebasan bersyarat 6 Agustus 2014, dia bertekad tak akan kembali dalam jaringan terorisme.

“Saya akan cari kerja, apa saja,” katanya. Kini, dia telah menikah dan melupakan kelompok jaringan terorisme. Secara berturut-turut Densus 88 Antiteror menangkap jaringan terorisme yang berafiliasi dengan ISIS. Pada 25 Maret 2015, ditangkap tiga orang yang telah bergabung dengan ISIS di Suriah meliputi Helmi Alamudin warga Kelurahan Karangbesuki, Abdul Halim asal Kelurahan Kasin dan Muhammad Junaedi tinggal di Kelurahan Bumiayu Kota Malang.

Berikutnya, Densus 88 Antiteror menangkap kelompok jaringan terorisme yang terkait bom Tamrin. Para pelaku ditangkap pada 19 Februari 2016 antara lain Achmad Ridho Wijaya Perum Griya Permata Alam Blok JM-07 RT 07 RW11, Rudi Hadianto RT 1 RW 4, Badrodin Perumahan Green Hills, Ngijo, Karangploso dan M. Romly warga Dau, Kabupaten Malang.

Deputi Advokasi Unit Kerja Pemantapan Ideologi Pancasila, Hariyono menilai gerakan radikalisme mempengaruhi para mahasiswa sejak masuk perkuliahan. Mahasiswa baru awalnya dijejali beragam informasi tentang agama Islam, berlanjut dengan paham radikalisme dan fundamentalisme. Mahasiswa yang pemahaman agamanya rendah dan utamanya jurusan eksakta yang kerap mudah dipengaruhi. Lantaran mereka hanya menggunakan logika semata. “Mahasiswa jurusan sosial sulit dipengaruhi,” katanya.

Mahasiswa mudah dipengaruhi, katanya, karena sedang mencari identitas dan jati diri. Setelah masuk dalam komunitas itu mereka seolah memiliki teman yang mendengar dan memahami pola pikirnya. Pengaruh, katanya, juga berasal dari sejumlah dosen yang memahami ideologi pancasila telah usang dan tak cocok. Terutama sejak reformasi, gerakan mereka semakin intensif mempengaruhi sejumlah organisasi kemahasiswaan.

Sementara aktivis mahasiwa yang juga Menteri Pendidikan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Tribuwana Tungga Dewi, Efendi mengaku sering diajak berdiskusi dengan kaum fundamentalis. Mereka sering mendiskusikan persoalan yang mengemuka seperti fenomena Lesbian, Gay, Bisekskual dan Transgender (LGBT). “Mereka menilai khilafah sebagai jawaban atas problematika yang ada,” katanya.

Usai diskusi, kata Efendi, mereka mengajak ikut dan bergabung dalam komunitas tersebut. Namun, ia tak mengetahui secara pasti apakah mereka juga tergabung dan mendukung ISIS yang  mendeklarasikan kekhilafahan. Pengaruh tersebut berlangsung terus menerus, sejumlah aktivis mahasiswa terus mendekatinya. “Tapi saya tak goyah. Saya punya keyakinan dan paham sendiri,” ujarnya.

Tangkal Radikalisme di dalam Kampus

jejak radikalisme dan terorisme di malang
Tersangka kelompok jaringan terorisme bom Tamrin dipindahkan dari
Markas Brimob Ampeldento Malang ke Mako Brimob Kepala Gading, 21
Februari 2016. (Terakota/Eko Widianto)

Berbagai langkah dilakukan untuk menangkal radikalisme di dalam kampus. Universitas Brawijaya Malang menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Dilakukan pendandatanganan nota kesepahaman antara Direktur Pencegahan BNPT, Brigadir Jenderal Hamidin dengan Rektor Universitas Brawijaya, Mochammad Bisri.

Bisri menegaskan perlu langkah nyata untuk menangkal suburnya paham radikal di dalam kampus. Cara yang dipilih untuk menangkal radikalisme, katanya, dengan memberikan beban tugas belajar agar mereka tak mengenal paham radikalisme. Serta ditawarkan aktivitas lain di dalam kampus seperti kegiatan minat dan bakat. Termasuk kajian, diskusi untuk mencegah paham radikalisme menyebar di dalam kampus.

“Diupayakan mereka tak memiliki waktu mengenal paham radikal,” ujarnya. Bisri juga mengaku jika tak bisa mengawasi seluruh aktivitas mahasiswanya. Terutama aktivitas di luar kampus. Sementara Univesitas Islam Raden Rahmat Malang membuka program pasca sarjana jurusan Pendidikan Agama Islam konsentrasi pendidikan perdamaian untuk menangkal radikalisme dan aksi intoleran yang marak belakangan ini.

Program ini juga menggali kearifan lokal yang bisa meredam konflik, terorisme dan intoleran . Mahasiswa sebagian besar adalah guru pendidikan Agama Islam. Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, Hasan Abadi menilai akar permasalahan berasal dari pendidikan.  “Para guru akan menjadi juru damai dan membangun sikap toleran sejak dini,” katanya.

jejak radikalisme dan terorisme di malang
Suasana perkuliahan di kelas Peace Education Universitas Raden Rahmat Malang (Dok. Universitas Islam Raden Rahmat)

Sikap toleransi, gotong royong dan kerukunan, katanya, telah lama dipraktikkan di sejumlah pedesaan di Malang. Sistem pengajar juga dilakukan di luar, caranya dengan melihat langsung potret sikap toleransi di Malang. Seperti perkampungan di Glanggang, Pakisaji umat Islam dan Hindu hidup rukun. Serta mengikuti program live in yang diselenggarakan Pesantren Sihrotul Fuqoha dengan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW).

Sejumlah kelompok keagamaan dari Thailand, Timor Leste dan Filipina tertarik untuk mengikuti program tersebut. Seperti kawasan Pattani, Thailand dan Mindanao, Filipina sampai sekarang terjadi konflik agama. Sehingga dibutuhkan juru damai untuk meredam perdamaian di Negara tersebut.

Pegiat pendidikan multikultural, Mokhamad Iksan menilai jika pendidikan Agama Islam di sekolah dasar harus dikemas menarik dan interaktif. Agar terjadi interaksi antara guru dan para pelajar. Guru, katanya, bisa menjadi aktor dalam mengubah perilaku dan menanamkan nilai toleransi mencegah radikalisme. “Tapi tantangan juga ada di dunia maya yang banyak menyajikan informasi paham radikalisme dan fundamentalisme,” ujarnya.

Untuk itu, dibutuhkan kecerdasan literasi media terhadap informasi yang bertebaran di internet, Melalui telepon pintar, social media dan internet informasi tersebut berseliweran mempengaruhi mereka. Selain itu, pendidikan agama islam dalam ekstra kurikuler juga sulit dikontrol. Lantaran pengasuhnya merupakan alumni sekolah yang terpapar paham radikalisme.

“Selama ini sejumlah sejumlah organisasi masyarakat dan lembaga menangkal paham radikalisme sendiri-sendiri,” katanya. Sehingga program tersebut tak efektif, Iksan mengusulkan Kementerian Agama mengambil peran menjadi mediator untuk mensinergikan lembaga dan organisasi masyarakat tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini