Jejak Radikalisme dan Terorisme di Malang

Terakota.id–Jejak gerakan radikalisme di Malang ditandai dengan aksi fa’i atau perampokan mobil yang mengangkut uang gaji pegawai Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang pada 1979. Aksi ini dilakukan oleh jaringan komando jihad Darul Islam (DI) pimpinan Asep Warman alias Musa. Hasil rampokan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan logistik dan aksi teror yang dilakukan Komando Jihad DI pimpinan Warman. Warman ditangkap April 1979.

Berikutnya terjadi aksi pengeboman di gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara dan Gereja Sasana Budaya Katolik di Malang, Jawa Timur, 24 Desember 1984. Bom meledak sehari menjelang perayaan Natal. Tak ada korban jiwa dalam ledakan itu. Disusul ledakan bom yang mengguncang Candi Borobudur, 21 Januari 1985.

Ledakan bom merusak sembilan stupa dan dua patung Buddha. Rentetan ledakan mulai pukul 01.20 WIB berurutan sembilan ledakan sampai pukul 03.40 WIB. Pelaku menyiapkan 13 bom, sembilan bom diantaranya meledak. Selebihnya gagal meledak.

Pada 16 Maret 1985, sebuah bus Pemudi Express jurusan Malang-Bali meledak di Kampung Curah Puser, Desa Sumber Kencono, Banyuwangi. Akibat ledakan tujuh penumpang tewas, tiga diantaranya merupakan pembawa bom. Yakni Abdul Hakim, Hamzah alias Supriyono, dan Imam alias Gozali Hasan.

Mereka awalnya akan meledakkan bom di Kuta Bali, tapi karena keteledoran mereka bom meledak di dalam bus yang ditumpangi. Kebetulan, sesaat sebelum bom meledak, seorang penumpang turun. Polisi menangkap penumpang yang diketahui bernama Abdulkadir Ali Al-Habsyi. Husein Ali Al-Habsyi yang tuna netra dan Ibrahim alias Djawad alias Kresna merupakan otak pengeboman tersebut.

Melalui Abdulkadir, akhirnya membuka jaringan pelaku peledakan bom di Borobudur, Seminari Alkitab Asia Tenggara, dan Gereja Sasana Budaya Katolik di Malang. Sejumlah pelaku akhirnya diadili di pengadilan dengan tuduhan merongrong kekuasaan negara atau kewibawaan pemerintah melanggar Undang-Undang Nomor 11/PNPS/ 1963 tentang  Pemberantasan Kegiatan Subversi.

Para pelaku Ibrahim Jawad, Husein al-Habsyi, Achmad Muladawillah, Abdul Kadir al-Habsyi,  Murjoko dan Mochamad Achwan. Murjoko mengenakan stelan jaket bermotif tentara Amerika, berpeci, dan bercelana loreng bertemu di sebuah warung kopi di Malang.

Dia mengaku terlibat dalam jaringan esktrem kanan, katanya, karena aktif dalam organisasi Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK). Namun, ia enggan menceritakan detail bagaimana bergabung dan peranan dia dalam jaringan tersebut. Dia menyebut jika saat itu, sebagai anak muda sangat menggebu-gebu belajar agama Islam. “Saat itu saya telah diangkat pegawai sebagai PNS di Universitas Brawijaya,” katanya.

Gara-gara terlibat jaringan itu, dia dihukum dan harus keluar sebagai PNS. Kini, dia aktif sebagai aktivis lingkungan hidup dan gerakan sosial di Malang. Termasuk sebagai salah satu motor dalam aksi menolak perubahan alih fungsi hutan kota bekas kampus Akademi Penyuluh Pertanian (APP) di Malang. Para aktivis lingkungan mengenalnya dengan sebutan Abah Slank.

Sementara Mochamad Achwan sampai saat ini aktif dalam organisasi dakwah. Dalam kasus peledakan bom di Candi Borobudur, Achwan berperan sebagai kurir untuk mendapat bahan peledak. Setelah perkara itu, Achwan dikenal sebagai pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Malang, dekat dengan Abu Bakar Ba’asyir.

Juga aktif setelah MMI bersalin menjadi Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Achwan bahkan dipercaya memegang tampuk pimpinan tertinggi sebagai Amir, sejak Abu Bakar Ba’asyir di penjara di Nusakambangan.

Namun, JAT terbelah setelah Abu Bakar Ba’asyir menyatakan setia dan mendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Achwan mendirikan Jamaah Ansharusy Syariah (JAS). Nama Achwan sempat masuk dalam daftar hitam individu yang diduga menerima aliran dana dari jaringan terorisme global.

“Tudingan itu mengada-ada. Saya tak punya rekening bank,” katanya. Tudingan atas kepemilikan rekening di Bank Amerika juga tak terbukti. Achwan mengaku tak pernah bersinggungan dengan perbankan. Setiap tahun, katanya, polisi mengeluarkan daftar individu termasuk dirinya diblokir dalam rekening perbankan.

Tinggalkan Pesan