Terakota.id-Tercatat di Babad Sangkala, sebuah peristiwa yang menandakan takluknya Gunung Pawitra (Penanggungan) di bawah Kesultanan Demak. Sebelum ditaklukkan Kesultanan Demak tahun 1543, kawasan gunung ini telah menjadi pusat peribadatan dan tempat tinggal para resi. Ada seratus lebih jejak-jejak peninggalan purbakala di kawasan gunung setinggi 1.653 meter di atas permukaan laut ini. Peninggalan tertua berupa Petirtaan Jolotundo yang bertarikh 977 Masehi atau abad X.

Gunung Pawitra dianggap sebagai salah satu gunung suci di masanya. Gunung dengan puncak yang hampir selalu ditutupi kabut ini dikelilingi empat puncak dan empat bukit kecil lagi di bawahnya. Jejak-jejak peninggalan peribadatan kuna masih bisa dijumpai hingga kini, meski bentuknya banyak yang tidak utuh lagi. Mulai dari petirtaan, gua pertapaan, punden berundak, hingga bekas permukiman.

Konsepsi gunung sebagai tempatnya para dewa-dewa membuat gunung-gunung di Jawa waktu itu dinilai sebagai tempat suci. Apalagi, Gunung Pawitra dipercaya oleh pemeluk agama yang berkembang waktu itu (Hindu) merupakan reruntuhan dari puncak Mahameru yang dipindahkan dari India.

Juru pelihara tengah membersihkan di kawasan Candi Naga. (Hari Istiawan/Terakota)

Hasil penelusuran dan penelitian paling akhir terkait jejak-jejak purbakala di gunung ini dilakukan tim ekspedisi Universitas Surabaya (Ubaya) mulai tahun 2012 hingga awal 2016. Ekspedisi yang dipimpin Kusworo Rahardyan ini juga berbekal penelitian-penelitian sebelumnya.

Ekspedisi yang dilakukan bersama para juru pelihara candi, relawan,dan masyarakat lokal ini mencatat ada seratus lebih situs. Itupun masih berada di bagian atas atau zona A, belum keseluruhan kawasan gunung. (sumber: http://www.ubaya.ac.id/2014/content/2014/1762/Ada-Ratusan-Situs–Penanggungan-Layak-Mendunia.html)

Ada juga jalur kuna yang tersusun dari tumpukan batu dengan lebar 1,5 – 2 meter yang mengitari lereng gunung dan jalur zigzag menuju puncak. Jalur-jalur ini diduga saling terhubung antara satu situs ke situs lainnya dengan berakhir di puncak penanggungan.

Dari ratusan situs, baik berupa candi, punden berundak, dan lainnya. Hanya 36 situs yang sudah ada juru peliharanya. Para juru pelihara ini ditugaskan untuk menjaga dan merawat situs yang tersebar di lereng-lereng gunung ini. Kawasan Gunung Penanggungan saat ini sudah ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya melalui SK Gubernur Jawa Timur dengan nomor SK 188/18/KPTS/013/2015 tertanggal 14 januari 2015.

Gunung Pawitra sebagai tempat para resi dan pertapaan disebutkan dalam beberapa sumber sejarah. Buku yang diterbitkan Tim Ekspedisi Ubaya menyebutkan, nama Pawitra disebut dalam prasasti batu dari Dusun Sukci. Dusun ini berada di kaki timur Gunung Penanggungan (Pawitra).

Prasasti yang bertahun 929 Masehi ini dikeluarkan atas nama Raja Pu Sindok yang menunjuk kepada sebuah pertapaan (dharmaśrama) serta sumber air (pancuran) di Pawitra.

Di dalam kakawin Deśawarṇana, karya  Mpu Prapañca yang selesai ditulis pada tahun 1365 Masehi juga diceritakan kunjungan Raja Hayam Wuruk  (Śri Rājasanagara) ke Pawitra.

Dan sebuah karya tulis dari tanah Sunda ditulis sekitar tahun 1500 Masehi juga menceritakan seorang pangeran dari Pakuan bernama Bujangga Manik yang mencari ilmu hingga mendaki Gunung Pawitra dan berkunjung ke Gunung Gajah Mungkur (salah satu bukit di sekitar Penanggungan).

Terakota.id pernah mengunjungi jejak-jejak peninggalan di jalur ke tujuh bersama Ketua Tim Ekspedisi Ubaya, Kusworo Rahardyan. Sebenarnya ada delapan jalur dari pemetaan tim ekspedisi Ubaya untuk menyusuri penginggalan-peninggalan purbakala di Penanggungan. Masing-masing jalur terdiri dari beberapa situs yang bisa ditemui.

Sejumlah terakota atau pecahan benda dari tanah liat yang dibakar banyak ditemui di sekitar situs. (Hari Istiawan/Terakota)

Di jalur ke tujuh ini ada sembilan situs dari 36 situs yang sudah masuk dalam perlindungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Mojokerto dan sudah ada juru peliharanya. Di jalur ini, kita bisa mengunjungi Goa Botol yang konon biasa dijadikan tempat bertapa. Lalu ada Candi Kama I yang ditemukan Keluarga Mahasiswa Arkeologi Universitas Indonesia yang melakukan riset antara tahun 1970-an hingga 1990-an. Bentuk candi ini mirip punden berundak.

Bebatuan yang tertata dan berundak-undak ini menempel di lereng gunung. Di sekitar Candi Kama I, terdapat beberapa candi yang jaraknya tidak lebih dari 500 meter. Candi Wisnu, Candi Guru, Candi Siwa, Candi Lurah, Candi Triluko, Candi Carik, dan Candi Naga. Bentuk bangunan candi-candi ini mengikuti alur tanah yang miring.

Tim ekspedisi Ubaya mengelompokkan bangunan bersejarah di Penanggungan ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama merupakan penginggalan-peninggalan di kawasan kaki gunung berupa gapura, petirtaan Jolotundo dan belahan. Kawasan ini juga diperkirakan juga bekas permukiman sejak abad ke-10 M, dan tetap berfungsi hingga akhir masa Majapahit.

Kelompok kedua terdiri dari bangunan berteras atau disebut punden berundak, serta gua pertapaan, yang ditemukan dalam jumlah besar di lereng-lereng gunung bagian atas. Situs-situs ini diperkirakan merupakan tempat-tempat pemujaan atau beribadah yang diperkirakan sudah ada sejak abad 15 Masehi.

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini