Jejak Perintis Pers Nasional yang Tak Terekam di Monumen Pers

Sayang jejak mereka tak ada di MPN. Tidak ada Haji Misbach, Mas Marco Kartodikromo, dan Semaoen, di MPN. HOS. Tjokro Aminoto dan Bung Karno ditampilkan secara terbatas. Sukarno hanya ditemui melalui sebuah majalah Fikiran Ra’jat edisi 24 Februari 1933.

Terakota.id—Dua orang berdiri di depan papan yang ditempel lembaran koran di trotoar Monumen Pers Nasional (MPN) Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat 24 November 2017. Mereka tampak serius membaca koran dinding itu. Siaran radio keluar dari pengeras suara yang terpasang di instalasi koran dinding. Tak saling bercakap, suasana hening diiringi deru kendaraan bermotor. Masing-masing larut membaca ragam berita di koran itu.

Pemandangan yang menarik, di tengah gempuran tsunami informasi dan berita palsu atau berita bohong yang berkelindan di lini masa media sosial. Langit Kota Solo tengah mendung, kedua orang itu tak beranjak tetap kosentrasi membaca berita di koran dinding.

Memasuki pelataran MPN, seorang petugas keamanan menyambut dengan ramah. Tak ada tiket masuk, gratis. Pengunjung diminta mengisi daftar kunjungan dan dipersilahkan masuk melalui pintu di sisi kiri gedung.

MPN diresmikan Presiden Soeharto pada 9 Pebruari 1978. Tanggal peresmian mengacu peringatan empat windu usia Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). PWI didirikan 9 Pebruari 1946 melalui konferensi wartawan seluruh Jawa. Di gedung yang kini menjadi MPN inilah, PWI didirikan. Pada perkembangannya, PWI dijadikan penyokong kekuasaan Orde Baru (Orba). Menjadi wadah tunggal bagi para wartawan.

Rudolf  Rahabeat dalam “Politik Persaudaraan: Membedah Peran Pers” menyatakan peran Negara amat dominan dalam dunia pers di masa Orba. “Intervensi Negara dalam bentuk pemberian Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), wadah tunggal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan seterusnya. Bahkan melalui aparat represif Negara seperti polisi dan tentara, pers Indonesia ditekan dan dibatasi kebebasannya,” tulis Rudolf pada halaman 168.

Gagasan pendirian museum, menurut petugas bagian pelayanan informasi MPN, Andi Prabowo, muncul sejak 1956. PWI memulainya dengan mebuat yayasan bernama Yayasan Museum Pers. “Ide mendirikan museum pada 1970-an. Kenapa di Solo? Karena kongres wartawan 9 Pebruari 1946 diselenggarakan di sini,” jelasnya kepada Terakota.id.

Baca juga :  Peran Bahasa dalam Melegitimasi Rezim Orde Baru

MPN sebelumnya adalah Gedung Sasanasuka atau Societeit (sositet) Mangkunegaran. Didirikan Sri Mangkunegara VII pada 12 Desember 1918. Digunakan sebagai gedung pertemuan bagi kerabat Mangkunegaran. Gedung ini merupakan karya arsitek Semarang yang terkenal pada zaman Hindia Belanda, Mas Abukasan Atmodirono.

“Baru pada 1977 gedung diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Waktu itu melalui Gubernur Jawa Tengah,” kata Andi Prabowo menjelaskan.

Saat memasuki gedung MPN, pengunjung langsung melihat pemancar radio “RRI Kambing”. Sebuah pemancar radio yang bersejarah digunakan pada masa perjuangan kemerdekaan. Selain pemancar radio, juga terlihat sejumlah koleksi berkaitan dengan sejarah pers Indonesia. Mulai surat kabar dari berbagai masa, surat kabar lokal dari berbagai daerah, dan patung beberapa tokoh pers.

Diantaranya mesin ketik milik tokoh pers Bakrie Soeriatmadja, plat cetakan pertama Harian Kedaulatan Rakjat, mikro film, Foto dan piagam penghargaan Mochtar Lubis, koleksi Koran Merdeka milik BM. Diah, dan lain sebagainya.

Sedang di lantai 2, terdapat perpustakaan MPN. Perpustakaan berisi aneka buku yang berkaitan dengan pers, komunikasi, dan informatika. Perpustakaan terbuka untuk umum. Siapapun boleh mendaftar jadi anggota. Anggota perpustakaan dapat meminjam maksimal dua buah buku per dua minggu.

Mereka yang Jejaknya Dihapus

Batu prasasti peresmian museum pers nasional ditandatangani Presiden Soeharto. (HA. Muntaha Mansur).

Sedangkan di gedung utama MPN, mata pengunjung langsung tertuju pada sebuah batu prasasti peresmian bertanda tangan Presiden Soeharto. Batu prasasti diletakkan tepat di depan tengah  pintu masuk utama. Sementara di sisi kanan dan kiri yang dipisahkan oleh ruang pertemuan atau aula, berdiri sejumlah patung setengah badan. Dewan Pers pada masa Orde Baru menyebutnya sebagai tokoh perintis pers Indonesia.

Yakni pada 20 Mei 1974, tidak lama setelah terjadinya peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari). Para tokoh perintis pers Indonesia adalah R. Darmosoegito, R. Bakrie Soeratmadja, Soetopo Wonobojo, RM. Bintarti, Dr. Abdul Rivai, Dr. GSSJ Ratulangie, RM. Tirto Adhi Soerjo, Dr. Danudirdja Setiabudi, Djamaludin Adinegoro, RM. Soedarjo Tjokrosisworo, dan R. Aria Taher Tjindarbumi.

Baca juga :  Kemana Sang Penyair Kerakyatan?

Selain 11 tokoh perintis pers nasional versi Orba, banyak tokoh yang tak dicatat. Meliputi HOS. Tjokroaminoto guru pergerakan dan Pemimpin Redaksi Oetoesan Hindia dan Sinar Djawa. Kiai Hadji Misbach tokoh pejuang yang menerbitkan Medan Moeslimin pada 1915 dan Islam Bergerak pada 1917. Semaoen, pada usia18 tahun, memimpin Sinar Djawa dan berubah menjadi Sinar Hindia. Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo juga menahkodai De Expres untuk perjuangan.

Soekarno mendirikan Persatoean Indonesia dan Fikiran Ra’jat. Moh. Hatta dibantu Sjahrir menerbitkan majalah Daulat Ra’jat. Mas Marco Kartodikromo, pada 1914 mendirikan Doenia Bergerak dan perhimpunan jurnalis Inlandsche Journalisten Bond (IJB). Dan tentu masih banyak lagi tokoh lain, baik perempuan maupun ragam etnis lainnya.

Sayang jejak mereka tak ada di MPN. Tidak ada Haji Misbach, Mas Marco Kartodikromo, dan Semaoen, di MPN. HOS. Tjokro Aminoto dan Bung Karno ditampilkan secara terbatas. Sukarno hanya ditemui melalui sebuah majalah Fikiran Ra’jat edisi 24 Februari 1933.

Andi Prabowo, bagian Pelayanan Informasi MPN, menuturkan MPN memang didirikan pada masa Orba di lokasi konferensi PWI 1946. Sehingga, berpengaruh terhadap tampilan dan isi MPN. Selain itu, pemerintah juga belum merevisi penetapan 11 Tokoh Perintis Pers Nasional.

“Sebenarnya kita sudah membicarakan untuk menampilkan tokoh-tokoh lain. Cuma terkendala biaya, tempat. Bagaimana agar tidak mengubah tata ruang MPN yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya,” jelas Andi.

Selain penetapan tokoh, penetapan Hari Pers Nasional, 9 Pebruari yang merujuk hari lahir PWI juga menuai kontroversi. Jika mengacu pada lahirnya organisasi pers nasional pertama, lebih dulu ada Inlandsche Journalisten Bond (IJB) (1914), Sarekat Journalists Asia (1925), Perkumpulan Kaoem Journalists (1931), dan Persatoean Djurnalis Indonesia (1940).  Sedangkan jika mengacu kepada perusahaan pers dan tokoh pers pertama, bisa merujuk Tirto Adhi Soerjo dan Medan Prijaji.

Baca juga :  Nostalgia Malang Tempo Doeloe

Seorang peneliti sejarah pers, Taufik Rahzen, mengusulkan tanggal penerbitan Medan Priayi, koran pribumi pertama yang dinahkodai Tirto Adhi Soerjo, sebagai tonggak sejarah Hari Pers Nasional pada 1 Januari 1907. Selain itu, Takashi Shiraishi, penulis buku “Zaman Bergerak”, menyebut Tirto sebagai bumiputra pertama yang menggerakkan bangsa melalui literasi. Koran dan organisasi (Sarekat Priyayai, lalu Sarekat Dagang Islam), digunakan Tirto untuk menggalang kebangkitan nasional.

Selain patung 11 Tokoh Pers Nasional itu, di gedung utama terdapat diorama perkembangan pers Indonesia. Mulai perkembangan pers zaman kerajaan sampai perkembangan pers zaman reformasi. Juga terdapat ruang rapat, panggung, dan media center.

Hari semakin sore. Terakota.id beranjak meninggalkan MPN. Setiap harinya, MPN dibuka mulai pukul 08.00 WIB tutup pukul 16.00 WIB. Sabtu dan Minggu tetap dibuka untuk umum. MPN hanya tutup pada hari libur nasional.