Jejak Perang Gerilya Panglima Besar Soedirman di Pacitan

jejak-perang-gerilya-panglima-besar-soedirman-di-pacitan
Monumen Jenderal Besar Soedirman di Dusun Sobo Desa Pakis Baru Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan. Monumen diresmikan Presiden Susilo Bambang Yoedoyono 15 Desember 2008. (Foto : Beritahati.com).

Terakota.id–Berkunjung atau pelesir ke Pacitan, objek wisata pantai dan gua bakal jadi tujuan utama. Pacitan memiliki memang memiliki garis pantai yang panjang dan ribuan gua. Sehingga Pacitan dikenal sebagai kota 1001 gua. Berkunjung ke Pacitan tak ada salahnya berwisata sembari memperlajari sejarah perjuangan bangsa. Khususnya perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Datanglah ke Dukuh Sobo, Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Di lahan seluas hampir 10 hektare ini berdiri kawasan sejarah Panglima Besar Jenderal Soedirman. Lokasinya sekitar 40 kilometer arah utara Pacitan, juga bisa ditempuh jalan darat sekitar tiga jam dari Solo dan dua jam dari Madiun. Selama perjalanan Anda akan disuguhi eloknya hutan rimba yang menghiasi sepanjang perjalanan.

Sejuknya udara perbukitan akan terasa saat Anda memasuki wilayah kecamatan Nawangan. Jika beruntung, kesejukan kabut pegunungan pagi akan menyapa Anda. Karakter Nawangan berbukit serta hamparan hutan tropis menjadi pilihan Jenderal Soedirman untuk bersembunyi dari serangan musuh dan memimpin perang gerilya. Selama 3 bulan 28 hari (107 hari), sejak tanggal 1 April 1949 sampai 7 Juli 1949, kawasan ini digunakan sebagai markas Jenderal Soedirman.

Menempati rumah sederhana milik Karsosoemito, bayan di dukuh Sobo saat itu. Rumah berarsitektur joglo (khas rumah adat Jawa) luas 150 meter persegi ini berhasil direkonstruksi selayaknya bentuk aslinya. Rumah yang menghadap utara ini berlantai tanah liat, bagian depan berdinding papan kayu sedangkan bagian belakang terbuat dari anyaman bambu.

Di dalamnya tersedia empat kamar tidur, salah satunya digunakan Jenderal Soedirman. Satu set meja kursi yang terbuat dari kayu tampak menghiasi ruang tamu. Di sini juga nampak tandu tiruan yang digunakan semasa perang gerilya. Sejumlah foto koleksi Jenderal Soedirman bersama warga sekitar juga terpasang rapi di dinding ruang tengah. 

Di depan rumah terpasang kilasan sejarah dan rute perang gerilya, sejak berangkat hingga kembali ke Yogyakarta. Di bagian belakang terdapat peralatan audio visual, yang menyajikan film tentang perjalanan perang gerilya Jenderal Soedirman. 

Saat itu, rumah ini digunakan Jenderal Soedirman untuk beraktifitas, memimpin perang  gerilya dan melakukan komunikasi dengan pejabat pemerintah diYogyakarta. Jenderal Soedirman berkomunikasi dengan para panglima dan komandan di berbagai daerah melalui caraka (kurir).

Paidi 66 tahun, anak Karsosoemito pemilik rumah, mengenang saat itu berusia 7 tahun. Banyak pejabat pemerintahan yang datang ke rumahnya untuk meminta petunjuk Jenderal Soedirman soal taktik dan strategi menghadapi Belanda.

“Warga sini menyebutnya sesepuh. Waktu itu Saya tidak tahu kalau yang tinggal di rumah adalah Jenderal Besar Soedirman,” katanya. Saat itu, kondisi kesehatan Jenderal Soedirman terus memburuk. Setiap pagi, kata Paidi, Jenderal Soedirman sarapan bubur selanjutnya berjemur di bawah sinar matahari bersama ajudannya Soepardjo Rustam dan Tjokro Pranolo.

Paidi dipekerjakan sebagai penjaga Markas Gerilya. Setelah Perjanjian Roem-Royen 7 Mei 1949, Pemerintah Indonesia-Belanda sepakat mengakhiri permusuhan. Akhirnya 7 Juli 1949 Panglima Besar Jenderal Soedirman kembali ke Yogyakarta. Sekitar dua kilometer dari markas gerilya, berdiri gagah patung Panglima Besar Jenderal Soedirman sambil menggenggam tongkat kayu menghadap utara.

Di depannya, sebuah lapangan luas yang sekelilingnya berdiri dinding tembok. Setiap dinding tembok terpasang relief berbahan tembaga sebanyak 38 panel. Relief ini menggambarkan perjalanan hidup Soedirman dari masa kelahiran, belajar mengaji, sekolah, kepanduan, menjadi anggota PETA, memimpin gerilya, hingga meninggal di Magelang.

Kawasan wisata sejarah ini juga dilengkapi rest area dan tiga lapangan pendaratan helikopter. Pada pembangunan tahap kedua akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti perpustakaan, diorama, ruang pertemuan dan pasar seni. Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso berharap kawasan sejarah ini dibangun dengan konsep arsitektur seni modern dan sejarah.

“Bangunan berdiri modern, tapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai sejarah,” katanya. Ia berharap wisata sejarah ini berkembang menjadi wisata dunia dan bisa menarik wisatawan mancanegara. Untuk itu, semua pihak harus bekerjasama untuk mengenalkan wisata sejarah ini kepada masyarakat internasional.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan kawasan sejarah itu pada Senin, 15 Desember 2008. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap generasi muda dan rakyat bisa meneladani semangat perjuangan Jenderal Soedirman mengusir penjajah.
“Wawasan kebangsaan, ketaatan mengamalkan ajaran Islam, sikap pantang menyerah, disiplin dan prinsip mencintai tanah air patut diteladani,” katanya.

Untuk itu, ia berharap pengelola membuat berbagai inovasi agar seluruh elemen bangsa ini bisa meneladani sikap Jenderal Soedirman. Sedangkan, prajurit TNI bisa memanfaatkan area di ketinggain 1.400 di atas permukaan laut ini sebagai pusat pendidikan dan latihan.

Impian Roto Terwujud

Berdirinya kawasan sejarah Panglima Besar Jenderal Besar Soedirman tak lepas dari kiprah Roto Suwarno. Ia adalah warga Pakis Baru Nawangan yang bertugas sebagai pengawal Jenderal Soedirman. Untuk mengenang kepahlawanannya, Roto mendirikan monumen Jenderal Soedirman beserta patung yang hingga saat ini berdiri gagah. Monumen itu mulai dibangun tahun 1981, berasal dari uang pribadi Roto Suwarno.

Sedikitnya, sekitar Rp 2 miliar dihabiskan untuk membangun monumen dan patung. Pembangunannya dilakukan bertahap selama 13 tahun. Tahun 1993  proyek pembangunan monumen terhenti, kesulitan pembiayaan menjadi salah satu alasan.  Hingga diakhir usianya, Roto tak sanggup melanjutkan pembangunan monumen yang dibanggakan. Bahkan, kawasan ini sempat terbengkalai dan tak ada perkembangan pembangunan yang berarti.

Selanjutnya, keluarganya mendirikan Yayasan Roto Suwarno untuk meneruskan pembangunan monumen yang diimpikan Roto. Sayang, Yayasan ini juga nyaris tidak melakukan aktifitas yang mencolok. Hingga pertengahan Juli 2008, juru bicara kepresiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu, Andi Malarangeng mengunjungi kawasan ini.

Tertarik dengan sejarah perjuangan Jenderal Soedirman memimpin perang gerilya, maka diusulkan agar pemerintah melanjutkan pembangunan monumen. Mulai 22 Juli 2008, pembangunan monumen dilanjutkan, dianggarkan dana sebesar Rp 60 miliar untuk membangun kawasan sejarah ini.

Pengerjaan pembangunan monumen dilakukan bersama antara Departemen Pekerjaan Umum dengan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan. Departemen Pekerjaan Umum bertugas menyusun rancang bangun konstruksi, sedangkan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan menelusuri sejarah dan rekam jejak kehidupan Jenderal Besar Soedirman.

Kurang dari lima bulan, kawasan sejarah itu selesai dikerjakan. Penambahan fasilitas penunjang juga dikerjakan. “Kita sampaikan penghargaan yang tinggi kepada keluarga Roto Suwarno yang menghibahkan monumen ini untuk kepentingan publik dan negara,” kata Panglima TNI Djoko Santoso saat itu.

Meski belum sempat melihat kawasan sejarah Panglima Besar Jenderal Soedirman, Roto telah mewariskan sesuatu yang amat berharga bagi sejarah negara ini.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini