Invisible Leader Kampung

 

Oleh : *Kristanto Budiprabowo

Memori tentang situasi

Saat saya masih kanak-kanak duduk dibangku Sekolah Dasar, aktivitas di luar rumah adalah kebahagiaan besar. Dalam suasana politis bangsa yang mudah membuat orang tua ketakutan jika anak-anak berada di luar dan bertanya-tanya hal-hal yang ditabukan oleh penguasa, bermain di luar rumah bersama kawan-kawan sekampung adalah kemewahan. Kecurigaan-kecurigaan antar keluarga masih sangat kental terasa, siapa boleh bergaul dengan siapa kadang tak bisa kami temukan alasannya namun harus kami turuti dan pasti juga kami langgar.

Bagaimanapun caranya, bahkan risiko kadang harus ditempuh agar ada waktu segera berlarian di gang-gang kampung mengumpulkan kawan, berwama menelusuri pematang sawah sambil melahap kacang panjang atau tomat sisa panenan, menuju sungai terdekat, yang kecil di belakang kampung, atau yang besar menyeberang jalan raya sepi dengan pemandangan dasyat.

Siapa saja bisa berinisiatif membentuk gerombolan kecil yang seringkali lantas bersaing dengan gerombolan lain. Esoknya, atas inisiatif anak yang berbeda maka berbeda pula komposisi gerombolannya dan tetap juga bersaing dengan gerombolan lainnya. Permainan harus tetap berlangsung, siapapun inisiatornya dan siapapun anggota gerombolannya, karena waktu amat berharga dan kebahagiaan bersama kawan-kawan adalah hidup bermakna.

Ada pertemuan-pertemuan desa, yang seringkali membuat Bapak atau Ibuku tergopoh-gopoh harus mengikutinya karena itu adalah pertemuan “atas perintah dari pusat” dan bagi kepentingan “keamanan dan keselamatan bangsa”. Pidato-pidato masih segar diingatan saya selalu menyinggung tentang “bahaya latent”, “musuh dalam selimut”, “pengkhianat”, dan segala rupa istilah dan umpatan mengerikan dikenakan kepada sebuah Partai yang sudah dibubarkan.

Di radio-radio baik negeri atau swasta (Televisi masih amat sangat jarang yang memiliki), selalu entah dengan nada guyonan menyindir, entah dengan gaya tegas ala perintah militer dalam suasana perang, tiap saat memberikan pesan bahwa rakyat masih dalam ancaman yang hanya bisa ditangani, dikendalikan, diatasi, oleh seluruh elemen masyarakat di bawah kontrol dan komando sebuah badan keamanan Nasional.

Jika ada anak yang sempat mengintip pertemuan seperti ini dan bercerita kepada yang lain, diskusi menjadi sangat seru, dan bisa berakhir dengan perkelahian. Karena sekecil apapun semangat saling curiga disebarkan, maka penyebarannya adalah bara kemarahan. Saat seperti inilah biasanya yang berpotensi menghancurkan komposisi gerombolan.

Kami mencari anggota gerombolan lainnya yang kurang dicurigai atau mencurigai kami. Kadang butuh waktu sangat lama agar terjadi interaksi kembali dengan kawan-kawan segerombolan semula. Desas-desus dan hasutan legal formal dari “pusat” benar-benar berdampak pada kami. Maka seorang pemimpin adalah anak yang acuh tak acuh atau bahkan tak sedikitpun menaruh peduli terhadap semua itu.

Semua perayaan, pesta ritual, bahkan acara-acara yang sangat personal seperti ulang tahun dan syukuran keluarga, setidaknya harus diisi dengan indogtrinasi dari Babinsa Desa, atau siapa saja yang dianggap mewakili pemerintah seperti pensiunan angkatan bersenjata, polisi, atau pegawai negeri.

Sependek apapun peluang atau kemampuan berbicara yang bersangkutan, pesan intinya selalu sama, rakyat perlu bersyukur karena berada dibawah struktur kepemimpinan yang melindungi mereka dari bahaya dan malapetaka. Bahaya apa? Bahaya laten kehancuran bangsa. Saat itulah, perayaan keselamatan diartikan sebagai kesempatan mengidentifikasi musuh, perayaan kegembiraan dimaknai sebagai ketundukan, dan pesta tradisi serta budaya adalah kesempatan mendapatkan posisi dalam struktur yang disediakan oleh pemerintah.

Dalam skala sekecil kampungpun, dalam segala aktifitas masyarakat, gambaran tentang pemimpin yang kami kenal adalah orang-orang di dalam pemerintahan, yang bekerja digedung-gedung kantor, dan yang (sekalipun sering nampak linglung) berani bersuara keras tentang bagaimana membedakan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Guru-guru, sekalipun sangat dihormati oleh masyarakat, tidak terlalu strategis kepemimpinannya di Desa. Mereka adalah kelompok elit tersendiri, kadang dekat dengan para pemimpin keagamaan, atau pemimpin adat, kadang dekat dengan para pengusaha kampung atau para pegawai negeri lainnya.

Ada sebuah sistem kepemimpinan yang diciptakan sedemikian rupa di kampung, yang sedang bergejolak merubah kebiasaan masyarakat dalam hal musyawarah bersama dan duduk dalam kesetaraan, yang jika salah pengucapannya (misalnya kesetaraan itu diucapkan sama rasa sama rata, atau musyawarah untuk mufakat menjadi permufakatan) akan menjadi berbahaya.

Berfikir kritis, seperti yang saat itu masih dengan fasih dimiliki oleh para guru (karena kebiasaan mereka memiliki dan membaca buku-buku), terlalu berbahaya untuk secara terbuka dilakukan dan dipraktekan di kampung. Para guru sering lebih memilih menduduki posisi sosial sebagai elit intelektual yang sama sekali tidak atau cenderung tidak berkeinginan untuk bersentuhan langsung dengan situasi riil yang dihadapi masyarakat.

Generasi yang dibesarkan di era 70an seperti saya adalah generasi colateral demage, kerusakan yang tak disengaja yang harus terjadi karena situasi yang memaksanya. Selain di sekolah, di kampung kami menjumpai kehidupan kanak-kanak dalam ekspresi ketakutan dari banyak orang tua, selain kegirangan semu orang tua lainnya yang diuntungkan dengan situasi yang ada.

Kegembiraan menjadi anak kampung, anak-anak yang masih bisa merasakan bahwa seluruh kampung, sawah dan ladang, sungai dan bukit, bahkan hutan di perbatasan desa adalah arena bermainnya, harus dilalui bersama dengan karakter-karakter para orang tua dan pemimpin kampung yang tidak pernah bangga dan percaya diri dengan kebersamaan di kampung dan kepandaian serta potensi ilmu dan budaya kampungnya.

Tinggalkan Pesan