Internet Kecepatan Tinggi, Berkah atau Bencana?

Terakota.id–Pemerintah membangun infrastruktur teknologi informasi dengan menghubungkan seluruh wilayah Nusantara dengan kabel serat optik. Infrastruktur internet bakal menghubungkan 554 Kota dan Kabupaten di Indonesia untuk memudahkan akses internet. Program Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mengembangkan infrastruktur telekomunikasi Paket Palapa Ring ini dimulai sejak 2016.

Total panjang kabel laut mencapai 35.280 kilometer dan kabel di daratan sepanjang 21.807 kilometer. “Tol internet menghubungkan dari Sabang sampai Merauke. Paket Palapa Ring bagian Barat mencapai 100 persen,” kata Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kemkominfo, Septriana Tangkary dalam diskusi kelompok terarah yang digelar Kantor Staf Presiden (KSP) dan Kemkominfo di Universitas Brawijaya, Kamis 22 November 2018.

Deputi II Kantor Staf Presiden Yanuar Nugroho memaparkan mengenai daya saing Indonesia dari sisi sumberdaya manusia dan ekonomi. (Terakota/Eko Widianto).

Diskusi dihadiri sebanyak 44 pakar atau pelaku dunia digital dan akademikus. Terakota.id turut hadir dalam kelompok diskusi terarah tersebut. Akses internet berkecepatan tinggi diharapkan mampu meningkatkan daya saing Indonesia. Indeks daya saing Indonesia naik dua peringkat, kata Septriana, dari semula 43 naik pada peringkat 45 dari 140 negara.

Jaringan infrastuktur internet juga diharapkan bisa menggerakkan atau mempercepat gerakkan start up nasional. Pemerintah mencanangkan gerakan 1000 start up nasional. Sejak 2016 dilakukan di 10 kota dengan 8 ribu peserta.  Sedangkan 287 diantaranya berkembang dan menjadi start  up.

Pemerintah, katanya, menyiapkan infrastruktur dan mendorong dunia usaha untuk berinovasi. Selain itu pemerintah berperan sebagai fasilitator dan akselerator.  Ia berharap muncul The Next Unicorn. Selama ini di Indonesia ada empat unicorn antara lain traveloka, bukalapa, gojek, dan tokopedia. Pemerintah juga membuka dan mempertemukan investor dengan start up. venture capital bisa bertemu dan bekerjasama dengan start up potensial.

Selain itu, juga diharapkan menumbuhkan ekonomi kerakyatan dengan secara khusus mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Sebanyak 57 juta UMKM sekitar 9 persen mempromosikan usaha melalui market place,  36 persen melalui aplikasi perpesanan, 18 persen media sosial dan selebihnya secara luring atau offline. “UMKM masuk dunia e-commerce,” katanya.

Baca juga :  Sejarah Samaan, Permukiman Tua di DAS Brantas

Kemkominfo juga bekerjasama dengan 20 perguruan tinggi dan memberikan beasiswa kepada anak muda dalam program digital talent scholarship. Anak muda dilatih dan belajar bisnis digital dengan menggunakan kecerdasan buata atau artificial intelligence (AI). Pengembangan sumber daya manusia penting agar bisa berdaya saing.

Deputi II Kantor Staf Presiden Yanuar Nugroho mengakui pengembangan sumber daya manusia merupakan kunci dalam daya saing sebuah Negara. Selain kesiapan infrastruktur yang sudah ada. Ia mencontohkan program vokasi di dunia pendidikan, yang berhasil mendirikan sekolah menengah kejuruan baru.

Kantor Staf Presiden dan Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar diskusi kelompok terarah bertema daya saing Indonesia. (Terakota/Eko Widianto).

“Tapi SMK justru menyumbang pengangguran terbesar,” katanya. Ia menduga ada yang harus diperbaiki dalam pendidikan, sehingga tenaga terampil tak diserap dunia usaha. Apakah karena kurikulum, tenaga pengajar atau fasilitas penunjang yang harus diperbaiki.

“Vokasi harus diperbaiki,” katanya.

Termasuk akses internet berkecapatan tinggi yang bakal hadir jika tak disiapkan sumber daya manusia yang cakap bakal menjadi bencana. Mengingat tingkat literasi Indonesia rendah. Berdasar  “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan Central Connecticut State Univesity, Indonesia menempati ranking ke 60 dari 61 Negara.

Sementara pengguna internet, Indonesia menempati urutan ke lima terbesar di dunia. Sehingga kabar bohong atau hoaks bertebaran di media sosial. Warga net tak menyaring informasi secara ketat, bahkan ikut-ikutan menyebarkan hoaks tersebut. Untuk itu, Kementerian Kominfo tak hanya menyiapkan infrastruktur internet saja tetapi bersama para pihak yang lain melakukan gerakan literasi digital.

Menggerakkan anak muda sejak dini menggunakan internet untuk belajar dan mengembangkan teknologi informasi. Sehingga Indonesia tak hanya menjadi pasar dan penonton atas kemajuan teknologi informasi.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini