antisipasi-gempa-dan-tsunami-mahadahsyat-di-pesisir-selatan-jawa
Relawan Sibat berlatih penanganan bencana evakuasi penduduk yang sakit menggunakan ambulans. (Foto : PMI Kabupaten Malang).
Iklan terakota

Terakota.id—Intensitas bencana di Kabupaten Malang sepanjang tahun ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sepanjang Januari-Maret 2020 tercatat sebanyak 151 bencana di Kabupaten Malang sedangkan periode yang sama tahun mencapai 122 bencana.

“Selama 2021 tercatat terjadi gempa tujuh kali,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Sadono Irawan dalam Webinar Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami di Malang yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang, Selasa 30 Maret 2021.

Bencana gempa disertai tsunami, kata Sadono, mengancam kawasan di pesisir selatan Kabupaten Malang. Ancaman dan potensi tsunami sepanjang pesisir selatan Malang mulai Kecamatan Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo sampai Ampelgading.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Karangkates, Ma’Muri mengungkapkan ancaman tsunami di Kabupaten Malang tidak hanya berasal dari titik di Kabupaten Malang. Seperti tsunami 1994 setinggi 13,9 meter berasal dari Banyuwangi. “Tapi dampaknya terasa sampai di Kabupaten Malang. Mengakibatkan 250 orang meninggal,” katanya.

BMKG melakukan survei terutama di Pacitan dan Banyuwangi, untuk melihat perkiraan gelombang dan jalur evakuasi. BMKG mengeluarkan beberapa peringatan dini untuk meminimalisir timbulnya korban akibat tsunami. Meliputi informasi gempa yang berpotensi tsunami, estimasi waktu datangnya gelombang.

“Serta informasi hasil observasi pemutakhiran status ancaman tsunami, dan pengakhiran peringatan dini,” katanya. Yang paling penting, ujar Ma’muri,  masyarakat tanggap dan siap mengevakuasi mandiri. Masyarakat harus mengenali daerahnya. Jika merasakan gempa berlangsung lama, untuk segera menjauhi daerah pantai.

Geologist Merdeka, Andang Bachtiar mendorong pelibatan masyarakat dalam mitigasi bencana. Andang mencontohkan komunitas pecinta alam. Menurutnya, pecinta alam biasa mencatat kawasan penting, seperti bekas tsunami, dan jalur evakuasi.

“Sebenarnya BPBD bisa kerja sama dengan pecinta alam. Dengan anggaran terbatas, pecinta alam sudah bisa jalan,” kata Andang.

Apalagi di era sekarang, ujar Andang, hampir semua pecinta alam memiliki media sosial. Ketika menemukan kawasan penting, para pecinta alam cukup memotret atau merekam video lalu mengunggah di media sosial. “Jadi pihak lain termasuk BPBD, bisa mengambil data dari pecinta alam yang diunggah di media sosial,” katanya.

Ketua AJI Malang, Mohammad Zainuddin menjelaskan media dan masyarakat perlu terlibat dalam mitigasi bencana. Karena bencana berupa gempa bumi sering terjadi di Malang. Gempa bumi dapat terjadi setiap saat. Sehingga penting bagi semua pihak terlibat dalam mitigasi.

“Masyarakat juga perlu mendapat informasi dan berita yang valid. Menjauhi kabar bohong atau hoaks yang menyesatkan,” katanya. Apalagi, dalam bencana alam sering berkelindan hoaks dengan beragam motif. Mulai untuk menimbulkan keresahan, maupun mencari perhatian.

Webinar ini diikuti sekitar 150 peserta baik media, aktivis lingkungan maupun masyarakat umum.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini