Intelektual Retoris

intelektual-retoris
@guidelinesia

Oleh : Fathul Qorib*

Terakota.id-Kaum intelektual mendapatkan posisi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di manapun, golongan terpelajar dan terdidik ini memperoleh perlakuan khusus dengan dongengan bahwa mereka mampu memecahkan masalah dengan cepat, tepat, dan obyektif. Kaum intelektual dijadikan tim ahli anggota dewan, dijadikan penasehat di pemerintahan, juga diberi alokasi waktu khusus untuk berbicara sebagai ahli di berbagai media massa. Secara singkat, kaum intelektual adalah permata bagi negeri di manapun ia berada.

George Orwell, penulis asal Inggris yang terkenal dengan novel “Animal Farm”-nya, memperjelas posisi penting kaum intelektual dalam kalimatnya yang menarik; “Rakyat jelata secara keseluruhan masih hidup di dunia yang baik dan jahat absolut, yang mana kaum intelektual telah lama melarikan diri”. Ia beranggapan bahwa kaum intelektual telah terbebas dari masalah dikotomi kehidupan yang hanya ada hitam dan putih, salah dan benar, malaikat dan iblis.

Bisa jadi itu adalah pernyataan yang meninabobokan. Kenyataannya kaum intelektual malah memperparah kondisi sosial dengan melanggengkan persoalan hitam-putih dengan istilah ilmiah-tidak ilmiah. Masyarakat di luar tradisi kampus seringkali dianggap tidak ilmiah sehingga dicemooh. Intelektual-akademisi tidak sadar bahwa dirinya sering terbelenggu dalam permasalahan pelik yang bahkan tidak hanya ada hitam-putih, tapi juga abu-abu yang rawan dengan kesalahan dan kebohongan. Di sinilah intelektual kemudian terjebak dengan retorikanya sendiri.

Karena sifat ilmiah-non ilmiah inilah maka dosen dan mahasiswa lebih banyak kesulitan mengaplikasikan keilmuannya di tengah masyarakat ketika pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bahkan tidak jarang, mereka yang harus belajar ke masyarakat secara langsung karena keilmuan teoritisnya tidak bisa dipraktikkan. Kenyataan ini tentu pahit dirasakan oleh mahasiswa yang sehari-hari dicekoki metode ilmiah yang dianggap agung dan mulia. Karena bagaimanapun mahasiswa berfikir, berorganisasi, dan beraktivitas di kampus, akan sia-sia jika tidak bisa dikembangkan di masyarakat.

Selain itu, kaum intelektual dengan institusinya juga memiliki paradoks yang bisa dibilang lucu. Suatu kampus yang memiliki banyak program studi belum tentu dapat mengaplikasikan keilmuan dosen-dosennya. Kampus yang memiliki Program Studi Administrasi Publik belum tentu memiliki tata administrasi yang bagus. Kampus yang memiliki dosen-dosen ekonomi juga jarang yang bisa membangun sistem koperasi yang sesuai dengan teori-teori di dalam kelas. Begitupun kampus dengan Program Studi Arsitektur Lanskap, belum tentu memiliki taman-taman yang indah.

Kritik terhadap kaum intelektual yang hanya duduk di menara gading ilmu pengetahuan sudah lama dilakukan. Mereka menjaga jarak terlalu jauh dengan masyarakatnya sehingga kehilangan sensifitas keilmuannya terhadap kebutuhan masyarakat. Tetapi kritik semacam ini bisa jadi ditanggapi negatif oleh kalangan intelektual dan akademisi itu sendiri karena merasa sudah memberikan sumbangan besar terhadap negara –meskipun sumbangan ini abstrak. Tetapi kritik tinggal kritik karena kenyataannya semakin banyak kaum intelektual yang dihasilkan kampus, semakin besar pula ketidakjelasannya.

Sebab itu, Charles Bukowski dengan sentilannya yang nakal malah menganggap kaum intelektual adalah orang-orang yang mengatakan hal sederhana dengan cara yang rumit, berbeda dengan seorang seniman yang mengatakan hal-hal sulit dengan cara yang sederhana. Padahal yang seharusnya terjadi adalah seorang intelektual harusnya mampu mengurai persoalan pelik bagi kaum awam menjadi lebih masuk akal dan sederhana.

Kemampuan seorang intelektual untuk menyederhanakan persoalan ini tercermin dalam pikiran-pikirannya yang terstruktur dalam tradisi penelitiannya yang ketat. Sebagai seorang pembaca dan peneliti, kaum intelektual bisa menganlisis persoalan mendasar masyarakat, menentukan metode, menggunakan teori sebagai analisis, memberi kesimpulan, lalu memberikan saran-saran perubahan agar masyarakat hidup lebih bermartabat. Bahkan dalam Teori Kritis, kaum intelektual merupakan orang yang paling bertanggung jawab terhadap kesejahteraan, kemerdekaan, kesehatan, dan kebahagiaan masyarakat.

intelektual-retoris
@geotimes

Tentu hal tersebut bisa dikatakan bombastis. Tetapi perlu disadari bahwa kaum intelektual sebagai penanggung jawab sosial ini sebenarnya bermuara pada kritik terhadap pemikiran Karl Marx yang menganggap kelas proletar sebagai pembebas ketertindasan. Jika ketertindasan ini berkaitan dengan fisik dan mengangkat senjata mungkin benar. Tapi kondisi saat ini ketertindasan lebih berkaitan dengan psikis dan berjalan tanpa disadari. Penjajahan tidak lagi dengan merampas tanah atau hasil bumi, tetapi dengan menjajah budaya dan pemikiran.

Oleh karena itu, yang menjadi subyek revolusi -penggerak perubahan-, sudah bukan lagi kelas proletar. Hal ini sudah ditinggalkan sejak lama meskipun ketika demo oleh aktivis kampus, pembagian kelas borjuis dan proletar tetap dipakai. Adalah kaum intelektual yang setiap harinya berkutat dengan buku, penelitian, provokasi, dan pengabdian kepada masyarakatnya lah yang menjadi subyek revolusi (Lubis, 2016:11). Bagaimana kaum intelektual dapat menjadi subyek perubahan di lingkungan masyarakatnya? tentu dengan menggunakan rasionya sehingga dapat menganalisis dengan tepat persoalan apa yang dihadapi masyarakat sekaligus menemukan penawarnya.

Misalnya iklan televisi yang lebih banyak menggunakan tubuh perempuan sebagai komoditas ekonomi. Iklan sabun, shampoo, body lotion, dan pembersih wajah, semuanya menggunakan perempuan dengan konotasi ‘cantik’ sehingga menciptakan kebutuhan palsu terhadap produk tersebut. Masyarakat akan memahami apa adanya dan menginginkan tubuh sebagaimana tubuh bintang iklan. Sebagai intelektual yang memahami bias gender dalam periklanan, harus memberi pemahaman kepada masyarakat tentang penerimaan diri sebagai makhluk sempurna yang diciptakan tuhan.

Demikian pula informasi-informasi di jagat internet yang dimanfaatkan oleh buzzer politik demi menyebar hoax, keresahan dan ketakutan, juga kebohongan publik, tidak akan disadari oleh masyarakat umum. Masyarakat luas hanya mendapat informasi dengan data palsu lalu mempercayainya begitu saja sebagai fakta. Maka menjadi tugas kaum intelektual untuk menemukan akar persoalannya lalu mencari solusi agar masyarakat bisa tersadarkan. Minimal kaum intelektual harus bisa menyebarkan gagasan literasi media sehingga tidak terpengaruh propaganda politik praktis hingga post truth.

Tugas intelektual di dunia yang banjir informasi ini semakin berat. Karena itu, intelektual sesungguhnya tidak hanya transfer knowledge di kelas-kelas seperti yang disebut Gramsci sebagai intelektual tradisional, tetapi juga menjadi intelektual organik yang beraksi di masyarakat untuk melakukan gerakan penyadaran.

Kita tidak cukup hanya berteriak di dalam kelas dan ruang-ruang publik terbatas, tetapi juga perlu turun ke masyarakat secara langsung dengan memegang peran kunci hidup bermasyarakat. Dengan begitu, kita akan terhindar dari intelektual retoris, yang seolah-olah memiliki nalar terang, padahal gagap dalam bertanggung jawab sosial.

*Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang.

Tulisan-tulisannya bisa dilihat di www.fathulqorib.com

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini