Instrumen Dawai di Nusantara, Mulai Tradisi Sampai Inovasi

Reporter : Givari Jokowali

Terakota.idSarasehan dan workshop Dawai Nusantara menarik perhatian publik dalam Festival Dawai Nusantara (FDN) Jalan Simpang Balapan Kota Malang, Sabtu 28 Juli 2018. Sekitar 300 pelajar SMA dan SMK di Malang mengikuti workshop memetik dawai instrumen dawai tradisi seperti sapek dari Kalimantan dan Sasando dari Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka tekun memperhatikan dan belajar memainkannya.

Etnomusikolog yang juga pengajar Ilmu Budaya di Universitas Sumatera Utara Irwansyah Harahap dalam sarasehan menjelaskan selama ini gitar menjadi alat musik dawai yang terkenal. Banyak orang jika mengatakan alat musik dawai pasti alat musik yang di kenal adalah gitar.

Tak hanya gitar, tetapi segala alat musik yang bersumber dari getaran bunyi dari cord merupakan instrument dawai. “Indonesia salah satu negara yang memiliki alat musik dawai yang unik dan beragam,” katanya.

Sementara arkeolog dan pengajar sejarah Universias M. Dwi Cahyono menelusuri instrumen berdawai pada zaman Hindu-Budha. Sejarah itu terukir dalam relief Candi Jajaghu. Bentuknya mirip seperti instrumen Wina. “Alat musik yang terukir di relief akan diciptakan kembali,” katanya.

Menggandeng sebuah workshop gitar milik Dariatno di Kepanjen. Pertanyaan besar, katanya, apakah zaman Hindu-Budha alat musik dawai apakah sudah mengunakan kawat? Seperti yang dikenal sekarang. “Dalam sumber kesusastraan, dikenal pada zaman kerajaan ada pandai angawat,” katanya.

Sehingga menjadi salah satu bukti, katanya, istilah kawat digunakan untuk alat musik wina. Tak hanya instrumen dawai tradisi, Indonesia juga memiliki instrument dawai hasil inovasi. Seperti Dodi Ide pegiat Malang Musik Bersatu membuat inovasi instrumen dawai. Ia menunjukkan instrumen yang dirancang dan diproduksi sendiri.

Alat musik dawai ini menjadi ekprerimennya, dalam membuat instrumen berdawai. Dawai biasa dipukul, dipetik dan digesek. Sementara instrument hasil inovasi Dodi dipetik. Malang Musik Bersatu, katanya, menjadi ajang berkumpul anak muda untuk menunjunkkan kreativitasnya.

“Kita ingin bisa membuat sebuah history masa depan,” ujar Dodi.

Penggagas Festival, Redy Eko Prasetyo menjelaskan jika Fetival merupakan hari raya pegiat istrumen dawai di Nusantara. Harapannya, Malang menjadi episentrum alat musik dawai di Nusantara. FDN menjadi agenda tahunan kali ini memasuki tahun keempat.

“Indonesia kaya dengan instrument dawai, mulai tradisi sampai inovasi. Harus didukung dan dikembangkan,” katanya. Sarasehan ditutup dengan permaianan instrument kecapi, sasando dan sapek.

Untuk mengenalkan istrumen dawai tradisi, Museum Musik Indonesia menggelar pelatihan memetik dawai. Pellatihan diselenggarakan untuk 10 orang, yang akan dilatih oleh Redy Eko Prastyo dan Aziz “Franklin” Suprianto. Pelatihan diselenggarakan Agustus 2018 selama empat pertemuan, masing-masing pertemuan 90 menit.

Pendaftaran dibuka di Museum Musik Indonesia Jalan Nusakambangan Nomor 19 RT 01 RW 03 Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Telepon 0341- 3012518 narahubung Anang, Sekretaris MMI 0852 57588070.

“Gratis, pendaftaran ditutup setelah mencapai 10 orang,” kata Ketua MMI, Hengky Herwanto.

Tinggalkan Balasan