Innalillahi

Ilustrasi : detik.com

Terakota.id-Innalillahi wa innailaihi rajiun. Cuplikan dari Quran 2:156 yang berarti “Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali” tersebut akhir-akhir ini mendadak menjadi kalimat yang paling populer di media sosial, baik WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, dan sebagainya. Kalimat tersebut biasanya diteruskan dengan, “Turut berduka cita atas wafatnya ….. “

Berita kematian silih berganti datang kepada kita. Pagi, siang, sore, petang maupun malam, berita-berita itu meluncur di layar ponsel kita. Begitu pula di tempat-tempat ibadah. Selain suara panggilan salat lima waktu, pengeras suara masjid dan musala tak henti-hentinya mengabarkan berita duka: pemenuhan panggilan Sang Khalik kembali kepada-Nya. Berita kematian memang hal biasa, menjadi luar biasa manakala berita-berita itu telah menggeser popularitas berita lainnya, dan telah mendominasi kabar yang kita terima.

Grup-grup yang biasanya sepi mendadak ramai. Beberapa anggota grup yang semula nyaris tak pernah komen pun juga tiba-tiba muncul menyampaikan bela sungkawa, sekali pun mungkin hanya sekadar kopi paste dari ucapan yang telah tersedia dalam postingan di atasnya. Ucapan-ucapan itu begitu spontan. Begitu spontannya terkadang kita nyaris tak pernah sadar, ucapan duka itu sebenarnya kita sampaikan kepada siapa.

Di grup kantor, nyaris anggota keluarga yang ditinggal tersebut tidak berada di situ, kecuali kantor itu dikelola oleh keluarga, sehingga anggota grup terdiri dari orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan yang amat dekat. Begitu pula di grup-grup alumni, organisasi dan hobi. Namun demikian, terlepas dari ucapan duka itu ditujukan untuk siapa,  berita kematian dan ekspresi belasungkawa adalah pengingat bagi kita, bahwa sewaktu-waktu tanpa pandang bulu kita akan menyusul juga ke alam keabadian. Ucapan-ucapan itu juga terkandung doa, baik untuk yang mati maupun untuk yang masih hidup.

Ucapan belasungkawa di grup media sosial kemungkinan besar merupakan ucapan yang paling tulus yang pernah ada. Kita berbuat kebaikan, sementara orang yang menerima kebaikan itu beserta keluarganya tidak pernah tahu. Itulah kehebatan media sosial. Pernahkan kita memasang karangan bunga di rumah kita sendiri dengan tulisan, “Innalillahi … Turut berduka cita …. ,” padahal yang meninggal dan keluarganya tidak berada di rumah kita itu? Rasanya itu adalah tindakan yang aneh. Namun tidak aneh bila itu terjadi di media sosial. Kantor-kantor pun juga sangat jarang memasang karangan bunga sebagai ucapan belasungkawa yang dipajang di halamannya. Pasti karangan bunga itu dikirim ke rumah duka. Oleh karenanya, media sosial adalah sarana yang paling tulus, yang barangkali lebih tulus daripada penghuni yang ada di dalamnya. Atau bisa juga dikatakan bahwa media sosial mengajari kita untuk menjadi tulus.

Dalam sebulan terakhir, terus terang saya memang merasakan ketakutan yang luar biasa. Ketakutan itu lebih dari yang biasa saya rasakan. Dalam banyak hal, kata teman-teman, saya termasuk orang yang tergolong tidak mudah merasa takut. Ketakutan itu juga dialami oleh istri dan anak-anak. Tidak tahu dengan pasti siapa menulari siapa ketakutan yang kami alami. Ternyata kami tidak sendiri, beberapa kerabat dan sahabat juga mengalami hal yang sama. Di tengah ketakutan, sekaligus saya terheran-heran, mengapa masih banyak pula orang yang belum percaya bahwa virus korona ini betul-betul membunuh, dan menyasar siapa saja. Sebuah pulau kecil yang beberapa waktu lalu saya kunjungi dan tak ada seorang pun yang terindikasi positif Covid-19, saat ini telah ditetapkan sebagai zona hitam.

Seiring terus meningkatnya jumlah penduduk dunia yang terkonfirmasi tertular virus korona, saya memilih mengurung diri di rumah. Beberapa orang yang menghubungi saya untuk datang ke rumah, dengan sangat terpaksa saya tolak, dengan alasan yang saya sampaikan dengan sangat vulgar: saya tidak ingin tertular virus. Sekilas barangkali saya telah menuduh orang tersebut akan membawa virus. Tapi biarlah, dalam kondisi saat ini semua orang memiliki potensi membawa virus ke rumah orang lain.

Untuk melupakan bencara itu, dan sekaligus mengatasi kecemasan itu saya menyibukkan diri dengan membaca. Membaca apa saja, yang penting kepala saya harus terisi informasi  yang positif. Di tengah kecemasan itu, seluruh aktivitas harus tetap berlangsung: menulis, mengajar, mendampingi anak-anak belajar di rumah, dan tentu saja mengobrol, bercanda dengan teman-teman melalui media sosial.

Berita duka di media sosial menambah kecemasan dan kesedihan kami. Beberapa teman dan kerabat dekat telah kalah melawan virus korona dan akhirnya menyerah pada takdir, dan kemudian satu persatu menyatu dengan-Nya. Rasanya baru kemarin kita bercanda di grup bersama mereka. Rasanya masih segar di ingatan tentang kebersamaan dengan orang-orang yang hari ini tiba-tiba meninggalkan kita selamanya. Semua berlalu begitu cepatnya. Semua berlangsung tanpa seorang pun bisa menduga sebelumnya. Sebagian yang sadar pasti akan merenung, jika hari ini mereka, nanti atau esok mungkin adalah kita.

Sejak korona mewabah ke seluruh dunia, kematian telah berada begitu sangat dekat berada di depan mata kita. Kematian adalah realitas bagi mereka yang telah mengalaminya, dan bayang-bayang bagi kita yang juga akan menjadi kenyataan sewaktu-waktu. Entah nanti, esok atau lusa. Tak seorang pun bisa menduga. Tiada orang bisa mengelak. Berita kematian dapat digolongkan sebagai berita negatif. Berita negatif katanya akan menurunkan imun kita. Tapi kita tak bisa mengelak dari berita buruk itu. Kita butuh kabar itu juga. Kita butuh kabar tentang teman-teman kita, apakah mereka masih sehat, apakah sedang terbaring di rumah sakit, ataukah telah meninggal dunia.

Rasanya kita juga tidak bisa menghindar dari berita-berita buruk tentang korona dari media masa, terutama televisi. Ketika kita sudah memencet tombol kanal politik, misalnya, kita pun tidak bisa lepas dari berita tentang korona, setidaknya berita tentang korupsi dana bansos. Terkecuali bila kita istiqomah dengan kanal film kartun, barangkali bisa terhindar dari aneka berita buruk tersebut. Yang paling bijak bukan menghindar dari berita-berita itu, namun bagaimana kita memanaj hati dan pikiran kita.

Jauh sebelum korona melanda, ada meme di grup-grup media sosial dengan disertai tulisan, “Sering-seringlah komen, biar tahu kalau kamu masih hidup.” Saat meme itu sedang hit, semua orang dibuat geli ketika membacanya. Tampaknya meme itu menemukan relevansinya yang tinggi pada saat sekarang. Saat ini meme itu tak sekadar sebagai bahan lelucon. Sekali pun awalnya mungkin ditulis untuk sekadar candaan, namun saat ini meme tersebut sangat penting. Penting untuk mengingatkan anggota grup yang telah lama tidak pernah komen. Banyak teman-teman yang seminggu lalu masih mengucapkan innalillahi wa innaillaihi rajiun, saat ini ucapan yang sama mengiringi kepergiannya.

Kematian adalah misteri terbesar manusia. Karena ketiadaan kekekalan hidup dengan tubuh dan realitas tentang kematianlah orang mengenal agama dan penyembahan. Kehidupan manusia sangat bergantung pada perlindungan alam. Ketergantungan mereka kepada matahari, angin, hujan, gunung dan sebagainya serta bencana yang ditimbulkan olehnya, maka muncullah penyembahan terhadap alam.

Menurut Allan Menzies dalam History of Religion, manusia pada tahap awal tidak sepenuhnya menyadari arti kematian. Dia menafsirkan kematian mengikuti analogi mimpi, di mana ia menilai bahwa roh meninggalkan tubuh dan melintasi daerah yang jauh, kembali ke tubuh lagi ketika perjalanan berakhir. Lebih lanjut Menzies menyatakan, merupakan keyakinan universal dunia awal bahwa orang tetap hidup setelah kematian tubuh.

Ketika korona melanda, tak ada lagi seorang manusia pun yang bisa mengklaim sebagai manusia perkasa. Dalam hukum rimba, yang kuat memakan yang lemah. Beberapa jenis binatang juga merupakan pemangsa sesamanya. 22 abad silam, Plautus memerkenalkan istilah Homo homini lupus est, Manusia adalah serigala bagi sesama manusia. Artinya, dalam makna metaforis manusia juga merupakan pemangsa sesamanya. Namun para pemangsa yang perkasa itu pada akhirnya juga dibinasakan juga oleh pemangsa lainnya. Ia, pemangsa itu bukanlah manusia perkasa yang memiliki senjata, namun makhluk kecil, yang tak dapat dijangkau dengan mata telanjang.

Ya, kematian memang ada di depan mata kita. Apa yang ditulis oleh Subagio Sastrowardoyo berpuluh-puluh tahun silam, saat ini makin kita rasakan. Dan Kematian Makin Akrab, adalah salah satu puisi karya Subagio Sastrowardoyo yang akhirnya menjadi judul buku kumpulan puisi pilihannya (Grasindo, 1995). Pada 18 Juli 2021 esok lusa, Subagio genap 26 tahun menghadap kembali kepada Sang Pencipta pada usia 71 tahun. Ia meninggalkan perenungan yang mendalam tentang kematian. Puluhan sajak dalam kumpulan puisi ini memang berisi beraneka topik, tetapi topik tentang kematian tampak lebih menonjol dibandingkan dengan topik-topik lainnya. Dalam “Dan Kematian Makin Akrab,” Subagio memandang bahwa batas antara hidup dan mati begitu tipisnya:

Lihat, tak ada batas

antara kita. Aku masih terikat kepada dunia

karena janji karena kenangan

Kematian hanya selaput gagasan

yang gampang diseberangi

Tak ada yang hilang dalam

perpisahan. Semua

pulih,

juga angan-angan dan selera

keisengan –

 

Soebagio mengajak tetap optimis dalam menghadapi kematian, sebab tidak ada yang hilang atas kematian itu. Semua pulih, kata Soebagio. Semua perbuatan di masa lalu akan dijumpainya pasca kematian, sebagaimana tertulis dalam Yohanes 5: 28-29 “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” 

Sebagai pengagum Yesus, Subagio percaya bahwa kelaliman hanyalah kesesatan sesaat yang akan luluh dalam penyesalan. Sebagaimana Sang Mesias yang telah memaafkan mereka yang telah menyalibnya, dalam “Drama Penyaliban dalam Satu Adegan,” Subagio percaya bahwa mereka yang berlaku lalim, yang haus dan menginginkan pertumpahan darah sesamanya akan berakhir dengan penyesalan. Cinta dan penyerahan diri kepada Sang Maha Benar adalah senjata menghadapi kelaliman itu.

Bagi nabi, pemikir dan penyair hanya ada satu jalan

untuk menghadapi kekejaman. Bagi kami tak ada senjata,

tak gigi, kuku atau pedang. Hanya penyerahan dan cinta

kepada manusia dan keyakinan  kepada kebenaran.

Sekali pun wabah tak bisa menghentikan perang, namun wabah telah mengurangi daya mereka untuk melakukan pembasmian terhadap sesamanya, baik dalam wujud pembunuhan fisik maupun pembunuhan karakter. Mereka kini lebih banyak harus berhadapan dengan musuh bersama, virus korona. Jika kita terpaksa harus kalah dengannya, maka apalah daya, namun ingat pesan Subagio Sastrowardoyo dalam salah satu bait “Perpisahan”nya berikut ini.

Kepada kawan setia yang jaga sampai parak pagi:

“Saya masih punya utang pada si Tolan

seratus perak. Ada sisa uang

disimpan di laci. Tolong lunaskan

dan kasi salam”,

Perjalanan pulang akan lebih mantap

tanpa diganggu penyesalan.

 

Innalillahi wa innailaihi rajiun.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini