Masjid Tan Kok Liong (Foto : Susy Octaviani).
Iklan terakota

Terakota.idKiai Haji Mohammad Ramdan Effendi atau yang akrab disapa Anton Medan menyiapkan makam di samping kanan masjid Jami’ Tan Kok Liong. Makam berada di kompleks Pondok Pesantren Terpadu Attaibin yang didirikan Anton Medan. Tan Kok Liong merupakan nama Anton Medan semasa anak-anak. Beralamat di Kampung Bulak Rata, Kelurahan Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.

Makam dipersiapkan Anton Medan semasa hidup. Anton dimakamkan di pemakaman yang disiapkan pada Selasam 16 Maret 2021. Sebelumnya, makam ditutupi meja kayu dan digunakan sebagai tempat bersantai. Mahasiswa program studi sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Elysa Afrilliani pada 2015 dalam karya ilmiah berjudul Analisis Semiotik Budaya terhadap Bangunan Masjid Jami’ Tan Kok Liong menyebut makam sebagai simbol.

Anton Medan telah menyiapkan makam di samping masjid Tan Kok Liong. (Foto : Elysa Afrilliani).

“Mengingatkan pengunjung dan diri sendiri, bahwa kematian itu pasti. Setiap manusia akan merasakan mati,” kata Anton.  Anton Medan mengatakan persiapan kuburan untuk dirinya setelah meninggal lazim ada di berbagai masjid di Nusantara dan dunia. Misalnya sekitar Masjidil Haram terdapat makam Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW. Demikian pula di Mesjid Al-Mansun Kesultanan Deli di Medan.

Anton Medan mengaku menyiapkan kuburan di lokasi Mesjid Jami’ Tan Kok Liong mengacu ajaran agama Islam. Ayat-ayat Qur’an yang menjelaskan tentang kubur dan setelahnya, serta kubur di lokasi masjid yakni Surah Al-Qamar ayat 7 dan Surah Ali Imran ayat 97.

Masjid Jami’ Tan Kok Liong

Masjid Jami’ Tan Kok Liong dibangun 2005 menghabiskan anggaran sebesar Rp 2 Miliar. Bermodalkan keuntungan usaha percetakan dan sablon bagi peserta Pemilu 2004, Anton mulai mendesain bentuk masjid bergaya klenteng. Anton mendesain sendiri tanpa menggunakan jasa arsitek atau desainer interior.

Anton berburu video cakram padat berisi gambaar istana di Cina. Dari tiga istana yakni Istana Dinasti Ching, Ming, dan Han ia menjatuhkan pilihan ke ada istana Dinasti Ching. Lantaran desainnya mirip dengan desain masjid di Indonesia. Bangunan masjid berlantai tiga berukuran 16 kali 20 meter menyerupai klenteng dibandingkan sebuah masjid.

Bangunan didominasi warna merah menyala. Ornamen naga menghiasi semua sudut atap berlapis tiga. Lantai dasar digunakan untuk kantor pesantren, lantai satu dan dua untuk shalat. Sedangkan kubah masjid berukuran relatif kecil berada di atap depan lantai dasar. Berbeda dengan masjid pada umumnya yang berkubah besar dan berada di puncak atap utama.

Ornamen Masjid Tan Kok Liong, di bagian atas terpasang lafadz Allah. Bagian bawah dipasang lafadz raja dalam aksara Cina. Cat dindingnya berwarna merah muda, sedangkan pilarnya didominasi merah marun, ada juga dua pilar yang berwarna emas. Sementara atapnya berwarna hijau.

Ornamen naga khas arsitektur Tiongkok, menghiasi semua sudut atapnya yang berjenjang tiga. Papan nama yang bertuliskan “Masjid Jami Tan Kok Liong” bergaya tulisan Tiongkok sedangkan lafaz Allah ada di pucuk atapnya. Tiga penanda yang menunjukkan bahwa bangunan itu merupakan sebuah masjid adalah terdapatnya lafadzl Allah pada pucuk atapnya.