Imajinasi Pascamanusia dan SDM Unggul Indonesia

Peneliti sastra, Simona Micali baru-baru ini meluncurkan buku bertajuk Towards Post Human Imagination in Literature and Media (2019). Buku ini merupakan katalog fiksi ilmiah yang memaparkan kehadiran imajinasi karakter cerdas non manusia seperti halnya monster, klon, zombie, alien, mutan hingga cyborg. Karakter-karakter tersebut menunjukkan bahwa secara ideologis, manusia memiliki imajinasi untuk berinteraksi atau bahkan menjadi makhluk super cerdas yang melampaui batas kemampuan manusia normal.

Terakota.id–Slogan SDM Unggul Indonesia merupakan slogan yang disemarakkan untuk menunjukkan bahwa Indonesia benar-benar ingin melakukan lompatan besar dan bergegas menjadi negara maju. Perlu banyak pembenahan untuk mewujudkannya, khususnya pembenahan pemikiran. Pola pemikiran negara maju telah dianalisis oleh Tony Wagner dalam Global Achievment Gap (2015). Dia mengatakan bahwa ada dua pembeda utama antara negara berkembang dengan negara maju, yaitu imajinasi dan pola pikir kirits. Poin pertama yang perlu dibedah adalah imajniasi.

Negara maju ternyata sudah sampai pada tahap imajinasi pascamanusia. Di negara maju, imajinasi ini ditanamkan sejak kecil. Sosok-sosok pasca manusia ditransformasikan dalam tokoh yang diidolakan oleh anak-anak. Ditulis dalam bentuk komik, kemudian film kartun, barulah difilmkan ke layar lebar. Imajinasi pascamanusia diinfiltrasikan terus menerus sehingga alam bawah sadar anak-anak yang tumbuh di negara maju semakin terpacu untuk mengembangkan diri, menemukan penemuan baru, dan pada akhirnya menjadi pascamanusia yang sesungguhnya.

Pascamanusia

Peneliti sastra, Simona Micali baru-baru ini meluncurkan buku bertajuk Towards Post Human Imagination in Literature and Media (2019). Buku ini merupakan katalog fiksi ilmiah yang memaparkan kehadiran imajinasi karakter cerdas non manusia seperti halnya monster, klon, zombie, alien, mutan hingga cyborg. Karakter-karakter tersebut menunjukkan bahwa secara ideologis, manusia memiliki imajinasi untuk berinteraksi atau bahkan menjadi makhluk super cerdas yang melampaui batas kemampuan manusia normal.

Imajinasi pascamanusia memang terus berkembang seiring dengan dikembangkanya teknologi informasi dan komunikasi. Grafik perkembangan penemuan manusia pasca ditemukanya internet, begitu meningkat tajam ke atas. Perkembangan yang begitu pesat ini berbeda dengan perkembangan sebelum internet ditemukan yang terjadi secara lambat.

Apabila ditinjau dari segi imajinasi, keinginan untuk berinteraksi dengan karakter lain non manusia (pascamanusia) sesungguhnya sudah terjadi sejak revolusi agrikultur. Imajinasi pasca manusia pada tahap awal dilakukan dengan cara mistisisasi atau mengaitkan dengan segala sesuatu yang bersifat supranatural (goib). Kemajuan sains dan astronomi membuat manusia memiliki imajinasi tentang kekuatan adimanusia dari luar angkasa seperti halnya alien. Amerika membuat imajinasi pasca manusia berwujud Superman dengan logo S yang artinya harapan (hope).

Seiring berjalanya waktu, ditemukanya komputer ternyata juga memengaruhi imajinasi pascamanusia. Transformer, doraemon dan film interaksi manusia dengan robot adalah wujudnya. Saat ini imajinasi pascamanusia dipengaruhi oleh internet dan bioteknologi. Robocop, Cyborg, dan Iron Man adalah imajinasi yang dicita-citakan oleh manusia. Perkawinan antara teknologi dan mutasi gen untuk menambah kecerdasan manusia merupakan dambaan yang saat ini sedang diidam-idamkan oleh negara maju.

Film ternyata bukan satu-satunya media yang digunakan oleh negara maju untuk menanamkan imajinasi pascamanusia. Ada media lain, yaitu lagu. Wawan Eko Yulianto, P.h.D, peneliti sekaligus dosen sastra Ma Chung University, pernah melakukan kajian imajinasi pascamanusia yang terdapat dalam lagu ‘Paradigm’ karya Avenged Sevenvold (2017).

Lagu ‘Paradigm’ mengisahkan tentang tokoh manusia yang tidak lagi merasa sakit, dan tidak butuh makan tapi tetap hidup dengan jiwanya. Inti dari jiwa ini adalah isi pikirannya. Wawan mengatakan bahwa lagu tersebut seolah mengimajinasikan bahawa apabila isi pikiran manusia diunggah kemudian diunduh dan disimpan ke sebuah perangkat elektronik untuk dijalankan, maka manusia tersebut dapat hidup kembali pada raga yang lain.

Imortalitas

Apabila diruntut secara historis hingga sekarang, imajinasi pascamanusia ternyata bermuara pada imortalitas. Itulah sebabnya berbagai cara dikembangkan termasuk peretasan. Pakar sejarah, Yuval Noah Harari dalam diskusi ilmiah bertajuk Peretasan Manusia di Laussane, Juli 2019 lalu mengatakan bahwa peretasan sekarang sudah bukan lagi antar teknologi melainkan antar organisme. Manusia dan hewan sekarang sudah dapat diretas melalui teknologi ditambah algoritma pengetahuan. Mutasi gen, adalah wujudnya. Penemuan terbaru bahkan menunjukkan bahwa peretasan dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan teknologi 3D Printing.

imajinasi-pasca-manusia-dan-sdm-unggul-indonesia
@amazon.com

Temuan ini sesungguhnya sesuai dengan imajinasi manusia ketika menciptakan sosok Robocop, Iron Man, dan Cyborg. Bagian terpenting manusia ada pada otaknya, segala organ tubuh dalam diri manusia sesungguhnya merupakan organ penunjang konektifitas otak untuk bekerja. Tokoh-tokoh imajiner yang diciptakan manusia seperti Robocop, Iron Man, Terminator, dan Cyborg secara garis besar menceritakan tentang penggantian organ tubuh manusia dengan organ mekanik atau organ digital sehingga tokoh tersebut menjadi sempurna, khususnya imortal.

SDM Unggul

Setelah melihat imajinasi pascamanusia di negara maju yang begitu pesat, maka saatnya untuk melihat kembali faktor-faktor dasar yang mendasari pembentukan itu. Selain faktor teknologi ternyata ada faktor lain yang tidak boleh dilupakan yaitu kesadaran humanis. Di sinilah peran ilmu pendidikan, sosial, filsafat, dan humaniora dibutuhkan, Ilmu-ilmu tersebut bahkan menjadi jembatan untuk mengendalikan agar teknologi dan imajinasi tidak liar serta menjadi malapetaka bagi pengembangnya.

Jika kita amati, tokoh-tokoh utama pascamanusia yang diimajinasikan dan divisualisasikan selalu tokoh protagonis. Superhero yang disajikan pada anak-anak selain membentuk kesadaran untuk berkembang, ternyata juga memiliki nilai-nilai moralistik untuk menolong sesama manusia.

Bahkan, tak jarang tujuan hidup mereka untuk melindungi kehidupan manusia dan menjaga kedamaian di bumi. Kesadaran humanis perlu dikembangkan sebagai dasar untuk membentuk imajinasi pascamanusia. Jangan sampai manusia cakap dalam menggunakan teknologi tapi tidak memiliki kepekaan terhadap sesama dan lingkungannya.

Budaya Indonesia sesungguhnya memuat nilai-nilai humanis yang tinggi. Ada toleransi, tolong menolong, religiositas, guyub rukun, semuanya berjalin berkelindan sebagai aspek historis yang mendasari terbentuknya negara Indonesia. Oleh sebab itu, kita perlu membenahi infrsatruktur imajinasi kita yang mungkin selama ini masih berlubang demi mewujudkan SDM unggul Indonesia.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini