Imaji Visual Ampas Kopi

Warna yang ditimbulkan dari ampas kopi, sesuai dengan proses menyangrai. Sawir bereksperimen untuk menghasilkan warna yang menarik dan memikat. Selain menyalurkan pikiran, ide dan gagasan juga bisa mengumpulkan dana untuk membiayai anak asuhnya.

Terakota.id-Sejak setahun ini, perupa Aditya Khresna membuka warung kopi di jalan Letjen Sutoyo, Tulungagung. Warung ditata artistik, sejumlah lukisan hasil karyanya dipajang mengelilingi dinding bangunan. Pelanggan bisa menikmati karya seni sembari mencecap kopi ijo khas Tulungagung. Sekitar 13 lukisan dipanjang untuk menarik pengunjungi Warung Ngomah Gallery.

Pelukis aliran realisme ini, sebagian karyanya menggunakan cat akrilik. Namun, sebagian besar lukisan menggunakan ampas kopi atau cethe sebagai pengganti cat. Lukisan menggunakan media kertas maupun kain kanvas. “Sebenarnya sudah kepikiran sejak lama. Tapi baru direalisasikan saat membuka warung kopi,” kata Adit.

Tiga lukisan setengah badan sosok Wali Kota Surabaya Tri Risma Harini, Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Presiden Joko Widodo merupakan lukisan cethe pertama kali. Lukisan itu dipajang berjajar dan sempat dipamerkan di Surabaya.  Seniman yang telah merampungkan komik The Dwarapala ini mengakui melukis dengan cethe memiliki tingkat kesulitan tinggi.

“Tak bisa cepat dan terburu-buru. Harus menunggu kering, atau gambar rusak,” katanya. Ampas kopi, katanya, bisa menghasilkan gradasi warna dan coklat keemasan.  Dia juga tengah bereksperimen untuk melapisi lukisan agar awet dan mencegah jamur.

Aditya Khresna, duduk di antara lukisan cethe di warung yang merangkap galeri pameran. (Terakota.id/Eko Widianto)

“Formalin cocok, lukisan tak berjamur dan warna tak berubah,” ujarnya. Dari seluruh lukisan, melukisan barongan dianggap yang paling sulit. Pelukis yang mengeyam pendidikan Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang ini tengah menyiapkan lukisan untuk pameran di Amerika Serikat pada 9 sampai 23 September 2017.

Pameran yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata ini akan mengenalkan karya seni unggulan. Salah satunya lukisan cethe karya Aditya. Dia bakal membuat lukisan reog kendang kesenian Tulungagung dan kerapan sapi khas Madura.  Lukisan cethe menjadi ciri khas Aditya dalam setiap karya seninya.

Nyethe, katanya, identik dengan rokok untuk itu dia mencari media lain untuk melukis.  Kain kanvas dan kertas menjadi salah satu media yang digunakan Aditya. Menurutnya nyethe merupakan hasil karya seni yang tak bisa dipandang sebelah mata. Tak semua orang bisa melukis  rokok dengan cethe.

Dia menyayangkan selama ini pemerintah tak peduli dan tak menggali potensi kesenian asli daerahnya. Seniman, kata Aditya, tak pernah diajak dialog termasuk merespon karya seniman cethe. Adit mengajak seniman lain untuk memamerkan karyanya di warung miliknya. Adit berharap warungnya menjadi ruang pameran dan galeri karya seniman Tulungagung.

3 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan