Buku teh dan pengkhianat karya Iksaka Banu . (Foto : gramedia).
Iklan terakota

Terakota.id–Kumpulan cerita pendek Iksaka Banu yang terangkum dalam buku berjudul Teh dan Pengkhianat (cetakan pertama diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 2019) mendapat sambutan yang cukup luas dan hangat dan bahkan membuat penulisnya diganjar dengan Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 untuk kategori prosa. Ini saja sudah menunjukkan kaliber dari karya ini, yang tidak main-main.

Iksaka Banu memang dikenal sebagai penulis yang piawai dalam memadukan aspek-aspek fiktif dan fakta sejarah atau historis dalam berbagai karyanya. Dia melakukan pembacaan dan riset yang mendalam kepada sejarah lalu meramu hasil risetnya tersebut dengan imajinasi sehingga terciptalah karya fiksi sejarah yang hidup. Mungkin imajinasi menjadi semacam kulit dan rambut yang menghiasi bangunan tubuh sejarah yang dengan robust telah ditelitinya.

Namun demikian, jika sampai di sini saja, Iksaka Banu tidak sendirian dan bisa jadi dia juga tidak unik. Para penulis roman sejarah pun melakukan hal yang kurang-lebih sama, dengan kadar penelitian yang beragam kedalamannya. Baik itu Mangunwijaya, Ahmad Tohari, Arswendo Atmowiloto, maupun Pramoedya A. Toer, misalnya, melakukan hal yang serupa. Mereka mengkaji buku, dokumen, kliping, dan artefak sejarah. Beberapa melakukan penelitian dan pengamatan etnografis. Yang lain menggali data-data sejarah secara lisan.

Fakta itu tampaknya tidak menggoyahkan beberapa kalangan yang, menurut saya, dengan agak tergesa-gesa menyatakan bahwa Iksaka Banu berusaha menggoreskan ‘warna-warni’ yang lain pada sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia. Pernyataan ini mengasumsikan bahwa para penulis fiksi sejarah sebelum Iksaka Banu memandang sejarah secara monokromatis, atau secara hitam-putih.

Itu berarti di dalam kebanyakan karya sastra pra-Iksaka, orang Belanda sebagai pihak penjajah dilukiskan dan dinarasikan sebagai kaum yang jahat, serakah, kejam, dan eksploitatif. Dan sebaliknya, orang Indonesia (atau Hindia-Belanda) direpresentasikan sebagai korban dari kejahatan, keserakahan, kekejaman, dan eksploitasi penjajah. Mereka ini orang baik yang dizolimi.

Pandangan semacam ini bisa jadi muncul karena di dalam cerita-ceritanya, Iksaka Banu memang banyak mengambil sudut pandang orang Belanda. Alih-alih bercerita dengan memakai ‘mata’ tokoh orang Indonesia, Iksaka Banu di dalam cerpen-cerpen di Teh dan Pengkhianat  bercerita dengan meminjam mulut, telinga, mata, dan tangan orang Belanda, entah itu pejabat militer atau pelaut atau pejabat dinas kesehatan atau pejabat kolonial yang lain.

Karena dalam konteks kesejarahan Indonesia, sudut pandang yang seperti ini tidak lazim—di mana kelazimannya adalah digunakannya sudut pandang dan narasi dari orang Hindia Belanda atau Indonesia—muncullah impresi bahwa Iksaka Banu memperlakukan orang-orang Belanda sebagai sub-altern yang diberinya ruang dan kesempatan untuk bernarasi. Itulah mengapa Iksaka terkesan memberikan ‘warna-warni’ baru dalam sejarah kolonialisme Indonesia.

Hal tersebut terasa semakin kuat manakala kita menelaah bagaimana tone yang dilekatkan pada tokoh-tokoh Belanda itu. Meskipun tidak seluruhnya, beberapa tokoh Belanda itu tidak ditampilkan sebagai tokoh yang jahat, serakah, kejam, dan eksploitatif. Beberapa tokoh Belanda justru ditampilkan sebaliknya, atau setidak-tidaknya sangat manusiawi dan penuh perhatian pada nilai-nilai kebaikan.

Tokoh-tokoh berkebangsaan Belanda tersebut merasa skrupel dengan kolonialisme yang bangsa mereka jalankan di Hindia Belanda, merasa amat malu sebagai anak bangsa yang semestinya menjadi terang dan garam dunia namun pada kenyataannya justru menjadi perampas dan perompak bangsa lain. Beberapa dari mereka secara terang-terangan memuji atau merasa kagum dengan pencapaian bangsa pribumi. Mereka ini dinarasikan sebagai kalangan kolonial yang bersimpati dengan keadaan kaum pribumi yang terjajah.

Akan tetapi, sungguhkah tokoh-tokoh Belanda dalam karya Iksaka Banu tersebut hendak menunjukkan bahwa kolonialisme Belanda atas Hindia Timur atau Indonesia tidak sepenuhnya jahat? Atau, setidak-tidaknya karya-karya Iksaka Banu merupakan ‘penyeimbang’ bagi narasi bahwa orang Belanda pasti jahat, serakah, kejam, dan eksploitatif seperti ditemui dalam banyak sekali karya sastra gubahan para sastrawan Indonesia, termasuk di dalamnya Pramoedya A. Toer? Kita akan mencoba menggali jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan analisis atas salah satu karya cerita pendek di buku Teh dan Pengkhianat, yang berjudul ‘Variola’.

‘Variola’: Orang Belanda Ada yang Baik, tetapi Tidak dengan Kolonialisme

Secara singkat, cerpen ‘Variola’ berkisah tentang bagaimana Adriaan Geest, seorang officier van gezondheid (petugas kesehatan) berjuang untuk menyediakan vaksin variola atau cacar karena penyakit tersebut, pada tahun-tahun itu, 1871, sedang mengamuk dan telah menewaskan delapan belas ribu orang di Bali saja. Menunggu vaksin dari Eropa, meski jalur pelayaran telah berhasil dipangkas dengan dibukanya Terusan Suez, masih dianggap terlalu lama; sedangkan memanen vaksin dari darah anak-anak pribumi yang dikirim ke Bali tidak memungkinkan karena anak-anak pribumi terlalu takut meninggalkan orang tua mereka untuk waktu yang lama.

Pilihan yang masuk akal adalah mencari anak-anak Eropa, yang dipandang lebih mandiri, menyayat lengan mereka sedikit lalu memasukkan virus cacar yang sudah dijinakkan. Selama perjalanan dari Batavia ke Bali, yang memakan waktu beberapa hari dengan kapal, vaksin pun siap dipanen dari tubuh anak-anak itu dan lantas disuntikkan ke warga yang membutuhkan. Sesederhana itu dan sesimpel itu.

Akan tetapi, sampai pada batas waktu yang sudah ditentukan, hanya lima dari sepuluh anak yang dibutuhkan berhasil diperoleh dan bersedia berlayar ke Bali. Padahal, mereka ini mendapat upah yang sangat tinggi untuk ukuran saat itu. Setiap anak yang mau berangkat diberi upah f 50, di luar uang makan dan uang kapal. Seandainya ada orang dewasa yang mau mendampingi, orang dewasa ini pun akan mendapat upah yang sama besarnya.

Upah ini relatif sangat besar. Sebagai perbandingan, upah buruh perkebunan pada waktu itu, akhir abad kesembilan belas, berkisar 20-30 sen per hari. 1 f setara dengan 100 sen. Itu berarti dengan sekali pergi saja, mereka mendapat upah yang sama dengan yang didapat oleh buruh perkebunan setelah mereka memeras keringat selama sekitar 200 hari.

Mengeluarkan uang sebanyak itu untuk menyelamatkan masyarakat pribumi yang sedang dilanda pagebluk variola menerbitkan tanya: mengapa dan dapat uang dari mana sehingga pemerintah kolonial bersedia melakukannya? Pertanyaan tentang mengapa tidak dapat kita jawab dari membaca cerpen Iksaka begitu saja, kecuali kita peka pada nuansa bahwa dalam cerpen tersebut Adriaan Geest dan beberapa pejabat pemerintah merasa sedih dengan kejadian yang menimpa masyarakat Hindia.

Dengan nada yang hampir terdengar simpatik, Adriaan Geest menyesalkan apa yang terjadi: “Mengapa Tuhan menciptakan wabah penyakit? Apakah Ia jemu melihat kedamaian dan ketenteraman umat-Nya? Mengapa Tuhan gemar membuat ironi? Lihatlah Hindia Timur, untaian zamrud molek ini. Kepulauan luas dengan siraman sinar matahari sepanjang tahun, hasil bumi melimpah, serta penduduk yang rajin melempar senyum.”

Deskripsi yang sangat mooi indie (Hindia yang molek), yang memandang bentang alam dan penduduk Hindia sebagai sesuatu yang indah, elok, eksotis, atau apa pun. Tetapi, di balik cara pandang ini, yang menjelaskan ‘mengapa’ pejabat kesehatan kolonial ingin menolong warga pribumi adalah rasa superioritas terhadap pribumi.

Mereka merasa bisa menolong, mereka merasa kasihan, mereka merasa menyayangkan bahwa sesuatu yang mereka anggap indah dan molek itu, seperti gadis cantik yang rapuh, kini sedang berada dalam ancaman pagebluk yang dapat merusak keindahan dan kemolekannya. Hanya kaum yang merasa diri superior yang ‘terpanggil’ untuk menuntaskan tugas menolong yang lemah.

Di sini terkandung suatu sikap rasis atau rasisme yang begitu subtil, yang menganggap kelompok ras Eropa lebih kuat, lebih solid, dan lebih kukuh untuk menolong. Adalah tugas orang kulit putih untuk membantu memperadabkan orang berkulit berwarna. Namun, pada waktu yang sama ada keengganan dan ketakutan untuk mencampurkan diri terlampau dalam. Tidak boleh ada ketidakmurnian yang tercipta dari percampuran antara orang kulit putih yang kudus dan orang kulit berwarna yang biadab. Jika harus menolong, maka tindakan menolong itu dilakukan semata-mata agar merasa diri baik (to feel good about oneself), untuk menegaskan posisi diri yang lebih tinggi dan beradab dan semacamnya.

Dari semuanya yang terdengar abstrak tersebut, ada sesuatu yang sangat konkret. Itu terkait dengan uang yang akan mereka gunakan untuk membayar anak-anak yang akan menjadi bibit vaksin. Uang yang jumlahnya tidak sedikit itu sebenarnya tidak ada artinya, atau kecil sekali persentasenya, bila dibandingkan dengan mereka peras dan ekstrak dari praktik Sistem Tanam Paksa yang dijalankan dengan tangan besi antara 1830-1870.

Berapa banyak yang pemerintah kolonial Belanda peroleh dari sistem yang tidak manusiawi ini tidak diketahui dengan pasti, tetapi satu hal yang jelas, sistem Tanam Paksa berhasil mengentaskan Hindia Belanda dari keadaan nyaris bangkrut setelah Perang Jawa menjadi salah satu eksportir terbesar produk-produk pertanian dan perkebunan.

Cerpen-cerpen Iksaka Banu sepembacaan kami, dengan demikian, bukan saja memberi ‘warna’ baru pada narasi tentang kolonialisme, tetapi rasanya agak sedikit terlalu jauh sampai terdengar simpati pada kolonialisme itu sendiri. Memang tidak boleh ada demonisasi terhadap persona, tetapi juga tidak lantas kebaikan hati dan kemurahan hati beberapa orang yang adalah bagian dari skema kekejian lebih besar membenarkan kekejian tersebut.

*Dosen Prodi Sastra Inggris Universitas Ma Chung, penerjemah, pembaca giat.

**Mahasiswi Prodi Sastra Inggris Universitas Ma Chung.