Ikhtiar Guna Menjelaskan Herd Stupidity

Ilustrasi : Politicalcartoons.com

Terakota.id–Setelah lebih dari satu tahun pandemi Covid-19 melanda dunia dan setelah data global menunjukkan lebih dari 178 juta orang terjangkit dengan 3,85 juta angka kematian karenanya, masih saja ada banyak orang yang tidak percaya bahwa Covid 19 ada. Bahkan setelah muncul varian Alpha, Beta, Delta, dan terakhir Lambda (kompas.com, 17 Juni 2021), tidak sedikit orang yang masih meragukan penyakit tersebut.

Di Indonesia, menurut detik.com (9 Maret 2021) terdapat sekitar 17 persen warga yang tidak percaya bahwa Covid itu ada, atau meyakini bahwa Covid itu adalah konspirasi jahat dan penyakit rekayasa manusia. Tujuh belas persen dari 271 juta jiwa rakyat Indonesia (Sensus Penduduk 2020, bps.go.id) setara dengan 46 juta jiwa. Jumlah yang sangat banyak, setara dengan 4,5 kali jumlah warga Jakarta!

Di sisi lain, dalam upaya untuk mencari strategi bersama guna mengatasi pandemi, semakin banyak orang yang terlibat secara aktif di dalamnya semakin efektiflah strategi tersebut. Dan agar orang mau terlibat aktif, pertama-tama mereka harus percaya bahwa Covid benar-benar ada dan berbahaya bagi kehidupan semua orang.

Herd immunity (kekebalan kelompok) yang mampu melindungi suatu komunitas dari penyakit menular, misalnya, baru dapat dicapai apabila sekitar 70 sampai 90 persen orang terlindungi, entah lewat patuh pada protokol kesehatan maupun melalui vaksinasi (kemkes.go.id).

Pekerjaan rumah kita bersama, karenanya, adalah meyakinkan yang sekitar 17 persen dari masyarakat yang belum yakin tentang Covid 19 agar percaya bahwa penyakit ini ada dan agar mereka ambil bagian secara aktif dalam menanganinya.

Apabila saya cermati kolom komentar di berbagai portal berita daring, saya menemukan bahwa tidak sedikit warganet +62 yang menyampaikan ketidakpercayaan mereka pada Covid. Itu juga terlihat bahkan ketika yang berbicara tentang Covid 19 adalah pejabat pemerintah, pakar kesehatan, tokoh masyarakat, dan semacamnya. Sepertinya, tidak peduli siapa yang berbicara, khususnya bila mereka adalah kalangan pemerintah, ketidakpercayaan menetap.

Mengapa bisa begitu? Dalam konteks Indonesia, salah satu penjelasan tentangnya diberikan oleh studi yang dilakukan oleh Rachmad Gustomy dari Universitas Brawijaya pada 2020. Dia melakukan penelitian yang hasilnya dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan (September 2020). Dalam artikel tersebut, Gustomy mengupas efek polarisasi politik dalam wacana Covid-19.

Salah satu temuannya adalah bahwa residu dari kontestasi pilpres 2019 (dan bisa jadi juga 2014) yang panas terasa kuat dalam menyikapi pandemi ini. Walaupun di tataran elite, para pemimpin dan pengusung masing-masing kubu telah menjadi sedemikian cair dengan bahkan capres dan cawapres yang kalah kini bergabung dalam pemerintahan, di tingkat akar rumput, polarisasi tersebut masih cukup kuat. Banyak pihak yang kalah terlihat tetap ‘kritis’ dan cenderung ‘nyinyir’ terhadap apa pun langkah yang diambil pemerintah dalam usaha mengatasi Covid.

Selain penjelasan yang terkait politik seperti itu, mesti pula disadari bahwa, secara psikologis, persepsi manusia adalah persepsi yang selektif. Dalam hal itu, perlu dimengerti bahwa mata manusia tidak seperti kamera CCTV yang dapat merekam apa saja yang kebetulan melintas di hadapannya dan berada dalam jangkauan lensanya. Ketika mata manusia membuka, mata itu akan hanya melihat apa yang paling menarik, apa yang paling terkait dengan kepentingan sendiri, atau apa yang paling ini atau paling itu yang lain.

Ini tidak hanya berlaku dengan mata, tetapi dengan indera-indera manusia yang lain. Termasuk  di dalamnya adalah indera penciuman, pendengaran, pencecap, dan seterusnya. Intinya, bagaimana kita berhubungan dan menerima informasi dari luar selalu bersifat selektif; tidak pernah bersifat benar-benar nirbias, total, dan objektif.

Dalam psikoanalisis, khususnya psikoanalisis Freudian, dikenal adanya mekanisme pembelaan diri yang dinamakan persepsi selektif. Mekanisme pembelaan diri sendiri didefinisikan sebagai cara yang lazimnya tidak disadari oleh seseorang yang digunakannya untuk mempertahankan diri ketika dia merasa terancam, entah oleh sesuatu yang memang faktual mengancam atau yang dibayangkan mengancam (Tyson, 2004).

Persepsi selektif berarti bahwa seseorang akan memilih untuk memberi perhatian hanya pada hal-hal yang menarik hatinya, yang dipandang tidak akan merugikan atau menyakitkannya, yang enak-enak, yang sesuai dengan apa yang sudah diketahui sebelumnya, dan pendek kata yang tidak mengusik apa yang dipandang telah cocok dengan penilaian seseorang. Pada waktu yang sama, persepsi selektif membuang atau menutup muka terhadap hal-hal yang dirasa mengganggu, tidak menyenangkan, merugikan, menyakitkan, dan semacamnya.

Dalam praktiknya, satu mekanisme pembelaan diri jarang yang berdiri atau beroperasi sendiri. Sebuah mekanisme pembelaan diri kadang berkelindan dan saling meneguhkan dengan mekanisme pembelaan diri yang lain. Demikian pulalah mekanisme pembelaan diri persepsi selektif ini. Persepsi selektif biasanya muncul bersama dengan pengingkaran (denial).

Pengingkaran, sebagai mekanisme pembelaan diri yang lain, merujuk pada usaha yang tidak disadari yang mencoba tidak menerima atau mengakui adanya masalah atau isu yang mesti dihadapi dan dipecahkan. Menghadapi atau memecahkan masalah membutuhkan keberanian dan kebesaran hati, juga kesediaan untuk menanggung risiko gagal dan tersakiti. Orang yang melakukan pengingkaran tidak menginginkannya atau menganggapnya sebagai ancaman.

Ketidakpercayaan cukup banyak orang, termasuk warga Indonesia, pada Covid 19 bisa dilihat merupakan akibat dari mekanisme pembelaan diri persepsi selektif dan pengingkaran. Orang memilih untuk tidak percaya dan untuk menolak keberadaan sesuatu yang secara ilmiah dan sahih telah terbukti keberadaannya karena menganggap hal tersebut adalah ancaman.

Untuk dapat menekel mekanisme pembelaan diri ini, yang pertama-tama harus dilakukan adalah menyadari bahwa mekanisme tersebut memang hadir dan beroperasi. Istilah teknisnya dalam psikoterapi adalah mengangkat apa yang sebelumnya ada di bawah kesadaran menuju pada kesadaran. Dengan kata lain, kita perlu membantu mereka yang memilih untuk menutup mata dan menolak atau mengingkari keberadaan Covid ini untuk mau menyadari dan menerima bahwa Covid itu benar-benar nyata dan bukan konspirasi jahat.

Di sinilah letak kepelikan masalahnya, atau malah sederhananya masalahnya. Bagaimana mengatakan kepada orang yang merasa tidak sakit bahwa dia sakit dan perlu diobati?

Untuk itu, kita perlu mencari bantuan yang tepat. Dan tidak jarang untuk sekadar memberitahu kepada seseorang bahwa dia sakit, kita tidak membutuhkan dokter spesialis atau pakar. Kita hanya perlu mencari tahu kepada siapa orang yang sakit itu menaruh kepercayaannya. Bisa jadi, itu adalah kepada pasangan, sahabat, atau guru spiritualnya.

Di sinilah pendekatan yang tepat perlu diupayakan. Jika suatu masyarakat atau kelompok orang lebih percaya kepada tabib atau guru ngaji, ya tidak ada salahnya untuk ‘menitipkan’ pesan tentang keberadaan dan kegawatan Covid ini melalui mereka.

Jika yang dipercaya adalah sosok olahragawan kondang, ya jangan ragu untuk meminta bantuan olahragawan tersebut untuk mengampanyekan perlunya prokes, misalnya. Jika Christiano Ronaldo yang menggeser minuman bersoda saja mampu menggerus dalam saham perusahaan pembuatnya, bayangkan bagaimana jika dia datang ke konferensi pers dengan memakai masker, menyemprot tangannya dengan hand-sanitizer dan memamerkan sertifikat vaksinasinya, misalnya.

Atau bagaimana jika para kyai karismatis di Bangkalan dan Kudus, setiap khotbah salat Jumat, selalu mencontohkan kepatuhan pada prokes dan semacamnya. Tentunya, akan lebih banyak orang berhenti memakai mekanisme diri persepsi selektif atau pengingkaran terhadap Covid.

Tetapi, masalahnya dalam gerombolan dan, terlebih, mentalitas kelompok yang sangat kuat di masyarakat kita, kebodohan banyak orang lebih terdengar nyaring daripada kebeningan suara kelompok waras yang memilih diam. Begitulah esensi dari herd stupidity: yang bebal berjamaah tidak hanya yang tidak percaya pada Covid, tetapi juga yang percaya pada Covid dan sadar akan bahayanya tetapi memilih diam.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini