Ijinkan Saya Mengumpat

Terakota.id–Katakanlah Anda mempunyai tubuh sehat, kuat, dan punya imun yang tinggi. Muda, berbadan atletis dan secara fisik tampil segar. Anda merasa yakin tak mudah virus menular di tubuh. Ini misalnya. Di ssisi lain, Anda juga  Anda percaya bahwa virus Covid-19 bisa menular dengan cepat. Virus itu pun juga mematikan.

Karena terlalu percaya diri, Anda tidak menghiraukan anjuran pemerintah untuk melakukan social distancing. Salah satunya menghindari kerumuman. Misalnya kerumuman di mal, pengajian, kampus, sekolah, pasar, dan pusat perbelanjaan lain. Anda juga  tak mau melaksanakan himbauan hand sanitizer. Anda terlalu percaya diri karena sehat wal afiat.

Untuk apa himbauan itu? Toh virus ada di mana-mana sejak dahulu kala. Virus tidak bisa dimatikan hanya ditekan pertumbuhannya. Jika tubuh sehat, maka imun tubuh akan membunuh kuman itu dengan sendirinya. Ini kepercayaan Anda.

Karena kepercayaan itu maka Anda hidup sehari-hari seperti biasa. Ancaman  Covid-19?  Ah, itu biasa. Tidak usah dibesar-besarkan. Lalu, kumpul bareng teman-teman. Ngopi. Ngafe. Keluyuran kesana kemarin. Pokoknya Anda tidak mau “dikurung” di rumah untuk ikut menekan pertumbuhan dan penularan virus.

Sekarang kita pakai analogi begini saja. Anda bepergian. Anda tiba-iba ketularan virus itu tanpa disadari. Karena imum tubuh kuat Anda tidak merasakan sakit apa-apa. Ya namanya orang kuat. Lalu dengan virus dalam tubuh itu Anda pergi ke Mall bertemu banyak orang. Juga melakukan transaksi. Lalu pulang.

Besok paginya ke kafe bertemu banyak orang, berdempetan, transaksi pembayaran kopi. Lusa, Anda perlu ke pasar bertemu dengan orang tua yang berjualan, bertransaksi. Lalu Anda pulang. Seperti itu kegiatan sehari-hari. Seperti tidak pernah ada ketakutan apa-apa.

Anda tetap percaya tidak akan tertular virus tersebut. Bagaimana tidak? Badannya kuat kok. Imunnya juga mumpuni. Bahkan Anda mengatakan bahwa mereka yang takut virus itu terlalu lebay. Bahwa anjuran untuk “mengarantina di rumah” itu tak perlu dilakukan. Hanya menimbulkan kepanikan masyarakat.

Pemerintah yang awalnya menutup-nutupi perkembangan virus itu Anda anggap bagus. Memang harus ditutupi, daripada masyarakat nanti panik. Terus saat kemudian pemerintah mengakui bahwa perkembangan virus sudah cepat dan perlu hat-hati, Anda mengaggap pemerintah mendadak juga ikut lebay. Ngapain takut sama virus? Ini misalnya saja.

Bagi Anda itu semua hak asaasi manusia. Hak paling dasar manusia untuk dihormati. Itu kepercayaan Anda, misalnya. Karenanya tak boleh ada yang melanggar hak tersebut. Ini sisi Anda. Maka, Anda tetap bebas kemana-mana.

Lebay, Ah

Pertanyaannya, apakah hak asasi itu tidak melanggar hak orang lain juga. Misalnya, apakah yang Anda lakukan itu tidak membahayakan nyawa orang lain? Apakah kekuatan tubuh yang Anda punyai itu memberi jaminan bahwa orang lain di sekitar tidak tertular? Bagaimana mereka yang ada di pasar melakukan transaksi dengan Anda? Bagaimana mereka yang transaksi keuangan dan barang dengan Anda di pusat perbelanjaan terjamin sehat? Karena Anda, misalnya, sudah potisif Covid-19, beranikah menjamin? Sekali lagi berani menjamin orang yang berkerumun dengan Anda tidak tertular?

Katakanlah, ini sudut pandang lain, virus itu ciptaan Tuhan. Maka asal kita percaya Tuhan virus tidak akan bisa apa-apa. Anda percaya juga bahwa itu semua menguji keimanan seseorang. Kalau imannya lemah ia akan takut dengan virus. Virus saja ciptaan Tuhan kok, kenapa takut? Tuhan sedang menguji manusia, katanya. Maka, Tuhan juga akan menjadi pelindung. Ini kepercayaan Anda. Ya terserah.  Tapi katakanlah persoalan ini persoalan dunia. Mungkin Anda aman. Pertanyaannya, apakah yakin tidak menularkan virus ke orang lain?

Mengumpat

Minggu lalu saya sholat Jumat di sebuah masjid di Jetis, Mulyoagung, Dau, Malang. Dekat rumah saya. Sudah ada himbauan dari Pengurus Pusat Muhammadiyah (PPM) agar diperbolehkan sholat di rumah dengan keadaan-keadaaan darurat tertentu. Kalaupun dilaksanakan di masjid, masjid bisa menjamin bahwa para jamaah itu dalam keadaan sehat.

Tentu ini dibutuhkan alat deteksi. Tak semua masjid tentu punya. Keputusan PPM itu juga mungkin tidak sembarangan dikeluarkan. Tentu sudah mempertimbangan banyak hal, banyak segi, plus minusnya. Juga dasar hukum agama yang mencukupi. Ditambah lagi keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Namun apa yang terjadi? Sholat Jumat tetap dilakukan sebagaimana biasanya. Bahkan karpet yang digunakan untuk sholat seperti biasanya juga tidak digulung dan jamaah tak dihimbau membawa alat sholat sendiri. Sementara banyak masjid di sekitar Malang sudah berusaha mengatisipasi untuk menggulung karpet karena menjadi perantara tinggi penularan virus.

virus-corona-dan-kepanikan-massal
Ilustrasi : China Daily

Lalu, khotib dengan berapi-api mengatakan untuk apa percaya isu Corona itu. Itu ujian bagi manusia. Tuhan akan memberikan ujian dengan kelaparan dan penyakit. Intinya menekankan agar tidak usah takut pada virus. Maknanya, tidak perlu ada “pelarangan” jamaah di masjid.

Saya paham apa yang dialami oleh khotib tersebut. Masalahnya, bukan soal tak percaya Tuhan. Bukan itu. Kenapa tidak realistis saja? Misalnya, tetap menasihati kepercayaan pada Tuhan tetapi juga tetap menjadi kesehatan tubuh dan membatasi pergaulan. Ini kan tidak melanggar aturan Tuhan?

Apakah membersihkan masjid, misalnya, dengan menggulung karpet itu, tak mematuhi anjuran Tuhan? Mungkin khotib selamat dan sehat. Tetapi apakah tidak ada nasihat khusus untuk jamaah agar tetap menjaga kebersihan? Termasuk tidak perlu keluar rumah jika tak terpaksa atau perlu? Ini mungkin soal logika. Sekali lagi bukan saya tak percaya Tuhan. Ini lebih soal hidup bermasyarakat. Ada hak hidup orang lain yang tetap harus diperhatikan dalam masyarakat.

Coba lihat lagi, ada Ijtimak ulama dari seluruh dunia yang akan dilakukan di Goa, Sulawesi Selatan pada tanggal 19 Maret 2020.  Beruntung acara ini batal dilaksanakan. Tentu mengecewakan bagi para peserta. Tetapi itu pilihan yang harus dilakukan.

Dalam waktu bersamaan, ada penahbisan Uskup di Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).  Acara ini tetap jalan. Padahal sudah ada himbauan pemerintah untuk mengurangi acara berkumpul. Mungkin mereka merasa aman karena jauh dari “pusat virus”. Mungkin mereka percaya pada kekuasaan Tuhan yang diyakininya. Tetapi apakah bisa menjamin virus tidak menyebar? Bagaimana jika daerah lain ngotot ikut melaksanakan acara serupa karena di sana juga tidak menunda? Serba sulit bukan?

Wabah ini wabah kita semua. Saatnya kita peduli, bukan menjadi kepala batu. Melihat kepala batunya masyarakat kita karena tak peduli dengan virus covid-19, rasanya saya ingin mengumpat.

Jalan Kemanusiaan Tuhan

Apa pelajaran yang bisa kita petik? Apakah ini khas negeri kita? Jika demikian akan susah himbauan demi himbauan. Masyarakat kita itu memang hanya mau patuh jika diberi sanksi  atau berkaitan dengan  sesuatu yang sifatnya materi. Misalnya, jika keluar rumah akan didenda. Jika keluar rumah akan ditembak. Atau jika keluar rumah akan dipotong gajinya. Ini baru bisa berjalan dengan baik.

Tentu saja tetap memberikan kesempatan mereka yang bekerja di luar rumah karena  itu yang bisa dilakukan. Tenaga medis, wartawan, sopir angkot dan tenaga lapangan lain tentu perkecualian. Tetapi kalau orang kantoran saja bisa melaksanakan pekerjaannya di dalam rumah atau kantor, kenapa tidak?. Intinya hanya satu membatasi pergaulan di luar rumah.

Masyarakat kita memang tingkat toleransi dan kesadarannya belum tinggi. Bukan tidak punya. Toleransi masyarakat berjalan baik manakala tumbuh empati tinggi jika dihadapkan pada suatu masalah. Jika tak ada masalah mudah saja orang toleran.  Jadi, seseorang bisa dikatakan empati pada korban Covid-19 bisa dilihat sejauh mana dia punya kemampuan mengekang diri dan membatasi pergaulan. Empati, dan juga toleransi itu memang mudah diomongkan tepat sulit diwujudkan.

Virus Covid-19 ini sangat rumit, pelik dan penuh tanggung jawab. Ia bukan hanya diteriakkan, tetapi dilaksanakan. Virus bukan soal percaya dan tak percaya ajaran Tuhan. Justru wabah ini menyadarkan pada manusia pentingnya memahami jalan kemanusiaan ajaran Tuhan.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini