Ihwal Puisi dan Anak

Penerbit Indonesia lebih menyukai antologi cerita anak maupun novel, dibandingkan karya-karya puisi anak, dengan alasan kumpulan cerita dan dongeng untuk anak lebih mudah dijual. Relasi puisi anak-anak tak pernah dibangun secara serius di ranah akademik, diperparah dengan absennya desain besar untuk mendekatkan kembali anak-anak dengan puisi.

Ilustrasi : Utusan.id

Shadows on the wall
Noises down the hall
Life doesn’t frighten me at all
Bad dogs barking loud
Big ghosts in a cloud
Life doesn’t frighten me at all
Mean old Mother Goose
Lions on the loose
They don’t frighten me at all
Dragons breathing flame
On my counterpane
That doesn’t frighten me at all

Life doesn’t frighten me at all
Not at all
Not at all.
Life doesn’t frighten me at all…
(Maya Angelou)

Terakota.idPuisi yang digubah Maya Angelou itu berjudul Life Doesn’t Frighten Me. Diksi puisi  khas anak-anak. Jujur dan apa adanya. Anak-anak menjalani hidup tanpa gentar, bertemu bayangan, suara berisik, suara gonggongan anjing, awan di langit menyerupai hantu, ibu angsa galak, singa yang lepas, naga yang menyemburkan napas api dan berada dekat sekali dengan mereka. Peristiwa-peristiwa seru tetaplah menyenangkan bagi anak-anak. Kehidupan adalah tempat bermain seluas-luasnya. Permainan yang sama sekali tak menakutkan anak-anak.

Saya jadi ingat puisi Di Tangan Anak-anak, karya Sapardi Djoko Damono,

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad

yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung

yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan;

di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.

“Tuan, jangan kauganggu permainanku ini.”

Benda mati ataupun mahluk hidup adalah objek imajinasi yang tak habis-habis dijamah anak-anak. Keriangan bisa diciptakan kapan saja, dengan materi yang tersedia. Orang dewasa tak punya kuasa mengunjungi negeri imajinasi, yang mereka produksi dengan sepenuh hati. Sebab, kertas bisa disulap jadi perahu Sinbad, pula burung.

Coretan tangan anak-anak di kertas nampak seperti benang kusut, yang tak ketahuan mana pangkal dan ujung, bagi orang dewasa. Namun bagi anak-anak, goresan pensil di kertas adalah fakta yang hendak dinamai. Realitas yang akan dibangun relativitasnya. Narasi yang dikisahkan ulang untuk dimaknai. Orang dewasa, lagi lagi, tak punya kemewahan melakukannya.

Puisi dan anak-anak kerap diasumsikan berada dalam dua kutub yang bertolak belakang. Puisi serius, sementara anak-anak bersemayam di dunia dolan, kelakar, dan main-main. Asumsi itu menegasikan sejarah hadirnya anak-anak, yang hidup bersama senandung buaian sejak dalam rahim ibu mereka. Komunikasi pertama yang dibangun bayi dalam rahim adalah dengan ibunya. Tak ada ibu yang tak menyanyikan buaian melodius untuk janinnya. Kedekatan bayi dengan syair lagu dan musik, adalah cinta awal bayi pada kehidupan.

Syair lagu, musik, dan puisi berbagi wilayah senada. Ada pengulangan kosa kata, persajakan, tempo, jeda, nada, intonasi, dan diksi tentu saja. Adalah Morgan Styles, profesor puisi anak-anak dari Inggris yang mengkritisi betapa kita abai pada puisi anak-anak. Ia mengajukan pertanyaan reflektif mengapa puisi anak-anak itu penting? Penting untuk anak-anak, orang dewasa di sekitar anak, dan tentu saja untuk dunia.

Puisi memang tak menyembuhkan seseorang dari serangan virus Covid-19. Puisi tak mampu mengenyangkan perut orang-orang miskin, Puisi tak bisa dipresentasikan senikmat batang coklat dalam kue tar kesukaan anak-anak. Puisi tak punya harum rempah layaknya lapis legit yang baru saja diangkat ibu dari oven panas. Lalu apa yang bisa puisi tawarkan pada anak-anak?

Menghadapi bayi dan anak-anak yang sedang rewel, orang dewasa melantunkan syair dan menyenandungkan lagu lagu nina bobo. Saat dibacakan cerita atau didongengi, anak-anak menuntut pengulangan kosa kata tertentu, meminta pengucapan yang lebih intens terhadap kalimat tertentu yang diucapkan tokoh, memaksa orang dewasa memutar otak untuk membawakan cerita dengan tempo, jeda, nada, dan intonasi yang ekspresif, artistik, dan puitis. Puisi sesungguhnya adalah ekspresi renjana naluriah anak-anak.

Seiring bertambahnya usia anak-anak, pelajaran sastra di sekolah, utamanya genre puisi, kerap kali dijauhi guru-guru Bahasa Indonesia, dengan alasan tidak kompeten membuat puisi. Puisi menjadi bentuk sastra yang minim dipajankan, dibandingkan prosa maupun drama. Akibatnya, anak-anak menjauhi puisi, hingga cinta pertama dan potensi alamiah anak-anak dalam mengapresiasi puisi, lenyap secara berkelanjutan.

Di rak rak toko buku, pun di perpustakaan sekolah, buku puisi adalah buku yang tak banyak dijamah anak-anak. Pustakawan dan guru-guru Bahasa Indonesia di sekolah tidak merekomendasikan puisi sebagai bacaan utama untuk anak-anak. Pengalaman penulis menawarkan puisi anak-anak kepada para penerbit Indonesia, juga lebih banyak ditolak.

Penerbit Indonesia lebih menyukai antologi cerita anak maupun novel, dibandingkan karya-karya puisi anak, dengan alasan kumpulan cerita dan dongeng untuk anak lebih mudah dijual. Relasi puisi anak-anak tak pernah dibangun secara serius di ranah akademik, diperparah dengan absennya desain besar untuk mendekatkan kembali anak-anak dengan puisi.

Ihwal puisi, jika merunut pada sejarah, teks-teks kuno yang ditulis, diawali dengan puisi, sebut saja Gilgamesh dan Iliad. Sejarah puisi yang menggulirkan peradaban manusia, seperti puisi terpanjang di dunia, berasal dan ditulis orang Bugis, I La Galigo. I La Galigo disebut juga sebagai Sureq Galigo, atau Galigo, adalah epik penciptaan peradaban Bugis yang ditulis pada abad 14 atau 15 dan beraksara lontara Bugis kuno.

Kesusastraan Inggris, Beowulf , long narrative poem (puisi naratif panjang), saat saya masih kuliah sastra Inggris di tahun 1990 an(entah saat ini) dikukuhkan sebagai bentuk karya sastra yang paling awal lahir, sebelum prosa dan drama. Berlanjut ke sejarah rempah, yang relatif banyak dihiasi literatur dan teks berbentuk puisi. Puisi rempah menggerakkan kapal-kapal bangsa Spanyol, Portugis, Belanda untuk memburu rempah di kepulauan Nusantara.

Imajinasi terhadap rempah yang eksotis, membangkitkan nafsu makan, dan hasrat berhubungan seksual, mengawetkan makanan, berkhasiat obat, menjadi sederet alasan harga rempah mahal, hingga pernah 1 pon pala setara dengan tujuh ekor sapi gemuk. Pengetahuan, informasi, dan imajinasi tentang rempah yang ditulis dalam puisi, membangkitkan semangat mengeksplorasi rempah, meski berujung pada kolonialisme, kemudian. Puisi terbukti memfasilitasi, menyuburkan imajinasi, dan melajukan keingintahuan manusia terhadap ilmu pengetahuan.

Awalnya adalah puisi…sebab di tangan anak-anak kayu balsa dan celotehan jenaka mereka bersulih Pinisi…

*

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini