Hoax Marak, Tradisi “Temen” Ketlarak

Temenan VS Bujukan

Oleh: M. Dwi Cahyono*

Antisipasi Kritis terhadap Kebohongan

Temenan tha ?
Terakota.id–Suatu pertanyaan penegas untuk mendapatkan kepastian atas kebenaran, agar terhindar dari kebohongan. Secara harafiah, kata “temen” berarti: tidak palsu, asli murni atau jujur, tidak mau mencuri. Kata jadian “temenan” menunjuk kepada: benar-benar, sungguh. Adapun kata ulang “temen-temen” berarti: sungguh-sungguh, sampai ke dalam hati (Mangusuwito, 2013: 459). Temen adalah parameter bagi akurasi, menekankan pada fakta, bukan rumor, sensasi, isu, apalagi hoax.

Pertanyaan semacam itu adalah suatu antisipasi kritis, suatu kehati-hatian untuk tidak menjadi korban dari kebohongan, mengingat bahwa potensi membohong bisa dimiliki oleh siapa saja, hadir kapan saja dan di mana saja. Setiap masa memiliki pelaku bohong dan cerita-cerita tentang kebohongnya masing- masing, tidak terkecuali di masa kini yang lebih populer dengan sebutan “hoax”, yakni istilah serapan dari bahasa asing yang berarti : berita bohong. Hoax lebih terarah pada berita, baik pembuat berita ataupun penyebar barita. Kendati berkenaan dengan berita, namun dampak pemberitaan yang bohong dan sensasional itu bisa berakibat serius, bahkan dapat menyulut terjadinya bentur sosial.

 

Sepenggal Kisah Lama tentang “Pembohongan”

Dalam kitab gamcaran “Paparaton” dikisahkan bahwa Kbo Hijo diberitabohongkan (dirumorkan, di-hoax-kan) sebagai pelaku pembunuhan terhadap Akuwu Tunggul Ametung dengan menggunakan keris buatan mpu Gandring. Boleh jadi, rumor ini dikabarkan awal atau paling tidak “diotaki” oleh Ken Angrok, dalam konteks perebutan kekuasaan di Tumapel. Walhasil,, Kbo Hijo jadi “kambing korban” rumor bohong, dan atas tindakan yang dituduhkan padanya,, lantas dibalas bunuh juga dengan menggunakan keris yang sama. Suatu contoh buruk dimana berita bohong memakan korban jiwa.

Dalam cerita “Tantrikamandaka” dikisahkan bahwa si burung bangau yang berpura-pura baik dan berubah tabiat dengan tampilan abal-abal mengenakan “sorban” serta menyatakan bahwa ia berniat baik untuk beri pertolongan kepada para ikan. Si bangau membuat berita bohong bahwa telaga tempat para ikan berhuni akan dikeringkan oleh petani guna dibuat menjadi persawahan.

Sejatinya ia tengah berpura-pura baik kepada para ikan. Ketika ikan bersedia diterbangkan guna dipindahkan ke telaga Andawahana yang airnya tak pernah kering sepanjang musim, ditengah perjalanan pada puncak bukit ikan-ikan itu dimangsanya. Omong bohong dan perilaku berpura-pura semacam itu juga acap tampil pada diri si kancil dalam melakukan “tipu muslihat” dan “bujuk rayu”.

Pada masa lampau ada sebutan “kabar sinambi woro (kabar beredar di khalayak luas)”. Kabar tini menyebar di masyarakat sebagai rumor, sensasi ataupun isu yang tersampaikan oleh penjual keliling dalam pembicaraan informal sembari jualan, sehingga ada sebuatan “bakul sinambi woro (woro = boro = bergerak berpindah-pindah, mengembara)”.

Pedagang kelililing itu tidak selalu mendapat berita dari pemberita asal (awal), namun lewat yang ia terima dari pemberita ke sekian. Biasa, dalam penyampaian berita secara lisan dan berantai terdapat bias, bahkan korupsi informasi (ditambah, dikurangi, atau dibelokkan), sehingga akurasinya perlu dipertanyakan.. Kabar yang demikian acap pula dinamai “kabar burung”. Tak jarang kabar itu “hoax belaka”, atau menjadi hoax lantaran mengalami pembiasan atau korupsi informasi. Padahal, pada asalnya adalah berita faktual. Terkadang ada kesengajaan untuk “menggoreng berita” sehingga menjadi “lebih sensasional”.

Tolak dan Cegah Pembiasaan Bohong

Pembohongan pada dasarnya adalah penipuan. Bukan saja pembohongan berskala kecil dengan menipu seseorang, namun bisa dalam skala luas yang menjangkau publik, sehingga muncullah sebutan “pembohongan publik”. Skala jangkau kebohongan turut menentukan seberapa luas pihak-pihak yang terpapar oleh kebohongannya. Kebohongan publik berdampak luas terhadap khalayak, yang merugikan publik. Walau ada alibi dengan menyatakan “berbohong demi kebaikan”, namun bohong tetaplah bohong.

Ada hal “tidak sesungguhnya, tidak senyatanya” terkandung di dalamnya. Termasuk pula dalam pembohongan adalah “kepura-puraan”. Sayang sekali, batas antara kebenaran dan kebohongan “hablur” srmata, sehingga rumor bohong acap dipercaya sebagai duatu kebenaran. Apalagi bila pelaku bohong mempu mendramatisasi kebohongan menjadi berkesan benar. Inilah yang dinamai dengan “penjungkirbalikkan kebenaran” .

Menyikapi potensi bohong yang dipunyai oleh setiap orang, maka konon orang tua memberi nasihat “urip ngono sing temen. Nggagas sing temen,, wicoro sing temen, solah-tingkah sing temen (Hidup itu yang temen. Berfikir temen, berbicara temen, berperilaku temen)”. Hal nyata (kasunyatan), yang sungguh-sungguh (temenan) dan apa adanya (bloko suto) mustilah dujunjung tinggi.

AJI Malang menggelar kampanye menangkal hoaks dan literasi digital kepada para pelajar. (Terakota/Eko WIdianto).

Sebaliknya, sikap dan tindakkan “apus, bujuk, plecuk kaspo atau pesi (bohong) mestilah dihindari. Orang dalam kehidupannya berada diantara dua kutup ini, yakni “kutup temen” disisi kanan dan “kutup apus/bujuk” disisi kiri. Kekuatan hati dan moralita lah yang mampu menjadi kendali untuk tidak terseret ke sisi kiri dan sebaliknya.

Kebohongan biasanya bermula dari kebohong kecil, yang di dalam bahasa Jawa diistilahi dengan “apus-apus” atau “bujuk-bujuk“. Bila hal buruk ini ditolelir, apa lagi dibiasakan, maka pelakunya kelak bisa menjadi “pembohong besar (tukang bohong, pembual)”. Bahkan, bisa jadi kebohongan dipilihnya sebagau cara untuk mendapatkan keuntungan pribadi, baik dengan melakukan “bujuk-rayu, tipu-tipu, ataupunntindakan pura-pura”. Lebih parah lagi bila pelaku bohong itu adalah orang memiliki posisi penting dan pengaruh kuat di publik, dimana dampak kebohongannya terpapar ke khalayak luas.

 

Hoax Dijadikan “Komoditi” dan Alat Kepentingan

Ironisnya, ada kebohongan yang dengan sengaja diproduksi, lalu dibungkus rapat-rapat dengan kemasan dan tampilan “seolah benar”. Lebih lanjut, kebohangan itu dijadikan komoditi untuk suatu atau beberapa kepentingan subyektif dan disebarluaskan dengan harapan dapat nemukau perhatian, membius akal sehat dan menghadirkan fatamorgana kepada publik tentang adanya kebobrokan, tentang suatu harapan dan tentang keunggulan. Kebohongan itu dibohongkan kepada pihak lain dengan tanpa merasa bahwa ia telah dibohongi.

Parahnya, kini kebohongan dijadikan “sego jangan“, hal biasa, ibarat makanan konsumsi sehari-hari. Yang kini dinamai “hoax” itu mengisi berbagai ruang, melewati celah-celah sempit, dan hadir menguat di masyarkat. Kini apapun di-hoax-kan. Bahkan, demi suatu keberhasilan, ada yang sengaja nembangun “pabrik hoax” dan menggaji tinggi para marketing untuk menjualankan hoax-nya lewat beragam media. Celakanya, dagangan hoax nya terbeli dan dikonsumsi publik, yang tidak semua warga sadar akan muatan bohong beritanya.

Hiruk pikuk perpolitikan lokal hingga nasional pun tak pelak memanfaatkan wahana hoax. Pendek kata, hoax kian marak. Sebaliknya, “tradisi temen” kian terdegradasi atau ketlarak (terpuruk). Semoga kita masih memiliki “filter” berupa hati nurani, akal sehat dan moralita untuk tidak menjadi pelaku hoax, terjebak, apa lagi korban hoax. Amin. Nuwun.

Sangkaling, 9 Oktober 2018
Griya Ajar CITRALEKHA

Dwi Cahyono

*Arkeolog dan pengajar di Universitas Negeri Malang

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini