Hoaks Pilpres, Literasi Media Solusinya

Nurudin melalui buku berjudul Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial, meneliti dampak dan solusi perkembangan media sosial. (Foto : Dokumen pribadi).

Terakota.id–Perang status, dan opini berkelindan di media sosial menjelang Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden. Terutama saat menjelang debat pertama Capres 2019. Kamis, 17 Januari 2019 sampai pukul 21.35 #DebatPilpres2019 berada di puncak trending topic twitter. Total sebanyak 100 ribu lebih cuitan pemilik akun twitter.

Dosen program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang Nurudin meminta pengguna media sosial untuk mewaspadai hoaks atau kabar bohong. Hoaks menyebar dan semakin meluas di media sosial.

Buku Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial mengeksplorasi media sosial berdasarkan penelitian, merekam pasang surut pengguna media sosial dan dampaknya di masyarakat. Selain itu menawarkan solusi yang harus dilakukan. Melalui buku berjudul Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial, ia meneliti penyebaran hoaks, dilakukan aktor individual yang tengah dimabuk teknologi.

Mereka, katanya, kebanyakan menyebarkan informasi, bukan berdasarkan benar-salah. Melainkan sesuai dengan kecenderungan dirinya. Sehingga timbul fenomena filter bubble effect. “Otak kita seringkali kalah cepat dari jempol kita,” ujar Nurudin melalui siaran pers yang diterima Terakota.id.

Sehingga di tengah situasi politik, penyebaran hoaks menjadi sangat politis. Media sosial menjadi lahan paling subur menyebarkan hoaks. Banyak hoaks yang menyebar dalam konstelasi politik saat ini. Hoaks disebarkan untuk berbagai motif, mulai kepentingan politik, alasan ekonomi maupun menjadi alat propaganda.

Generasi Z alias milenial cenderung menentukan sikap dan berperilaku didasarkan informasi di media sosial. Masyarakat cenderung mengaca pada media sosial, layaknya ajaran agama. Sehingga media sosial terus berkembang tak terbendung.

“Padahal sebagian pesan di media sosial perlu diyakini sebagai sebuah kebohongan yang dilegalkan,” katanya.

Buku berjudul Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial, mengupas hoaks juga menyebar karena kepentingan politis. (Foto : Dokumen pribadi).

Carut-marut pesan di media sosial tak hanya hoaks, namun juga saling membenci, mencaci, dan menghujat antar sesama. Media sosial telah mengancam disintegrasi bangsa. Media sosial menciptakan komunikasi di masyarakat tidak mulus.

Sementara media arus utama ada mekanisme verifikasi yang diatur dalam ruang redaksi. Jurnalis dituntut profesional dalam mengerjakan kerja jurnalistik. Filter atau penyaringan berita juga dilakukan secara berjenjang di redaksi.

“Sehingga kalau media menyebar hoaks, akan ditinggalkan audiens. Konsekuensi terbesar media bisa gulung tikar,” ujarnya.

Selain itu, penyebaran hoaks memiliki implikasi hukum. Sesuai dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik pelaku bisa dijerat hukum. Untuk itu, literasi media menjadi solusi untuk menangkal hoaks di media sosial.

“Tugas kita bersama mencerdaskan masyarakat agar melek media,” ujarnya. Nurudin menyampaikannya melalui diskusi dan disebarkan selama di perkuliahan. Termasuk melakukan literasi media di sejumlah sekolah mulai Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas.

“Melek media adalah kita sadar media selalu punya dampak negatif,” ujarnya. Sehingga pengguna media sisial harus berhati-hati. Atas gerakan literasi media yang dilakukan Nurudin diganjar sebagai Ketua Prodi terbaik Kopertis Jawa Timur saat menjabat sebagai Ketua Prodi Ilmu Komunikasi beberapa tahun silam.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini