Hidup Sehat dan Etika Lingkungan

Ilustrasi : kontan.co.id

Terakota.id–Selama pandemi Covid-19 tren gaya hidup sehat mulai membahana, dipioneri oleh para pemancal sepeda, komunitas-komunitas pro kesehatan tubuh mulai menjamur. Sebelumnya ada penggemar lari, yang ia rela mengeluarkan kocek yang dalam hanya untuk membuang keringat dan berpegal ria.

Padahal uang yang ia keluarkan itu setara gaji penulis yang tidak memiliki pagu bulanan. Jangan memikirkan untuk lari pagi, bersepeda, memikirkan masa depan pun sudah berkeringat bak sauna.

Tren gaya hidup sehat sungguh begitu baik, kesadaran yang sangat sesuai dengan pepatah lama, ‘mens sana in corpore sano,’ di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Sangat relasional dengan psychological well-being atau kesejahteraan mental, sebuah kondisi di mana  manusia mencapai taraf sehat secara mental.

Tesis ini didasari pandangan bahwa latihan-latihan, gerak-gerak fisik akan memacu penguatan fisik, memperkuat fungsi fisiologis tubuh dan itu mendorong kesehatan mental. Jadi gerak joget semacam adek-adek di tik-tok itu sebenarnya bagian dari filosofi itu, tidak monopoli para olahragawan sehari-hari saja. Joget adalah gerak, kita berkeringat, dan bahagia.

Berbicara soal fisik yang dilatih hingga mencapai tingkat yang diinginkan, tubuh bugar dan kembali segar. Tidak hanya fisik, tubuh pun butuh nutrisi. Kini mulai banyak orang yang sadar pentingnya mengatur pola makan, memilih makanan sehat dan beberapa berusaha menghindari yang berbahan kimia. Beberapa orang mulai mengonsumsi banyak sayuran, menambah vitamin, agar kuat menghadapi derasnya arus kehidupan, sudah dicabik Covid-19 masih diperas keringat untuk bekerja menghidupi kehidupan.

Tapi bedanya ada yang berolahraga itu sekaligus dapat uang, seperti mereka atlit angkat beras di pasar induk atau para goweser alami yakni para tukang becak. Kalau mereka tidak olahraga maka mereka tidak akan makan. Dan mereka adalah yang rendah hati, tidak suka pamer di medsos atas capaian harian ‘exercise’ (latihan fisik).

Fisik, makanan dan olahraga, merupakan gaya hidup sebagai respons atas situasi yang menyebalkan. Sebagai bentuk penghargaan bagi tubuh yang perlu dilatih. Meski ya ketimpangan sosial bisa dilihat dari tren ini. Tapi itu persoalan lain yang akan dibaca dengan bingkai psikologi sosial, ke depan.

Tubuh Sehat, Lingkungan Terjaga

Tapi penulis ingin menekankan, bahwa kehidupan sehat, tersedianya nutrisi dan kesejahteraan batin itu koheren dengan kondisi lingkungan hidup. Kehidupan sehat itu membutuhkan ruang, udara dan ketenangan, sementara nutrisi membutuhkan tanah, air, juga udara, agar tumbuhan bisa bertumbuh dengan baik.

Nutrisi yang baik adalah ia dihasilkan secara alami, disokong oleh haromonisnya ekosistem. Di mana alam masih memiliki metabolisme (kemampuan memperbaiki dan pulih), sehingga siklus alam akan terjaga dan jasa lingkungan pun akan maksimal. Jika semua itu hilang, maka dampaknya adalah kerentanan pangan, degradasi nutrisi makanan dan pilihan makanan yang sempit.

Kondisi itu tentu berakibat pada tidak terpenuhinya nutrisi pada tubuh manusia. Sekencang-kencangnya olahraga, kalau tidak diimbangi nutrisi yang baik ya tubuh pun akan kehilangan tenaganya. Dan, kita yang hobi olahraga kadang tidak dibarengi dengan pemikiran tersebut. Bahwa kehidupan yang sehat  baik fisik ataupun psikis sangat koheren atau memiliki keterkaitan yang erat satu sama lainnya.

Jika disadari lingkungan yang rusak akan menyebabkan kelelahan fisik dan mental. Dalam kajian psikologi lingkungan, aspek perubahan lingkungan sangat determinan terhadap emosi individu. Bahkan lingkungan yang buruk akan menstimulus stres, artinya kondisi lingkungan dapat menjadi stressor. Padahal semangat gaya hidup sehat harus dibarengi dengan kepekaan, tindakan dan kepedulian terhadap perubahan lingkungan hidup.

Bayangkan kita gowes di dalam polusi, lalu kita minum air kemasan yang didapat dari eksploitasi sementara warga di sekitar sumber hidup susah air. Dan, kita makan dari sayuran di mana ia dihasilkan oleh petani yang kesejahteraannya terjerat korporasi pertanian. Mereka menghadapi situasi degradasi lahan, rentannya air dan harga yang tidak tentu. Sementara petani lain, sedang berjibaku terhadap perampasan dan alih fungsi lahan.

Kita merasa bahwa gaya hidup sehat akan memacu kesehatan fisik dan mental, tetapi jika tidak dibarengi kesadaran betapa pentingnya lingkungan akan menjadi bom waktu. Bukannya sehat, malah adanya semakin menurun kesehatan badan dan fisik. Kegiatan gowes jika masih sekedar gaya hidup tak ada ubahnya, kita ngomong bertakwa tapi ogah-ogahan beribadah. Atau kita ingin cepat lulus, tetapi malas mengerjakan skripsi.

Kita ingin sehat tapi konsumtif, bahkan apa yang kita buang membuat alam terpapar dan terluka. Tentu ini kontraproduktif. Sama halnya mengaku pecinta alam tapi cuek ketika ada tambang dan aneka usaha yang menghancurkan hutan, gunung, sungai dan pantai, itu hipokrit.

Gaya hidup sehat adalah baik, tapi tanpa dibarengi sadar bahwa sesungguhnya kesehatan ini akan tersedia jika kita hidup dalam lingkungan yang baik dan sehat. Bukan sekedar pindah rumah ke perumahan bagus nan asri tapi hasil gusuran. Menumbuhkan semangat etika lingkungan juga dibarengi dengan kemanusiaan.

Ketimpangan itu nyata, kerusakan itu nyata dan kesehatan itu adalah harta. Jika ingin tahu betapa pentingnya lingkungan, itu akan terucap dari mulut kalian ketika mengunjungi pantai, gunung yang masih baik biodiversitas dan vegetasinya. Bedakan ketika kalian lari atau mancal di wilayah non polusi dan terpapar polusi. Tentu berbeda!!! Itulah pentingnya memegang prinsip etika lingkungan dalam tren gaya hidup sehat.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini