Hidup Laksana Menggembala Angin

Angin bisa bisa menyejukkan, bisa menjadi masalah apabila tidak dipahami. “Angon Angin” adalah sebuah kiasan, mencoba memaknai penyikapan hidup secara personal agar mempunyai kemampuan menyiasati hidup dengan berbagai problematiknya.

Terakota.id – Suara hiruk pikuk lalu lintas, deru knalpot dan bunyi klakson bersautan diiringi alunan piano mendayu. Seorang penari duduk bersimpuh, mengenakan kebaya dan kain jarik dalam temaram lampu malam. Kedua tangannya memainkan sebatang lidi, matanya menatap kosong.

Tiba-tiba dia kaget, terjaga dari lamunan. Berdiri, dia menari mengikuti irama piano dan deru lalu lintas. Gerakannya lembut, sambil memainkan lidi, mengayunkannya laksana pedang. Adegan itu merupakan teater tari yang disuguhkan Studio Taksu, Surakarta, Jawa Tengah.

Dipentaskan di pendapa Dewan Kesenian Malang, Jalan Simpang Majapahit Nomor 3, Kamis, 20 April 2017. Ada sekitar seratus orang duduk bersila beralas terpal menikmati pementasan tersebut.

“…71 tahun telah berlalu sejak aku dilahirkan. Selama ini mengikuti prosesi peradaban. Dari terang menuju kegelapan. Kakiku terasa capek untuk mengikuti prosesi yang tak jelas. Saya duduk dalam bayangan melihat bayi yang menyusu pada payudara kering dari ibu yang kelaparan. Ada udara.…..Pulau yang menyimpan harta. Itu menyesakkan dada,”

Kalimat itu diucapkan penari, sambil menari dengan gerakan dasar Tari Bedhaya. Sebuah tarian klasik yang biasa ditampilkan di keraton. Tujuh penari menari dengan harmoni, kadang mereka bergerak penuh emosi. Bergerak cepat mengikuti irama musik. Instrumen gitar, perkusi dan musik elektronik juga dimainkan dalam beberapa adegan. “Aku takut menjadi orang asing di negeri sendiri,”

Pidato Presiden Sukarno mengakhiri pertunjukan malam ini. Isi pidato tak jelas, tersamarkan dengan instrumen yang mengakhiri. Ketujuh penari tampil memukau. Gemuruh tepuk tangan penonton bergema usai Ayun Anindita Setya Wulan, Fajar Prastiani, Fitria Trisna Murti, Laras Wiswalendya, Sri Hastuti, Yudha Rena Maharani, dan Yashinta Desy Nataliawati menyuguhkan tarian.

Sutradara dan koreografer Teater Tari Angon Angin, Djarot B. Darsono berharap pertunjukkannya memiliki arti, dengan mengangkat persoalan sederhana di lingkungan sekitar. Pementasan itu menyampaikan pesan atas fakta modernisasi teknologi industri tiba-tiba datang di lingkungan sekitar.

“Semua bisa jadi masalah dan tak jadi masalah. Tergantung kita menyiasati. Metafora persoalan industri teknologi seperti badai. Kalau bisa angon badai, kita bisa selamat,” ujarnya.

Dalam bahasa Jawa, angon angin artinya mengembala angin. Dia sengaja menyuguhkan dasar seni tradisi berupa Tari Bedayan yang dikemas dengan gaya transformasi kekinian. “Tak pakai gamelan. Karena sekarang kita jarang mendengar gamelan. Kurang familiar di telinga. Jika ada gamelan, seolah ada jarak,” kata Djarot.

Selama ini dia tengah mencari bentuk, dengan proses secara pelan-pelan. Banyak kendala, misalnya penari sibuk sehingga kesulitan mengatur waktu untuk latihan bersama. Kadang latihan baru bisa dimulai pada pukul 22.00 WIB.

“Sulit manajemen waktu. Materi dipersiapkan lebih dulu kemudian waktu latihan diatur bersama,” ucap Djarot.

Dia memakai lidi dari aren yang besar sebagai simbol dan memiliki suara dramatis saat disabetkan. Masyarakat di desa, katanya, menaruh lidi Lanang di depan pintu untuk tolak balak. Tradisi itu menjadi inspirasi, menjadi symbol tolak balak persoalan lingkungan yang ada.

Teater Tari Angon Angin memiliki ruh Kartini dengan lompatan pemikiran post modern. Meski pementasan ini tak sengaja untuk memperingati Hari Kartini. Nuansa klasik juga terasa meski tanpa gamelan.

“Pemain semua perempuan, tapi tak bicara persoalan gender. Ada spirit perempuan,” ujarnya.

Djarot menjelaskan selama ini industri lebih banyak membicarakan soal materiil dan ekonomi. Industri seharusnya tak hanya mencari untung. Industri memiliki sifat negatif, menghalalkan segala cara. “Tetapi mengabaikan manusia dan lingkungan,” katanya.

Djarot tak menolak industri, karena industri merupakan kapital besar. Kalau menolak pasti mati, sehingga harus bersiasat dan memahami. Apalagi industri menopang kehidupan banyak orang. “Tetapi bagaimana angon, beradaptasi,” ujarnya.

Pementasan di Malang kali ini ada kendala lighting, sejumlah lampu tak bisa dioperasikan. Sehingga menggunakan cahaya seadanya. Kendala teknis semacam ini menjadi pengalaman tersendiri. “Belajar dari kesalahan dan kekurangan.”

Tinggalkan Balasan