Hidro Kultura Jawa Lintas Masa

hidro-kultura-jawa-lintas-masa

Terakota.idAir adalah salah satu unsur fisis-alamiah utama, yang tak terpisahkan dengan manusia sebagai penggunanya. Ketika manusia tercipta, semenjak era Pithecantropus Erectus hingga Homo Sapiens, Illahi telah menganugerahkan air belimpah untuk menopang kehidupan manusia. Air masuk dalam derap sosio-budaya, dimana manusia dalam kesehariannya mengelola, memanfaatkan, hingga ironisnya “menistakan” air untuk beragam kepentingannya. Air itu adalah sahabat manusia, bukan “dilawan” karena dianggap musuh manusia.

Relasi manusia dan air tergambar dalam berbagai realitas, mulai dari antar hubungan yang idealnya “muatalustik”, dimana manusia dan makhluk hidup lainnya mendapat kedayagunaan dari air. Di pihak air, kelestariannya tetaplah terjaga. Ada suatu era dimana manusia memanfaatkan secara “air sak madyo (secukup nya)”. Bijak dalam menggunakan dan bijak pula dalam memposisikan air sebagai unsur alamiah yang “terhornat” — sebagai salah satu dari “5in1 (pancamahabhuta)”, yakni unsur pembentuk sekaligus penyeimbang makro-mikro kosmos.

Air malahan “disucikan”, sehingga tidak boleh sembarangan di dalam memperlakukan air. Dengan piranti kecanggihan budaya di zamannya, manusia “mengeksplorasi bijak” sumberdaya air yang ada di sekitar tempatnya hidupnya. Manusia di era lalu tidak “aluamah” dengan mengeksploitasi air semata demi keperluan pribadi atau korporasi. Harmoni manusia dan lingkungan mewarnai relasi kosmologis di era lampau.

Sebaliknya, ada kalanya, air sekedar diposisikan sebagai “obyek”, bahkan “obyek penderita”, yang demi kepentingan manusia dipandang sah-sah saja untuk diperlakui apa saja. Pada satu sisi air dikuras kelewat batas, pada sisi lain tanpa disertai ikhtiar untuk memberi kemungkinan air mengisi dirinya lewat akar tanaman yang sengaja ditanam rimbun di sekitar sumber air (tuk).

Aliran alamiah dari air, yang dinormalisasi oleh Illahi, tak pelak direkayasa, dengan dipinggirkan, dipersempit, malah ditiadakan demi keluasan areak permukiman dan pengadaan fasiltas publik. Areal air berada, berupa sungai, selokan, tempat genangan, bahkan tuk (sumber air) — sebagai muasal air, tampa arif disikapi dan diperlakui sebagai “ruang tak bertuan”, padamana sisa buang dan material kotor seperti sampah, limbah, bahkan zat-zat berbahaya yang meracuni makhluk hidup dicampakkan kepadanya.

Walhasil, air perlihatkan dua wajahnya, yakni wajah sumringah, manakala umat manusia mengelola dan memanfaatkan air secara bijak dengan mengambil secukupnya, yang dilandasi oleh kesadaran untuk lestarikan sumberdaya air bagi kelasungan hidup lintas generasi. Pada sisi lainnya, air menampilkan wajah kuyu. Lantaran bukan hanya menjadi obyek esploitasi dari orang-orang serakah, tapi sekaligus menjadi “tempat comberan”, ke dalam mana sisa buang dan material kotor dijejalkan kedalamnya.

Air mustinya terintegrasi dalam harmoni kehidupan, yang didasari oleh keadaban. Interelasi manusia – air karenanya musti ditempatkan di dalam bingkai “pembudayaan air (hidro-cultural)“, dalam mana manusia hidup sebagai warga “masyarakat keairan (hydrolic society)“. Sejarah telah memperlihatkan adanya orang-orang yang “arif” terhadap air, tapi perlihatkan pula adanya orang-orang yang “bengis” kepada air. Saya, anda, atau kalian masuk kategori yang mana?

Nuwun.

 

Sangkaling, 15 Mei 2020

Griya Ajar CITRALEKHA

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini