Heritage dalam Sudut Pandang Seniman Indonesia dan Prancis

Terakota.idInstitut Prancis di Indonesia / Institut Français Indonesia (IFI) dan  Alliances Françaises Indonesia (AF) menggelar pameran seni Media “Novembre Numérique” bertema Arus Memori (Flux de mémoire). Mempertemukan seniman Indonesia Adhika Annissa (Denpasar), Arum Dayu (Yogyakarta), Evi Ovtiana (Medan), Illumi (Surabaya), Mira Rizki (Bandung), Raslene (Jakarta), dan seniman Prancis Gaëtan Trovato.

Pameran dilangsungkan untuk memperingati 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Prancis. Pembukaan disiarkan langsung dari IFI Bandung dan bisa diakses secara daring, 27 November 2020. Para seniman mempertemukan gedung-gedung bersejarah dengan konteks lokal melalui penafsiran metaforis, puitis dan romantis.

Sejalan dengan pameran tersebut diadakan diskusi jarak jauh mengenai strategi artistik warisan budaya dan multimedia. Menghadirkan pembicara dari Centre des Monuments Nationaux, badan pelestarian monumen nasional dan koleksi di bawah Kementerian Kebudayaan dan Komunikasi Republik Prancis serta dari AskMona, komunitas inovasi kecerdasaan buatan (artificial intelligence) dalam pelayanan seni dan budaya.

Di Surabaya pameran akan dilangungkan di Galeri House of Sampoerna Surabaya, dibuka 7 Desember 2020. Menampilkan  duo Illumi (Ryan Herdiansyah dan Putri Eiash) menampilkan karya bertajuk “The Divine Enigma: Ars Moriendi.”

Bertajuk :Memori yang Cair” menampilkan metafora bangunan heritage yang sekarat, berada diambang antara diperlukan atau dilupakan. Illumi akan menampilkan video performans yang merespon karya seniman Prancis Gaëtan Trovato berjudul “Spirit Pool” (2018).

Atase Kerjasama Budaya Kedubes Prancis di Jakarta Abdramane Kamate menjelaskan Novembre Numerique diadakan di pusat-pusat kebudayaan Prancis di berbagai Negara. Bertujuan mempromosikan kolaborasi internasional dan eksplorasi bentuk baru penciptaan. Seniman Prancis bekerjasama dengan seniman lokal untuk menciptakan karya dan  mengurai perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.

“Mencakup kesetaraan gender, demokrasi partisipatoris, transhumanisme, robotika, penyebaran pengetahuan, bahasa dan budaya,” katanya melalui siaran pers yang diterima Terakota.  Kurator pameran Ayos Purwoaji mengatakan  terpilih enam seniman perempuan untuk memberi panggung bagi perupa perempuan di Indonesia. “Selain memberi spotlight, pemilihan seniman perempuan juga dilakukan untuk memberi sudut pandang lain mengenai heritage yang selama ini dianggap  terlalu maskulin,” ujarnya.

Tema “Arus Memori”, kata Ayos, terinspirasi dari diskursus kritis heritage yang memandang memori kolektif bersifat cair dan terus bergerak mengikuti konteks zaman. Sementara obyek heritage kebanyakan bersifat fisik yang dijaga dan dilindungi keasliannya.

Suatu saat, katanya, memori kolektif masyarakat bisa saja bergeser dan benda-benda yang tadinya dianggap heritage tidak lagi mencerminkan memori kolektif masyarakat. Buktinya, kita bisa lihat belakangan ini berbagai monumen dirobohkan dan koleksi museum dari masa kolonial dikembalikan ke komunitas asalnya.

“Mengutip sejarawan Kuntowijoyo yang mengandaikan realitas sejarah sebagai sungai yang mengalir, karya-karya dalam pameran seni multimedia ini mencerminkan memori dan ingatan terus mengalir dan memberi konteks baru pada bangunan-bangunan bersejarah,” ujarnya.

Ayos mengkurasi seniman dan karya pameran dengan bertemu seniman dari enam  kota yang merespon tema warisan sejarah dengan sudut pandang yang beragam. Ada seniman, ujarnya, yang merespon kata “warisan” dengan pendekatan yang sangat personal. Namun ada pula yang eksperimental.

“Semua karya meluaskan pemahaman kita atas istilah heritage,” katanya.  Para seniman berangkat dari kegelisahan seperti bagaimana kisah fiksi mampu menggeser pandangan kita tentang identitas. Bagaimana seni mendekati memori kolektif sebuah komunitas dan bagaimana bila muncul penolakan generasi saat ini terhadap warisan masa lalu.

Melalui karya seniman ini, Ayos mulai memilah dan memilih karya seniman Prancis, Gaëtan Trovato, untuk dihadirkan dalam satu ruang pamer. Disandingkan dengan karya seniman lokal, saling menguatkan. Namun, bisa saja karya kedua seniman bertolak belakang dan memberikan dua perspektif yang sama sekali berlainan. Untuk itu, Ayos menyiapkan tema kuratorial yang berbeda, bertolak dari refleksi yang ia dapatkan dari karya-karya yang dipamerkan di setiap kota.

Sementara di Bandung akan dilangsungkan di Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung. Seniman Mira Rizki merekonstruksi sebuah kalimat dari pidato Presiden Sukarno dalam Konferensi Asia Afrika melalui potongan-potongan rekaman yang dikonfigurasikan ke dalam lima buah video.

Seniman Prancis Gaëtan Trovato menampilkan karya yang mempertanyakan keaslian sebuah lukisan maestro yang diwarisi keluarganya. Bertajuk “Sejarah yang Berlapis” pameran ini menyajikan bagaimana sejarah disusun atas lapisan-lapisan ingatan dan ikatan yang tumpang tindih.

Sementara di Denpasar, seniman sekaligus arsitek Bali, Adhika Annissa atau Ninus, menyajikan bagaimana ingatan diwariskan antargenerasi dalam karya bertajuk “Be jak Bulung: Romance du Poisson et des Algues”. Karya ini merespon salah satu bagian dari koleksi permanen Ruang Karangasem di Museum Bali yang menuangkan dualisme penciptaan dan mitos kesuburan tradisional.

Karya Ninus tersebut akan berdampingan dengan video “Les Images du Silence” (2017) karya Gaëtan Trovato. Menyajikan gambaran atas generasi masa depan dalam proyeksi yang kabur dan fragmentatif.

Di Yogyakarta bertajuk Sejarah Ruang dan Komunitas. Bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta, seniman Arum Dayu menampilkan karya yang terinspirasi dari tradisi lumbung padi atau “leuit” masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar. Arum Dayu menempatkan leuit sebagai metafora bagaimana sebuah komunitas menyimpan dan mewariskan sejarah, pengetahuan, nilai, trauma. Bahkan bencana dari satu generasi ke generasi lainnya.

Menurut Arum, konsep heritage bukan sekadar menjaga apa yang diwariskan tetapi juga bagaimana kita mewariskannya untuk masa depan. Karya Arum Dayu akan berdampingan dengan karya Gaëtan Trovato bertajuk “Les Doleants” (2019). Keduanya saling menyapa dalam bingkai sejarah ruang dan bagaimana teknologi membantu perekaman dari warisan tersembunyi.

Sedangkan di Jakarta bertajuk Sejarah Lainnya dilangsungkan di Museum Nasional Jakarta. Seniman Raslene menampilkan karya berupa rekonstruksi kisah perempuan dalam karya sastra Indonesia yang terbit dalam kurun waktu 1940-2000. Berawal dari kegelisahannya pada nasib tokoh-tokoh perempuan dalam karya sastra, Raslene menjalin potongan kisah menjadi rekaan baru dan ditambah dengan arsip rekaman video.

Sehingga membentuk alur cerita yang menjadi personifikasi dari kehidupan jutaan perempuan lain di Jakarta. Karya ini bersanding dengan dua karya video Gaëtan Trovato bertajuk “Avant Que J’Oublie” (2016) dan “Trois Ormeaux” (2013).

Dilanjutkan di Medan bertajuk Antara Perjumpaan dan Penolakan Bertempat di Museum Perkebunan Medan. Seniman Evi Ovtiana mengeksplorasi tradisi menyirih di komunitas masyarakat Melayu dan Karo, Sumatera Utara, yang kini semakin ditinggalkan.

Bagaimana warisan diturunkan antar generasi? Bagaimana bila terjadi penolakan? Apakah warisan dan tradisi harus secara mutlak dipertahankan? Kegelisahannya tertuang dalam karya bertajuk “Bétel” (2020).

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini