Petani kopi di Dampit, Kabupaten Malang tengah memetik buah kopi di kebun yang dikelola secara berkelanjutan. (Foto: Yayasan IDH).
Iklan terakota

Terakota.id-Petani kopi di Harjokuncaran, Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang Subakri saban hari memeriksa pohon kopi yang ditanam di ladang kering miliknya. Lahan seluas setengah hektare di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (m.dpl) itu ditanami pohon kopi robusta. Semerbak harum bunga kopi menguar, bunga kopi bermekaran.

Petani di kaki Gunung Semeru ini sejak bertahun-tahun menanam kopi dengan pola pertanian tradisional. Budidaya kopi dipelajari dari orang tua secara turun temurun. Ia sebelumnya menanam dengan pola tanam monokultur. Sehingga tak berdampak signifikan terhadap kesejahteraan.

Sehingga diterapkan pola tanam tumpang sari sejak lima tahun terakhir. Di sela-sela tanaman kopi ditanami aneka jenis tanaman tumpang sari seperti pisang, vanila, talas, jahe dan budidaya lebah madu. Ia juga beternak kambing, urine dan kotoran kambing dicampur sisa kulit kopi diolah menjadi pupuk organik.

“Ada penghasilan tambahan dari hasil budidaya lebah madu dan  ternak kambing,” ujarnya. Sejak lima tahun terakhir, ia belajar bertani kopi secara berkelanjutan. Mulai persiapan lahan, merawat tanaman, pemanenan, hingga pengolahan pasca panen. Juga merekrut petani muda untuk regenerasi petani.

“Belajar membuat pupuk organik untuk mengurangi pupuk kimia,” katanya. Petani dilatih pembibitan tanaman kopi dengan varietas unggul. Mengolah dan memproduksi pupuk organik untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida.

Sedangkan pasca panen, petani berlatih sortasi biji kopi, hingga teknik penjemuran. Kopi yang dipanen dijemur di solar dryer dome yang bisa mempercepat penjemuran. Jika dijemur secara tradisional membutuhkan waktu selama enam hari, dengan metode penjemuran di dome cukup tiga hari.

Subakri juga mengolah biji kopi menjadi bubuk kopi dikemas menarik dan diserap pasar. Sejauh ini, katanya, baru lima persen produksi kopi yang diolah dan dikemas untuk dipasarkan langsung kepada konsumen.

Mereka juga menerapkan pola kemitraaan untuk pemasaran kopi bersama-sama. Petani bergabung dengan kelompok tani bekerjasama dengan perusahaan eskportir. Sehingga petani memiliki kepastian untuk memasarkan biji kopi yang produksinya.

Sehingga diterapkan strategi untuk meningkatkan produktivitas, peningkatan mutu kopi dan mengaktifkan kelembagaan, dan kesejahteraan petani. Total sebanyak 540 master trainer di wilayah Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo dan Dampit atau dikenal dengan sebutan Amstirdam. Masing-masing master trainer melatih 28 petani dampak. Target tujuh tahun bisa menyasar 15 ribu petani di Amstirdam.

Dengan pola tanam berkelanjutan produktifitas tanaman kopi naik 11 persen per hektare. Dari semula 750 kilogram, setelah intervensi program selama lima tahun naik 836 kilogram. Sedangkan produktifitas kopi per pohon naik 30 persen dari 0,58 kilogram menjadi 0,78 kilogram.

Sementara biaya produksi berkurang hingga 46,13 persen setelah petani menggunakan pupuk organik dan menguragi pupuk kimia dan pestisida. “Rata-rata total keuntungan petani naik 62,3 persen,” katanya.

Namun, mayoritas kepemilikan lahan petani kurang dari satu hektare. Sehingga produktifitas tanaman kopi belum berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan petani. Untuk meningkatkan kesejahteraan, petani harus melakukan diversifikasi usaha dengan beternak kambing, budidaya lebah madu dan menanam tanaman sela dengan pola tumpang sari.

Petani mengaku usaha diverstifikasi yang paling menguntungkan adalah ternak kambing sumbawa, atau peranakan etawa. Selain itu juga pembibitan tanaman kopi varietas BP308. Petani mendapat penghasilan tambahan. Petani memproduksi 2 ribu bibit per tahun, sementara kelompok tani mampu menghasilkan 20 ribu bibit. Sedangkan harga jual bibit tanaman kopi seharga Rp 3.500 sampai Rp 4 ribu.

Pinjaman Lunak Bagi Petani Kopi

Pola tanam kopi secara berkelanjutan dan tumpang sari membutuhkan modal. Selama ini, mereka kesulitan mengakses permodalan. Bahkan sebagian terjerat utang ke rentenir. Namun, sejak tahun lalu Subakri mendapat pinjaman lunak dari Bank Negara Indonesia (BNI) melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Skema pinjaman lunak bunga enam persen pertahun dan tanpa agunan. Plafon pinjaman maksimal Rp 50 juta. Uang pinjaman tersebut digunakan untuk modal ekonomi produktif untuk beternak kambing.

Sehingga ia berharap mendapat tambahan penghasilan. Meski pandemi, ia tak merasakan dampak yang signifikan. Penghasilan tak terjun bebas, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Termasuk biaya pendidikan untuk kedua anaknya.

Petani diberi dukungan program pinjaman dengan bunga lunak untuk permodalan melibatkan perbankan. Perbankan mengucurkan dana pinjaman sebesar Rp 30 miliar untuk meningkatkan modal usaha pertanian.

Selama pandemi Covid-19, kuota penyaluran kredit PT BNI Kantor Wilayah (Kanwil) Malang naik. Keuangan kredit yang disalurkan mencapai Rp 4,29 triliun. Plafon KUR bertambah, sesuai rekomendasi Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KCPEN), sehingga kuota KUR juga meningkat.  Kepala Kanwil BNI Malang, Beby Lolita menjelaskan skema pembiayaan KUR. Sebagian besar difokuskan pada sektor pertanian.

“Tahun lalu jumlah kredit yang disalurkan untuk pertanian sebesar 41 persen,” katanya. Sepanjang 2020, pertumbuhan kredit produktif mencapai 111 persen. Kredit khusus KUR mencapai 117 persen. Secara demografis, katanya, sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi. Sehingga, sektor pertanian dinilai menjanjikan. Selain petani, kredit juga menyasar pengecer, agen, dan distributor pupuk.

Kegiatan di kebun percontohan di AMSTIRDAM. (Foto: Yayasan IDH).

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang Sugiarto Kasmuri mendorong diperbanyak klaster pertanian dengan menciptakan ekosistem di kalangan petani. Tujuannya untuk mempermudah proses pengajuan, pencairan dan penjaminan kredit dan pemasaran produk pertanian. “Klaster pertanian mendorong penyaluran KUR di sektor pertanian. Menghilangkan hambatan yang selama ini dihadapi para petani,” katanya.

Sehingga akan terwujud ekosistem pertanian yang terintegrasi. Sehingga kepercayaan bank untuk menyalurkan kredit kepada para petani meningkat. Sampai Agustus 2021, OJK mencatat sejumlah bank yang menyalurkan KUR sektor pertanian. Meliputi Bank Himbara menyalurkan KUR senilai Rp 2,10 triliun bagi 52.018 debitur, BRI menyalurkan Rp 1,2 triliun untuk 37.394 debitur,  BNI sebesar Rp 514 miliar kepada 7.804 debitur dan Bank Mandiri Rp 370,87 miliar dari 6.820 debitur.

Pertumbuhan kredit meningkat, katanya, diharapkan bisa memberikan dampak terhadap upaya pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Sampai September 2021, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 10,44 persen. Pertumbuhan DPK dan realisasi penyaluran kredit lebih besar ketimbang nasional sebesar 7,69 persen.  “NPL (Non performing loan) menurun dari 3,27 persen menjadi 2,55 persen,” katanya.

Produktifitas Kopi Meningkat

Kelompok tani Sukosari, Kecamatan Tirtoyudo menyuplai 80 ribu bibit kopi. Selama setahun mendapat penghasilan tambahan hingga Rp 320 juta. Kelompok tani juga memberi pembelajaran kepada petani kopi di Papua, Nganjuk, dan Wonogiri.

Perkebunan kopi di Kabupaten Malang dibentuk sejak era kolonial Hindia Belanda pada 1823. Perkebunan kopi tersebar di kawasan lereng Gunung Bromo-Semeru, dan Gunung Arjuna-Kawi. Produktifitas tanaman kopi mengalami masa keemasan pada 1887-1889. Namun, lambat laun produktifitas tanaman kopi terus merosot.

Kini, total luas kebun kopi varietas robustas seluas 34 ribu hektare dan arabika seluas 23.500 hektare. Sedangkan produktifitas tanaman kopi 750 kilogram per hektare. Setiap hektare ditanami sebanyak 1.400 pohon kopi. Total sekitar 120 ribu petani yang menggantungkan hidup dari budidaya tanaman kopi.

“Kopi menjadi tanaman utama perkebunan di Kabupaten Malang,” kata Petugas Penyuluh Lapangan Dinas Tanaman Pangan Hortikultusan dan Perkebunan Kabupaten Malang, Jajang Slamet Soemantri

Produktifitas Indonesia rendah, awalnya hanya 700 kilogram. Sekarang sudah menacapi 3 ton. Luar biasa. Praktik produksi dan penanaman yang baik. kesukessan ada diversifikasi. Untuk meningkatkan produktifitas, Pemerintah Kabupaten Malang bekerjasama lintas sektor termasuk melibatkan swasta.

Pemerintah Kabupaten Malang juga menurunkan penyuluh pertanian di lapangan. Memberi bantuan bibit kopi dan hewan ternak. Tahap awal diberikan untuk 120 kelompok tani di kawasan Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo dan Dampit atau yang dikenal Amstirdam.

Juga dilakukan intervensi yang dilakukan Yayasan Inisiasi Dagang Hijau (IDH) dan eksportir kopi asal Dampit, PT Asal Jaya. Kolaborasi IDH dan PT Asal Jaya membekali para petani yang ada di kaki Gunung Semeru transfer teknologi budidaya tanaman kopi dengan pola keberlanjutan.

Pekerja PT Asal Jaya Dampit memilih dan mengecek kualitas biji kopi AMSTIRDAM. (Foto: Yayasan IDH).

Program Manager Commodities and Intact Forest Yayasan IDH Melati menjelaskan intervensi petani kopi dilakukan dengan pola ekosistem terintegrasi. Yakni dengan membentuk kelompok tani dilanjurkan dengan pelatihan dan praktik di lapangan melalui kebun  percontohan  atau demo  farm.

Awalnya,  sistem  budidaya  kopi  dilakukan dengan cara konvensional karena keterbatasan  pengetahuan. Mulai pengelolaan  dan persiapan lahan, perawatan, teknik  memetik  kopi, dan pemasaran. “Masing-masing petani menerapkan cara berbeda, sehingga kualitas kopi yang dihasilkan tidak maksimal dan tidak seragam,” katanya.

Program Manager IDH Sustainable Trade Initiative, Tessa Meulensteen menjelaskan tren pasar kopi dunia saat ini mempertimbangkan aspek kualitas, ketelusuran atau asal usul, dan keberlanjutan tanaman kopi. “Indonesia berpeluang besar untuk meningkatkan mutu kopi berstandar internasional dan keberlanjutan,” ujarnya.

Ia berharap perusahaan lokal di Indonesia turut mengikuti inisiatif serupa untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik yang kian meningkat. Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) sebuah organisasi non profit perkumpulan pelaku pasar dan pemangku kepentingan pengembangan kopi di Indonesia mendukung program Yayasan IDH.

Direktur Utama SCOPI Paramita Mentari Kesuma menilai setelah diintervensi produktifitas naik, biaya budidaya turun, mutu meningkat, dan kelembagaan petani lebih baik. “Petani lebih aktif, ada renegerasi petani muda dan peningkatan peran petani perempuan,” katanya.

Sehingga cocok menjadi contoh dan bisa direplikasi mitra dan anggota SCOPI lain. Paramita melihat terjadi perubahan dari awalnya petani tradisional setelah dilatih dengan basis kurikulum pertanian berkelanjutan yang didesain SCOPI dan anggota, berdampak positif.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini