Harmoni Riyaya Unduh-Unduh

Terakota.id–Sejumlah orang mendorong gerobak dengan berbagai model hiasan menuju halaman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno, Jombang, Jawa Timur Mei 2018 pagi . Gerobak tersebut mengangkut hasil bumi, makanan siap saji, dan binatang ternak.  Suasana hiruk pikuk dan kebersamaan pagi hari itu adalah sebuah pesta.  Pesta untuk merayakan musim panen dan mensyukuri nikmat Tuhan dalam agenda rutin tahunan, yaitu Riyaya Unduh-Unduh.

Pendeta GKJW Mojowarno Wimbo Sancoko mengatakan, Unduh-unduh berasal dari kata mengunduh atau memanen.

“Tradisi Unduh-Unduh merupakan perpaduan antara ajaran Injil dan budaya Jawa. Setiap umat yang mendapatkan kenikmatan atau hasil yang melimpah, di wajibkan memberikan sedikit rizkinya kepada orang yang membutuhkan,” tambahnya.

Hari raya ini menjadi tradisi rutin sejak 1930. Dimana pelaksanaanya jatuh pada musim panen padi, yaitu sekitar bulan Mei.  Namun jauh sebelum munculnya tradisi Riyaya Unduh-Unduh ini, masyarakat setempat telah mengenal Lumbung Pirukunan. Ini adalah sebuah bentuk patungan masyarakat Mojowarno saat hendak mendirikan bangunan GKJW Mojowarno pada tahun 1871.

Lumbung Pirukunan merupakan istilah dari mengumpulkan sumbangan atau persembahan padi dari masyarakat saat panen raya. Kemudian padi di jual dan uang hasil penjualan digunakan untuk pembangunan gereja pada saat itu, yaitu pada tahun 1879. Tercatat, bahwa GKJW Mojowarno merupakan yang tertua di Jawa Timur.

Sejarah panjang inilah  yang membuat tradisi Unduh-Unduh menarik. Tak hanya masyarakat kristen yang turut merayakan riyaya Unduh-Unduh ini, namun masyarakat muslim sekitar juga turut berbaur untuk merayakannya.

Berbagai persembahan dalam Unduh-unduh dihias dengan simbol-simbol Kristen menjadi serupa patung Yesus Kristus, Jalan Salib, dan berbagai bentuk lain. Setelah tiba di gereja, semua persembahan tersebut di doakan dalam Misa Unduh-Unduh, lalu di lelang kepada umat Kristiani dan warga sekitar. Hasil lelang tersebut akan di manfaatkan untuk kebutuhan gereja.

Foto & naskah : Aris Hidayat

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini