Harmoni Balai Kota Malang, Selaras dengan Lingkungan

Balai Kota Malang dibangun setelah Kota Malang ditetapkan sebagai kotamadya oleh pemerintahan kolonial Belanda (Terakota/Aris Hidayat)

Oleh : Tjahjana Indra Kusuma*

Terakota.id-Gedung Balai Kota Malang dan Alun-Alun Tugu atau Alun-Alun Bunder menjadi tetenger yang tak terlupakan. Harmoni rancang bangun sebuah gedung dengan taman atau lingkungannya. Seputaran Tugu dan Balai Kota Malang
(d/h Jans Peiterzoen Coen Plein).

Gedung dirancang arsitek H.F. Horn dari Semarang pada 1929. Sedangkan desain interior ditangani C.Citroen dari Surabaya. Berdasar konsep kebutuhan interaksi keseimbangan antara manusia dan lingkungannya, taman atau kebun bunga adalah solusinya. Taman indah dengan asesorinya; patung dan atau air mancur di sekitar lingkungan. Untuk suatu kota, skalanya besar dengan konsekuensi taman yang luas.

Malang mendapat status Gemeente atau Kota Praja atau Kota Malang pada 1 April 1914. Tertuang dalam Staadsblad Nomor 297 tahun 1914. Pemerintahan kota membuat rencana perluasan kota baru beserta pusat pemerintahannya. Pembangunan pusat pemerintahan baru ini tertuang dalam Bouwplan-II yang ditetapkan 26 April 1920, yang baru dilaksanakan tahun 1922.

Pusat kota ditetapkan berbentuk bundar di tengah daerah pemukiman. Bentuk ini dipilih sebagai pilihan selain bentuk persegi yang terkesan indisch/lokal dan kurang mendapat tempat bagi generasi baru Belanda yang menuju Hindia Belanda di awal 1900-an.

Alun-alun Tugu Malang, salah satu cagar budaya di Kota Malang (Terakota/Zainul Arifin).

Pola bundar pada perencanaan pusat kota lazim digunakan di kota-kota Eropa sejak dulu. Pola pengaturan dalam sistem radial ini berinteraksi langsung juga dengan pengaturan lalu lintas yang menuju satu pusat kota. Solusi terbaik pengurai kepadatan lalu lintas dan sirkulasinya adalah penggunaan sistem ini dengan pusat yang berbentuk bundar.

Walikota Ir. E.A. Voorneman memiliki visi yang jauh kedepan dalam menata pusat kota. Dia berkolaborasi dengan arsitek dan planolog fenomenal di zamannya, Ir. Herman Thomas Karsten dalam membuat perencanaan dan perluasan kota.

Lahirlah sebuah mahakarya kawasan Aloon Aloon Boender (Jan Pieterzoen Coen-plein dan Daendels Boulevard), yang merupakan perpaduan desain gaya Eropa yang menyesuaikan dengan iklim tropis lembab. Mereka sangat detail dalam

Presiden Sukarno usai meresmikan monumen tugu di Alun-alun Bundar Kota Malang. (Foto : Flick).

integrasi perencanaan model dan gaya bangunan serta pemilihan vegetasi yang sesuai.

 

Jan Pieterzoen Coen-plein adalah nama taman luas bundar berair mancur di atas atau ‘gnaro Ngalam’ menamakannya Aloon Aloon Boender. Sekarang bernama jalan Tugu, dengan nama-nama jalan disekitarnya; Van Riebeeck Straat (Jl. Kahuripan), Idenburg Straat (Jl. Suropati), Daendels Boulevard (Jl. Kertanegara), Speelman Straat (Jl. Mojopahit).

Nikmati dan peliharalah, warisan mahakarya ini. Sebuah harmoni yang indah dan membanggakan antara gedung dan lingkungannya.

Selamat Ulang Tahun ke 106 Gementee Malang  (1 APRIL 1914 – 2020)

Malang Nominor Sursum Moveor Malangkucecwara

*Pegiat sejarah Kota Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini