Hari Lahir Pancasila dan Resonansia Karya Leo Kristi

Terakota.id—Hari ini, 1 Juni  seluruh rakyat Indonesia memperingati hari kelahiran Pancasila. Berbagai acara digelar untuk memperingatinya, mulai upacara bendera, diskusi menggali falsafah pancasila maupun atraksi seni dan kebudayaan. Apalagi tahun ini menjadi tonggak sejarah baru, hari kelahiran Pancasila setelah pemerintah menetapkan sebagai hari libur nasional.

Termasuk Terakota.id turut memperingati hari kelahiran pancasila berupa sarasehan, pemutaran film dokumenter dan suguhan seni musik dan tari merespon mendiang musisi Leo Kristi. Acara tertajuk “Resonansia Karya-karya  LEO KRISTI Untuk Indonesia” diselenggarakan  di Komunitas Kalimetro Jalan Joyosuko Metro 42 Merjosari Kota Malang, Kamis, 1 Juni 2017 mulai pukul 14.00 WIB.

Sejumlah seniman dan budayawan akan hadir dalam kegiatan ini. Meliputi budayawan Profesor Djoko Saryono, arkeolog Dwi Cahyono,  sastrawan Yusri Fajar.  Serta sejumlah seniman seperti Swandayani dan Mbak Natalini Widhiasi (Lini), putri Pak Tedja Suminar, penulis lagu Beludru Sutera Dusunku (di album Nyanyian Fajar). Lagu itu diberikan kepada Leo Kristi.

Kami mengundang siapapun untuk hadir dan merespon dengan puisi, gerak, audio visual dari karya-karya Leo Kristi.  Selama ini musisi volk dikenal menyuarakan nasionalisme dan lingkungan. Setiap tampil di depan publik mengenakan pin dengan gambar burung garuda. Pancasila dan Leo Kristi seolah tak bisa dipisahkan.

Nilai dan falsafah Pancasila dituangkan dalam setiap karya musiknya. Sehingga peringatan kelahiran Pancasila ini sekaligus momentum untuk mengenang musisi yang meninggal di Bandung, Jawa Barat, 21 Mei 2017 pada usia 67 tahun.

Djoko Sarjono dalam tulisannya menyebut musisi yang lahir bernama Leo Imam Sukarno sebagai musisi yang menciptakan lagu dengan musik liriknya cerdas dan bernas. Berikut tulisan Djoko Sarjono berjudul “Kontras Musik dan Lirik Leo.”

Baca juga :  Tradisi Unan-unan dan Kisah Toleransi 3 Agama di Tengger Bagian 2

Sedari awal dia senang dengan kontras-kontras: paradoks dan ironi dimainkan begitu tangkas: paralinguistik dan kinesik dipakainya dengan cerdas: secara cendekia ditempatkan pula ambiguitas.

Lantaran kontras membuat beda jelas juga tegas: karena kontras menebalkan segenap batas juga luas: sebab kontras menguatkan autentisitas juga kreativitas. Simak lirik dan musik lagunya dengan cerdas: bakal kalian dapati aneka kontras yang mendamba keseimbangan bernas.

Dalam Lenggang Lenggok Badai Lautku kalian dapati kontras: antara kebahagiaan, keceriaan, kegetiran, kedukaan, dan keteguhan begitu jelas. Dalam Salam dari Desa, kalian temukan kontras: antara kegembiraan, kesukacitaan, kegetiran, kepapaan, kekuatan, dan kebangsaan amat tegas. Dalam Nyanyian Fajar, kalian bakal terguyur kontras: antara keheningan, ketabahan, ketawakalan, kebangkitan, kebahagiaan, dan cinta air sangat deras.

Dalam Sri Kenthir yang riuh warna musikal bakal kalian peroleh kontras: antara kesyukuran, kelepasan, kegilaan, kehormatan, dan ketahanan betapa tandas. Dia memang hidup di antara kontras-kontras: dia bermusik di tengah kontras-kontras: dia telah merumahkan kontras-kontras: dalam corak lirik dan musik yang begitu bernas.

Dia mandi keindahan kontras-kontras:dalam aneka peristiwa hidup yang melintas. Lantaran kontras pertanda gairah trengginas: kendati di dasar hati berpegang pandu selaras.

Acara ini didukung UBTV, Intrans Publishing, LKers, Komunitas Kalimetro, Pelangi Sastra Malang, Gusdurian Malang, Museum Musik Indonesia, Japung Nusantara

Narahubung Redy Eko Prastyo : 0858 5518 6610, Yogi Kalimetro : 0823 34244777

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini