Hari Bumi, Ajinomoto Meluncurkan MSG Kemasan Kertas

Peluncuran Produk Ajinomoto Kemasan Kertas. (Foto: Ajinomoto).
Iklan terakota

Terakota.ID–Produsen bumbu masak, PT Ajinomoto Indonesia meluncurkan MSG kemasan kertas (paper packaging). Peluncuran bertepatan dengan Hari Bumi 22 April 2022. Untuk sementara MSG kemasan kertas, hanya tersedia di lokapasar atau market place dan swalayan. “Kami terus berinovasi dan berkomitmen mengurangi  kemasan plastik,” kata Corporate Planning Director PT Ajinomoto Indonesia, Rina Sukaesih dalam peluncuran secara virtual.

PT Ajinomoto Indonesia, katanya, berupaya mewujudkan tanggung jawab dan komitmen perusahaan dalam melestarikan lingkungan. Selain itu, berusaha mematuhi peraturan pemerintah terkait pengelolaan sampah plastik dan dampak lingkungan demi melestarikan Indonesia hijau.

Brand Manager PT Ajinomoto Indonesia Putri Astriani menjelaskan perusahaan mengambil langkah nyata dalam aksi pelestarian lingkungan. MSG dalam kemasan kertas dapat mengurangi penggunaan plastik hingga 30 persen. “Pabrik PT Ajinomoro Indonesia di Mojokerto berupaya menerapkan zero waste  mengurangi pencemaran lingkungan,” katanya.

Meliputi pengurangan emisi karbon, pengurangan konsumsi air, penerapan Bio-Cycle & Eco-Activity yang menghasilkan co-product seperti Pupuk AJIFOL, AMINA, bahan baku pakan ternak FML, dan peningkatan pengelolaan air limbah supaya ketika disalurkan ke Sungai Brantas kualitas airnya menjadi lebih baik dan bersih.

Selain itu, juga berkomitmen  mendukung pelestarian lingkungan dengan mengurangi penggunaan air hingga 35 persen. Melakukan penghematan melalui peningkatan kualitas air (water treatment) di setiap aktivitas produksi. “Komitmen ini wujud partisipasi mengurangi dampak lingkungan hingga 50 persen pada 2030,” ujarnya.

Sementara Kepala Subdirektorat Tata Laksana Produsen, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ujang Solihin Sidik menjelaskan pemerintah telah mengeluarkan beragam kebijakan dan regulasi untuk pengurangan sampah plastik.  “Pemerintah tak mampu sendiri, produsen harus turut bertanggungjawab,” katanya.

Salah satunya, mendorong produsen bertanggung jawab mengurangi sampah produk, kemasan produk, wadah atau kontainer. Mulai dalam proses desain, produksi, distribusi, ritel, konsumsi, dan pasca konsumsi. Dengan menangani limbah proses produksi yang dihasilkan. Melalui implementasi pengelolaan sampah terpadu mulai hulu hingga hilir dengan pendekatan full life cycle dari plastik.

Sesuai Undang-undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah Oleh Produsen atau Extended Producer Responsibility (EPR), produsen harus mengirimkan dokumen perencanaan pengurangan sampah. Tujuan mencapai target produsen mengurangi sampah hingga sebesar 30 persen dibandingkan timbulan sampah.

“Kepatuhan relatif rendah. Target tahun ini 100 produsen segera kirim dokumen peta jalan,” katanya. Namun, untuk tahap awal tak ada sanksi. Sampah plastik, kata Ujang, menjadi persoalan global. Data The World Bank 2021, Indonesia menghasilkan sekitar 7,8 juta ton sampah plastik setiap tahun. Sebanyak 4,9 juta ton sampah plastik tidak dikelola dengan tepat.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini