Hadiah dari Malang untuk Indonesia

Oleh : Raymond Valiant*

Terakota.id–Humor adalah sebuah sumber energi. Melalui humor, manusia dapat tertawa, melepas ketegangan dan meringankan beban jiwa. Maka, tertawa sebenarnya adalah unsur yang sangat manusiawi. Penelitian menunjukkan primata semacam kera dan monyet bisa mengekspresikan rasa senang, tetapi mereka tidak tertawa.

Oleh karena itu, bekerja sebagai pelawak – yang membuat orang tertawa – adalah pekerjaan yang mulia.

Sebagai bagian dari Republik Indonesia, ternyata Malang telah menyumbangkan banyak pelawak untuk menghibur dan mengusir kemuraman hidup. Sebutlah beberapa nama penting, seperti Didik Mangkuprodjo (kelahiran 1938), Tarzan alias Toto Muryadi (1946), Nurbuat (1949), Topan alias Muhammad Sugianto (1956), Leysus alias Sugeng Winarso (1959-2006) dan tak ketinggalan grup lawak terkenal Kwartet S.

Kwartet S didirikan oleh Djatikusumo (kelahiran 1945) mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, yang saat itu bekerja di Kantor Pembinaan Kebudayaan Kota Malang bersama rekan sefakultasnya Bambang Sumantri (1945), Bagio Kusno (1945) mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya dan Djokoadjisworo (1940) pegawai Jawatan Penerangan Kota Malang. Mereka memulai karir dengan memenangkan Lombak Lawak se-Jawa Timur di Surabaya, Pebruari 1972.

Kwartet ini bahkan sempat diramaikan kehadiran Soenardjo, pegawai Badan Penerangan Kabupaten Blitar. Oleh kesibukannya mundur tahun 1973. Kelak dia menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur (2003-2008) dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jawa Timur dari Partai Golongan Karya. Anggota kwartet ini memang beberapa kali berganti formasi.

Keunikan Malang dalam menyumbang pelawak untuk Indonesia, boleh jadi berangkat dari kultur masyarakat di kawasan ini. Kecenderungan untuk berlaku setara (egaliter) dan bicara apa adanya, menjadi sumber inspirasi dari mereka untuk menggelitik syaraf geli dari pemirsanya.

Sebagian besar pelawak asal Malang memang berangkat dari latar belakang seni-budaya yang merakyat.

Nurbuat misalnya, memulai karirnya setelah lulus Sekolah Menengah Ekonomi Atas. Pada tahun 1970, dia masuk grup kesenian di Malang, bernama Anoraga. Mula-mula jadi figuran. Setelah setahun dia mulai dipercaya melawak. Kariernya mulai naik ketika ditarik masuk Ludruk Wijaya Kusuma II, sebuah grup yang lebih besar. Hingga akhirnya direkrut Grup Komedi Srimulat yang terkenal.

Pelawak Tarzan juga dibesarkan dari panggung tradisional seperti ludruk. Dia bergabung dengan grup lawak Lokakarya tahun 1967, sebelum masuk Grup Komedi Srimulat pada Mei 1979. Dengan postur tubuh yang tergolong tinggi besar, di panggung Srimulat dia kerap memerankan profil kalangan atas seperti majikan, pejabat, atau bahkan jenderal.

Pelawak Tarzan. (Foto : Okezone.com).

Didik Mangkuprojo yang pernah menjadi guru di Jember ini, memilih menjadi seniman panggung tradisi tahun 1970 bersama grup sandiwara keliling sebelum masuk Srimulat tahun 1978 hingga 1990. Dia sempat menjadi dedengkot pelawak Grup Srimulat di Surabaya.

Seperti halnya Didik, pelawak Leysus yang lahir di Kepanjen, awalnya juga berkarier sebagai seorang guru. Karir melawaknya dirintis di dunia komedi tradisional, yakni di Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung. Dia terjun ke dunia lawak lebih dulu, sebelum saudaranya, Topan menyusulnya pada tahun 1992.

Selain kultur yang mendukung, para pelawak adalah mereka yang dikaruniai kecerdasan verbal dan emosional. Humor tidak sebatas membawa orang tertawa, namun pada pelawak yang berkualitas, merupakan sarana pencerahan.

Pelawak Didik Mangkuprodjo. (Foto : Orenya.com).

Boleh jadi kita harus belajar dari filsuf bernama Erasmus (1466-1536) yang menyodorkan sastra jenaka namun dengan cerdik melawan dogma-dogma yang dianggapnya mengekang manusia. Humor ketika itu, menjadi senjata ampuh untuk membebaskan manusia dari degradasi Abad Kegelapan. Erasmus tentu bukan pelawak, tapi situasi yang dihadapi lebih kurang sama.

Sangat tidak tepat kalau ada yang mengartikan humor sebagai sekadar lucu-lucuan atau badut-badutan, sehingga para pelawak tugasnya adalah saling mengejek, menghina, menyindir agar orang tertawa. Televisi kita ditaburi “pelawak” yang berkedok pembawa acara, moderator atau penyaji parodi. Mereka berusaha melucu namun justru melecehkan akal dan tidak mencerahkan. Cela-celaan, yang mendapat rating tinggi, karena kita terlanjur dikondisikan untuk menertawakan sesuatu yang tidak lucu.

*Penikmat karya sastra dan Direktur Utama Perum Jasa Tirta

 

 

Tinggalkan Pesan