Gus Dur Syi’ir Tanpo Waton : The Untold Story  

gus-dur-syiir-tanpo-waton-the-untold-story
Tradisi berdialektika ditanamkan dalam keluarga KH.Wahid Hasyim. Perbedaan pandangan tak menyebabkan renggangnya persaudaraan. (Foto : Kompas.com).

Terakota.id-Di tahun 2010, kolegaku memutar Syi’ir Tanpo Waton (STW) di salah satu ruang jurusan Fakultas Ushuluddin IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten (sekarang UIN).

Aku coba bertanya: “Suara siapa itu?”

“Suara Gus Dur”

“Itu bukan suara Gus Dur” sergahku

“Ini suara Gus Dur” jawab kolegaku dengan sedikit ngotot.

Aku tidak ingin berdebat lebih jauh. Pada waktu itu yang terlintas dalam benakku adalah membiarkan sang waktu yang akan mengungkap suara siapa sebenarnya yang melantunkan STW itu. Tidak hanya kolegaku yang bersikeras menganggap bahwa pelantun STW itu adalah Gus Dur. Berdasarkan cerita yang kudengar dan berita yang kubaca, banyak orang yang tetap ngeyel menyatakan bahwa suara itu adalah milik Gus Dur meski sudah diberitahu bahwa itu bukanlah suara Gus Dur.

Bagiku, tidaklah sulit untuk mengenali suara pelantun STW yang menurut banyak orang sangat mirip dengan suara Gus Dur. Tidak sulit, karena aku sudah mengenal pemilik suara itu sejak kecil dan juga aku sempat menyaksikan langsung proses aransemen lirik STW. Begitu juga keluarga Gus Dur, aku yakin, mereka tidak akan kesulitan untuk menilai bahwa pelantun STW bukanlah Gus Dur.

Adalah Gus Nizam, pengasuh ponpes Ahlus Shafa wal Wafa yang menciptakan dan melantukan STW itu di sekitar tahun 2005 jauh sebelum Gus Dur wafat. STW yang beredar luas di masyarakat itu merupakan rekaman suara Gus Nizam dan jamaahnya yang biasa melantunkan syiir tersebut setelah pengajian kitab Jami’ al-Usul fi al-Awliya’ karya Ahmad Dhiya’ al-Din al-Kumuskhanawi dan al-Fath al-Rabbani wa Faidh al-Rahmani Karya Shaikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani pada Rabu malam di pesantren Ahlus Shafa wal Wafa yang pada waktu masih bertempat di Tanggul Wonoayu Sidoarjo.

Pada tahun 2009 menjelang pemilihan legislatif, Imam Nahrawi (menpora sekarang) sowan ke Gus Nizam. Pada waktu itu, pesantren Ahlus Shafa wal Wafa sudah pindah ke Simoketawang Wonoayu Sidoarjo. Kepada Gus Nizam, Imam Nahrawi meminta izin untuk menyebarkan STW dan mengatakan kepada masyarakat bahwa itu adalah syiir Gus Dur.

Sejak saat itu, STW semakin dikenal oleh masyarakat luas khususnya wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bahkan Radio Yasmara yang berlokasi di Kembang Kuning Surabaya sampai saat ini masih memutar STW menjelang waktu salat tiba dan direlay oleh banyak masjid dan mushalla di Jawa Timur.

Sebelum STW dipatenkan hak ciptanya oleh jamaah Pesantren Ahlus Shafa wal Wafa, banyak orang yang bertanya-tanya suara siapakah yang melantunkan STW? Gus Dur ataukah orang lain? Keluarga dan orang-orang terdekat Gus Dur juga dibuat penasaran. Keluarga Gus Dur sendiri ragu bahwa pelantun STW itu adalah Gus Dur.

Inayah Wahid, anak bungsu Gus Dur, menyatakan kalau dilihat liriknya: “akeh kang apal Quran Hadise seneng ngafirke marang liyane” (banyak yang hafal Alquran dan Hadis tetapi masih suka mengkafirkan orang lain) dia yakin itu adalah ajaran Gus Dur. Keluarga Gus Dur sebelum bertemu dengan Gus Nizam sangat penasaran, siapakah sebenarnya pemilik suara itu.

“Oalah … Sampean ta Gus” begitu ungkapan yang disampaikan oleh Ibu Sinta ketika pertama kali berjumpa dengan Gus Nizam yang menggambarkan rasa penasaran Ibu Sinta telah terobati.

gus-dur-syiir-tanpo-waton-the-untold-story
Salah satu poster yang diproduksi Gusdurian untuk kampanye di media sosial.

Sastro al-Ngatawi, asisten pribadi Gus Dur, juga meragukan bahwa pelantun STW adalah Gus Dur. Menurut al-Ngatawi, Gus Dur tidak mempunyai paduan suara sebagaimana yang terdengar dalam lantunan STW.

Salah seorang kyai di Malang ketika berceramah menyatakan bahwa lantunan STW itu adalah suara Gus Dur muda. Dia bahkan menganggap bahwa Gus Nizam hanyalah orang yang mengaku-ngaku pemilik suara STW.

Konon, Cak Nun pernah bertemu Gus Dur (dalam mimpi?). Gus Dur berpesan kepada Cak Nun untuk memberi tahu kepada orang-orang bahwa pelantun STW itu bukanlah dirinya dan STW itu adalah karangan Kyai Sahlan. Sampai saat ini, mungkin Cak Nun masih belum mengakui bahwa STW adalah karya Gus Nizam. Di suatu kesempatan lain, setelah STW dipatenkan oleh Jamaah Pesantren Ahlus Shafa Wal Wafa, Cak Nun berkata: “STW itu insya Allah karya Kyai Sahlan Krian.”

Dengan menggunakan kata insya Allah, Cak Nun kelihatan tidak haqqul yakin dengan pendapatnya sendiri. Tersirat keraguan dalam pendapatnya. Sebelumnya, Cak Nun secara tegas menyatakan bahwa STW bukanlah karya Gus Nizam. Kata insya Allah lebih pas dipakai untuk menyatakan sesuatu yang akan/belum terjadi.

Jika memang benar Gus Dur pernah berpesan kepada Cak Nun dan mengatakan bahwa STW itu adalah karya KH. Sahlan Tolib maka menurutku takwilnya sebagai berikut: Gus Dur ingin menyampaikan ada keberkahan dari KH. Sahlan Tolib kepada Gus Nizam sebagai pencipta dan pelantun STW. Hj. Siti Maryam sewaktu mengandung Gus Nizam pernah bermimpi bertemu KH. Sahlan Tolib yang pada waktu itu sudah meninggal. Dalam mimpi tersebut, KH. Sahlan meminta Hj. Siti Maryam untuk menggendong dirinya.

Sesuatu yang dianggap benar ternyata bisa salah dan sebaliknya sesuatu yang dianggap salah ternyata bisa merupakan suatu kebenaran. Ada yang menganggap bahwa lantunan STW itu adalah suara Gus Dur padahal bukan. Ada yang menganggap STW bukan karya Gus Nizam padahal iya. Pro dan kontra terhadap STW ini mengingatkan kita pada salah satu doa yang diajarkan Nabi Saw. Doa itu adalah:

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقَّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ وَلاَ تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلُّ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu memang benar dan kurniakanlah kami kekuatan untuk mengikutinya dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu memang batil dan kurniakanlah kami kekuatan untuk menjauhinya. Jangan jadikan kebatilan itu samar-samar bagi kami, yang akan menyebabkan kami sesat. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.

Kandungan STW sendiri sarat dengan ajaran Tasawuf. Tema-tema yang diangkat dalam STW merupakan pokok-pokok ajaran Tasawuf. mulai dari kejernihan hati, qana’ah, riyadlah (suluk), syariat, tarekat, hakikat dan makrifat.

Tidak bisa dipungkiri, STW bisa bisa menyebar dengan cepat di berbagai daerah khususnya pulau Jawa karena limpahan berkah Gus Dur. Syeikh Muhammad Nazim al-Haqqani, mursyid Tarekat Naqsyabandiyah al-Haqqani, pernah ditanya oleh seseorang tentang kewalian Gus Dur. Apakah Gus Dur itu seorang wali atau bukan. Syeikh Nadzim tidak menjawab secara tegas tetapi memberi isyarat. “Lihatlah setelah Gus Dur meninggal”

Setelah Gus Dur meninggal, makamnya selalu ramai dikunjungi banyak orang. Bahkan komunitas non-Muslim juga ikut berziarah ke makam Gus Dur. Belum pernah aku menjumpai makam ulama pasca Walisongo yang begitu sering diziarahi seperti makam Gus Dur. Tidaklah berlebihan kalau Gus Dur disebut sebagai wali kesepuluh.

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (QS 3:169)

Alquran menegaskan bahwa orang yang meninggal di jalan Allah itu tidak mati tetapi mereka hidup dan diberi rizki. Gus Dur tidak hanya hidup tetapi juga menghidupi banyak orang. Tidak hanya diberi rizki oleh Allah tetapi juga berbagi rizki dengan orang lain. Makam Gus Dur yang ramai dikunjungi peziarah telah menjadi wisata religi yang turut membantu tumbuhnya perekonomian warga sekitar. Pedagang kaki lima mulai bermunculan semenjak makam Gus Dur ramai dikunjungi orang pada 2009.

Kotak amal di makam Gus Dur setiap bulan menghasilkan kurang lebih 200 juta, bahkan pada bulan-bulan libur sekolah dan menjelang Ramadan, nilai infak yang terkumpul dari kotak amal makam Gus Dur mencapai Rp 250 juta.

Dana ini dikelola oleh Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) sepenuhnya untuk berbagai kegiatan sosial. Tidak hanya itu, nada sambung pribadi (NSP) STW Telkomsel yang lekat dengan nama Gus Dur setiap bulannya menyumbang rupiah ke PBNU yang nominalnya tidak kalah besar dengan kotak amal di makam Gus Dur.

Sebagaimana sabda Nabi Saw, manusia yang paling baik adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Meski jasad Gus Dur telah bersemayam di pesarean, tetapi beliau terus memberi manfaat kepada orang lain. Lahu al-Fatihah.

Serang, 18 Agustus 2019

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini