Guruh Soekarno Putra Risau, Semangat Nasionalisme Luruh

Guruh Soekarno Putra mengajak para seniman untuk berkiprah sesuai bidangnya. Seperti membuat lagu, film, seni tari khusus untuk anak-anak untuk menggelorakan semangat nasionalisme. Sejauh ini, Guruh telah menciptakan lagu dan koreografi dengan semangat kecintaan terhadap Indonesia.

Terakota.id–Guruh Soekarno Putra bercita-cita membuat sebuah film animasi dengan ilustrasi music khusus untuk anak-anak. Keinginan Guruh disampaikan di Museum Musik Indonesia (MMI), Gedung Kesenian Gajayana Kota Malang.  Lantaran selama ini tak banyak film dan lagu-lagu khusus anak, sehingga anak-anak harus mengonsumsi film dan lagu orang dewasa.

Lagu dan film itu, dianggap tak layak dikonsumsi anak-anak . Lagu dan film animasi anak-anak diharapkan juga menggelorakan semangat kebangsaan. Menyusul semakin memudar kepedulian dan kecintaan terhadap bangsa dan Negara. “Saya bertemu banyak pelajar yang tak mengetahui lagu daerah,” katanya kepada Terakota.id, usai jumpa pers di MMI, Kamis 30 November 2017.

Untuk itu, dia mengajak para seniman untuk berkiprah sesuai bidangnya. Seperti membuat lagu, film, seni tari khusus untuk anak-anak untuk menggelorakan semangat nasionalisme. Sejauh ini, Guruh telah menciptakan lagu dan koreografi dengan semangat kecintaan terhadap Indonesia.

“Mencipta itu bagian dari spiritual. Tiba-tiba muncul,” katanya. Secara filosofi hidup, kataya, berkarya merupakan bagian spiritual dan ibadah. Guruh menjelaskan secara religi, agama merupakan bagian dari spiritual dan kebudayaan. Agama, katanya, selain ada ritual spiritual juga ada distribusi kebudayaan.

Seperti lagu misteri mimpi yang dinyanyikan Harvey Malaiholo merupakan lagu spiritual yang diciptakannya. Termasuk lagu berjudul damai, yang merupakan salah satu lagu di dalam album Guruh Gypsi yang diproduksi 1975. Album diedarkan 1976 ini merupakan bagian spiritual dan perjuangan yang disampaikan melalui lirik lagu.

Sementara dalam lagu janger, Guruh menyampaikan kritik terhadap rezim Orde Baru dalam mengeksploitasi pariwisata di Bali. Lahan pertanian dan pantai dijual kepada investor. Alam dieksploitasi habis-habisan.

“Boleh saja bersikap selalu ramah-tamah, bukanlah berarti bangsa kita murah. Kalau kawan tak berhati-hati bisa punah budaya asli. Kalau punah budaya asli harga diri tak ada lagi harga diri, tak ada lagi maka tak dapat berbangga hati,” kata Guruh menirukan lirik lagu Janger.

Baca juga :  Kawiwahan dalam Sejarah  Budaya Jawa : Doa Pengharapan Keabadian Nikah

Menurutnya, saat ini Bali tengah compang-camping. Industri pariwisata telah mengekploitasi alam dan budaya habis-habisan. “Bali seperti gadis cantik tapi di-make up dan operasi. Gara-gara rezim Orde Baru Bali menjadi compang-camping.”

Memperingati ulang tahun MMI ke 2, Guruh Soekarno Putra bakal menggelar konser “Aku Indonesia” di gedung Kesenian Gajayana Malang, Sabtu 2 Desember 2017. Mengapresiasi MMI yang merupakan satu-satunya museum musik di tanah air. Seharusnya, museum serupa dengan berbagai bidang juga harus dibangun di Indonesia. Meliputi museum film, seni tari, seni rupa, otomotif, busana dan lain sebagainya.

Guruh Soekarno Putra berfoto bersama pengurus Museum Musik Indonesia. (Terakota/Eko Widianto).

“Saya turut perjuangkan MMI. Menyumbangkan karya dan memorabilia,” ujarnya.  Dia berharap MMI semakin besar dan koleksi semakin lengkap dengan genre lagu yang beragam. MMI, katanya, semacam perpustakaan yang tak hanya mengoleksi buku, tetapi juga hasil rekaman audio, gambar, dan video.

Ketua MMI, Hengki Herwanto menjelaskan konser Aku Indonesia akan menggelorakan semangat kebangsaan. Diantaranya dengan menyajikan beragam instrumen musik tradisional nusantara koleksi MMI. Total sebanyak 70 instrumen tradisional yang dikumpulkan dari dari beragam daerah.

“Musik tradisional membuka konser Aku Indonesia,” ujarnya. Dilanjutkan penampilan sejumlah penampilan para musisi dan seniman asal Malang antara lain Wiwie GV Project, One Man Band, Nova Sinden and Friends dan Budi Ayuga Dancer. Ditutup dengan penampilan KInarya GSP dan Bala GSP.

Hengki menyebutkan MMI memiliki sebanyak 21 ribu item koleksi terdiri dari kaset, piringan hitam, majalah, instrumen musik, poster, tiket dan alat pemutar piringan hitam. 80 persen diantaranya merupakan kaset dan piringan hitam. Koleksi MMI terlawas merupakan piringan hitam produksi 1923 dan piringan produksi studio rekaman pertama Lokananta 1965.

“Sebanyak 14 ribu lagu yang disalin dalam bentuk digitali dari total 180 ribu judul lagu.” MMI berdiri 2016, sebelumnya bernama Galeri Malang Bernyanyi sejak 8 Agustus 2009.

Baca juga :  Rekonstruksi Sejarah dan Demokrasi di Papua

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here