Gunung Semeru Merdeka dari Sampah

gunung-semeru-merdeka-dari-sampah
Gunung Semeru dilihat dari Desa Burno, Senduro, Lumajang. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id–Tidak ada deretan tenda pendaki di kawasan Gunung Semeru. Tidak ada pula pengibaran bendera merah putih di Mahameru. Ritual yang biasanya digelar para pendaki untuk peringatan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus.

Agustus kali ini, Gunung Semeru turut merdeka dari aktivitas wisata dan pendakian. Terhindar dari potensi tumpukan sampah yang dihasilkan para pendaki. Sehingga gunung tertinggi di pulau Jawa ini leluasa memulihkan ekosistem secara alamiah dengan maksimal.

Gunung Semeru sebenarnya tutup untuk kegiatan pendakian sejak peristiwa kebakaran hutan dan lahan pada September 2019. Pandemi Covid-19 membuat Semeru beristirahat lebih panjang. Termasuk belum dibuka untuk pendakian pada Agustus ini.

“Iya, bisa dikatakan pemulihan ekosistem total,” kata Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Balai Besar TNBTS, Sarif Hidayat, awal pekan lalu.

Salah satu puncak keramaian pendaki biasanya ada pada Agustus. Bertepatan dengan perayaan kemerdekaan. Biasanya, Gunung Semeru dijejali pendaki yang mengikuti upacara bendera.

Data BB TNBTS, pada Agustus 2019 lalu tercatat ada 21.731 pengunjung. Dengan 21.079 wisatawan nusantara dan 652 wisatawan mancanegara. Setiap pendaki diasumsikan menghasilkan sampah sebanyak 0,55 kilogram setiap harinya.

gunung-semeru-merdeka-dari-sampah
Para pendaki tengah beristirahat untuk melanjutkan pendakian ke Puncak Mahameru. (Terakota/ Abdul Malik).

Di momen 17 Agustus, otoritas taman nasional biasanya memberi kuota izin pendakian sebanyak 600 orang per hari. Bila dihitung izin pendakian selama tiga hari, maka saat peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ada 1.800 orang di Gunung Semeru.

Dengan pendaki sebanyak itu, maka potensi sampah yang dihasilkan mencapai 990 kilogram atau nyaris 1 ton dalam waktu tiga hari saja. Alhasil, ditutupnya pendakian pada Agustus ini turut menghentikan potensi pencemaran lingkungan.

“Itu kalau pendakian dibuka dan kuota terpenuhi. Tapi sekarang kan tutup,” ujar Sarif.

Di pos perizinan, petugas taman nasional selalu menghitung barang bawaan pendaki. Serta mewajibkan pendaki mengangkut sampahnya turun. Tapi belum tentu setiap pendaki punya pemahaman konservasi. “Pokoknya, selama pandemi ini wisata pendakian masih ditutup,” ujar

Selain Semeru, kawasan Gunung Bromo juga belum dibuka untuk kunjungan wisatawan. Otoritas taman nasional masih menunggu rekomendasi tertulis dari empat kepala daerah yakni Bupati Lumajang, Kabupaten Malang, Probolinggo dan Pasuruan. Sebagai syarat Bromo bisa dibuka lagi bagi wisatawan.

Itu sesuai hasil saat rapat koordinasi pertengahan Juli silam. Bahwa wisata Bromo bisa dibuka lagi bila keempat daerah selaku pintuk masuk sudah jadi zona kuning. Sejauh ini surat rekomendasi yang sudah keluar baru dari Bupati Probolinggo.

“Kami masih menunggu rekomendasi dari tiga kepala daerah lainnya,” ujar Sarif.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini